Takdir

Dua perempuan Satu dapur

Dari seluruh bagian rumah yang ada, dapurlah yang menurut saya memiliki kriteria yang tidak berbahaya untuk urusan berinteraksi dengan penghuni lainnya, mengingat pengalaman saya selama ini yang aman tentram sejahtera.

Sepanjang pengalaman saya berinteraksi dengan dapur dan penghuninya, yang hanya dua kali, yaitu di rumah dan saat berkemah bersama teman-teman semasa SMA, nyaris tidak ada cerita yang bisa disebut istimewa. Hal ini mungkin karena yang pertama masuk dalam wilayah kekuasaan sendiri sedangkan yang kedua walaupun masuk dalam kategori yurisdiksi orang banyak, kondisinya cukup semrawut akibat ketidakjelasan apakah tempat itu bisa dikategorikan sebagai dapur.

Sehingga ketika saya memutuskan untuk kost, maka dari semua kriteria yang ada, dapur masuk dalam kriteria bagian yang tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan friksi. Hingga ketika saya bersenggolan dengan peristiwa yang mampu memutarbalikkan premis saya tadi.

Semua ini berawal saat salah satu penghuni di lantai 2, mendadak terserang penyakit gemar memasak. Sebenarnya sih kegemaran mendadaknya itu sah-sah saja, asal berlangsung dengan aman tentram. Namun, sejak beliau memiliki hobby baru, entah kenapa dapur dan seisinya mengalami perubahan 180 derajat.

Lemari es otomatis mendadak menjadi susah ditutup, karena kotak-kotak makanan dengan label nama si penghuni kamar malang-melintang menempati entah ‘freezer’ atau area pendingin lainnya.

Tempat minyak bekas menggoreng saya mendadak setiap saat penuh dengan minyak. Kejadian yang membuat saya terheran-heran, mengapa isinya tidak pernah berkurang, sementara frekuensi saya menggoreng tidak pernah berkurang saat itu. Saya sampai berpikir jangan-jangan ada penghuni berbaju putih yang melayang-layang iseng memindahkan isi minyak goreng milik orang lain ke dalam wadah saya.

Belum lagi nanti ada nasi putih lengkap dengan ayam atau tahu atau tempe goreng terhidang di meja makan tanpa kejelasan pemiliknya. Atau wajan bekas menggoreng yang teronggok dengan manisnya di atas kompor lengkap dengan minyak sisa menggoreng.

Bahkan pernah suatu hari disertai dengan asbak beserta pernak-perniknya bertengger dengan nyamannya di sudut dekat tempat mencuci piring.

Tetapi yang membuat saya terpaksa harus memendam perasaan adalah kegemaran beliau melakukan ritual memasaknya yang selalu harus disertai para dayang-dayangnya. Ritual yang berakibat penuhnya dapur mungil tempat berlangsungnya kegemaran memasak beliau.

Hingga di suatu pagi, hati tempat saya memendam perasaan sudah tidak mampu lagi menampung kekesalan saya ketika melihat kotak-kotak makanan dengan penanda si empunya kamar mendadak memenuhi isi ‘freezer’ dan menendang kotak makanan penghuni lainnya ke sudut lainnya dengan semena-mena. Dan lebih tragisnya lagi, sebuah t-shirt pun kali ini dengan tenangnya ‘nangkring’ di kursi meja makan nan mungil itu.

Seperti halnya gunung berapi yang memerlukan jalan untuk memuntahkan lavanya, saya pun mencari sasaran empuk untuk memuntahkan segala unek-unek saya. Sialnya lagi, saat itu yang ada di depan mata adalah si pengurus rumah tangga. Mengingat semua delik aduan harus dicatatkan ke pengurus rumah tangga, saya pun melaporkan setiap kejadian dengan rinci tanpa peduli si penerima aduan mampu mencerna dengan baik atau tidak, sambil membereskan isi lemari es agar kembali resik dan memiliki ruang lebih bagi para penghuni lainnya.

Entah khawatir saya akan meneruskan delik aduan ini ke si pemilik rumah kost, si pengurus rumah tangga pun menyampaikan kekesalan saya kepada si penghuni kamar yang memiliki hobby baru. Penyampaian yang tepat karena si penghuni kamar itu merasa perlu menyampaikan alibinya kepada saya disertai dayangnya.

Rasanya saat itu, adegan ketika si penghuni kamar menyampaikan alibinya persis seperti adegan film Indonesia tahun 80-an dimana dua perempuan bertengkar memperebutkan suami atau pacar mereka, minus adegan menjambak rambut tentunya.

Tidak ada fakta yang tidak memiliki bantahan. Ketika saya menyampaikan betapa pentingnya kita menjaga barang yang menjadi milik bersama, bantahannya adalah itu urusan si pemilik kost, tanpa dia sadar kalau lemari es itu rusak maka semua akan menderita.

Fakta versus bantahan lainnya, yang berujung kalimat penutup si penghuni bahwa ia memiliki peraturan sendiri, jika saya tidak suka silakan tinggal di apartemen.

Untung kemudian saya mendadak teringat pesan ibu saya, ‘Perempuan yang terdidik itu dilihat dari tindak-tanduknya, caranya berkomunikasi dan tahu persis kapan harus berhenti saat diskusi tidak dapat dilakukan agar tidak menjadi kampungan,’ Pesan yang membuat saya mengiyakan saja kalimat si penghuni yang memiliki kegemaran baru dan meninggalkannya bersama dayang tercintanya.

Jadi, pembelajaran apa yang saya terima dari kejadian ini ?

Pertama, betapa pentingnya untuk tetap menyuarakan kebenaran walaupun tidak populer. Dan betapa pentingnya untuk sadar dan berhenti menyadarkan seseorang yang tidak memiliki kepekaan yang sama.

Kedua, uang sewa yang mahal dari rumah kost dan betapapun modernnya rumah kost tersebut tetap saja tidak menjamin bahwa penghuninya memiliki tingkat kepedulian yang lebih tinggi.

Believe It or Not – Takdir Menyatukan Kita

Dari sekian banyak kebetulan yang ada, tidak ada satupun yang dirancang oleh manusia. Disadari atau tidak, semuanya berada dalam garis rancangan Tuhan.

Boleh percaya atau tidak, tapi inilah yang terjadi saat saya memilih kamar kost tempat saya bertempat-tinggal hingga hari ini.

Bermula dari keinginan untuk melakukan ‘incognito’ suasana kost di siang hari, saya, si sulung dan sepupu saya mendadak memutuskan meninjau rumah kost pilihan hati sekalian menentukan kamar yang akan dihuni selama si bungsu bersekolah.

Seusai menjelaskan keinginan saya melihat kamar, si pengurus rumah tangga berbaik hati menunjukkan kamar-kamar kosong yang kebetulan berada di lantai dua.

Jadilah kami bertiga melakukan tour de kamar – bagi saya tour de kamar ini merupakan tour de kamar yang kedua kalinya, setelah sebelumnya saya melakukan peninjauan sesaat bersama si bungsu.

Saat itu penghuni kost belumlah sebanyak saat saya masuk, penghuninya masih bisa dihitung dengan jari, sehingga kami beritga dengan bebas berkeliaran melihat-lihat kamar yang akan menjadi pilihan.

Entah kenapa saat itu, si pengurus rumah tidak menunjukkan contoh kamar di lantai satu,  dia tetap dengan pilihannya, sibuk menunjukkan beberapa plihan kamar di lantai dua.

Setelah keluar-masuk beberapa kamar, dari kamar di ujung dekat tangga hingga kamar terakhir dekat dapur, pilihan saya akhirnya jatuh di kamar yang letaknya tidak jauh dari tangga.  Alasannya sederhana, supaya tidak terlalu lelah ketika pulang kantor – maklum naik tangga terakhir hanya dilakukan ketika SMA.

Tetapi, bukan saya namanya kalau tidak dilanda keraguan, apalagi suasana kamar di lantai satu dengan teras yang menyatu dengan rerumputan hijau dan tanaman lainnya begitu menggoda.

Jadilah saya terombang-ambing antara pilihan kamar di lantai bawah atau di lantai atas, antara teras yang menyatu dengan taman kecil versus balkon dengan pemandangan gedung-gedung bertingkat dan hijaunya pepohonan (maklum di sebelah Residence ini belum ada bangunannya, sehingga tidak ada penghalangnya – entah nanti).

Setelah menimbang kiri –  kanan, antara tingkat kelelahan versus kecepatan mencapai halaman, antara teras dengan halaman kecil versus balkon dengan pemandangan luas, ahirnya saya memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke pemilik rumah.

Isinya, saya ingin kamar yang dekat dengan router Wifi, alasannya sederhana agar kenikmatan menjelajah dunia maya tidak terganggu – dengan embel-embel urutan kamar kalau bisa berada di urutan tengah, terlepas di lantai satu atau lantai dua.

Terus terang ketika saya mengirimkan pesan tersebut, saya berharap si pemilik rumah menjawab bahwa kamar yang saya inginkan ada di lantai satu – walaupun saya tahu si bungsu berkeras memilih kamar di lantai dua karena jatuh cinta dengan pemandangan tak terbatas dari kamar.

Namun seperti kata pepatah, ‘Manusia berencana, Tuhan yang menentukan’, begitulah yang terjadi dengan pilihan kamar yang tersedia. Menurut si empunya pemilik rumah, kamar yang letaknya dekat dengan router Wifi ada di lantai dua dan kamar itu pun letaknya tidak jauh dari tangga, ada di urutan kedua setelah sampai di puncak anak tangga. Kamar yang ada di lantai satu masih ada, tapi letaknya agak jauh dari router Wifi di samping agak di ujung dekat dapur.

Apa boleh buat, Tuhan yang menentukan, dan si bungsu pun bersorak gembira, kamar yang diidamkannya sesuai dengan pilihannya, dekat dengan router Wifi dengan pemandangan tak terbatas.

Dan ternyata dibalik pilihan Tuhan tadi, ternyata ada hikmahnya tersendiri.

Percaya atau tidak, seperti sudah direncanakan, para penghuni lantai dua hampir semuanya hobby memasak, baik si Perancis – oh ya, penghuni lantai dua ini multi bangsa – si Spanyol maupun si Indonesia.

Dapurnya pun entah kenapa berbeda dengan dapur di lantai satu, dapur di lantai dua seolah-olah sudah dirancang sedemikian rupa agar bau masakan yang beraneka ragam bisa dengan mudah ditiup angin – dengan dua jendela serta pintu yang mengarah ke area terbuka, benar-benar sempurna.

Dapur di lantai dua pun menjadi ajang para penghuninya bercengkerama, saling bertukar-cerita, menyapa, atau berdiskusi tentang apa saja – dari yang ringan dan lucu hingga yang serius.

Kami pun – para penghuni lantai dua – sering membandingkan keberadaan kita semua dengan penghuni lantai satu dan tentu saja menyatakan keheranan yang tidak ada habisnya, ‘koq bisa ya, semua yang hobby memasak bisa disatukan di lantai dua ?’

Believe it or Not ….