rumah kost

Rak Sepatu ala Penghuni Rumah Kost Modern – Residence

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang Barisan Alas Kaki di rumah kost modern – residence, yang saya huni. Barisan alas kaki yang entah kenapa hanya bisa ditemui di lantai atas, sementara di lantai bawah, jangankan bentuknya, jejaknya saja pun tidak terlihat.

Saya mencoba untuk mencari alasan yang masuk akal, tapi hingga saya menulis postingan ini, tetap saja tidak berhasil menemukan alasan yang tepat.

Alasan pertama, penghuni lantai bawah kebanyakan orang asing, ternyata tidak juga, komposisi orang asing antara penghuni lantah bawah dan atas sama.  Alasan kedua, penghuni lantai bawah secara status sosial ekonomi lebih ‘tinggi’, juga tidak, wong sewa kamarnya saja sama, bahkan penghuni kamar di lantai atas, ada yang membawa 2 mobil.

Hingga akhirnya saya berkesimpulan,  jika melihat rumah-rumah orang Indonesia pada umumnya,  maka pasti berparadelah para barisan alas kaki  ini adalah semata budaya atau kebiasaan. Orang Indonesia pada umumnya terbiasa menanggalkan sepatunya saat berkunjung ke rumah lain. Saya tidak tahu apa yang mendasari kebiasaan itu, mengingat saya tidak pernah diajari untuk melakukan hal tersebut, tapi mungkin juga alasan utamanya karena keengganan untuk membawa tamu yang tak diundang – kotoran yang melekat di sepatu.

Saya pun akhirnya dengan terpaksa menerima kebiasaan barisan alas kaki yang terjadi di lantai atas dimana saya tinggal. Walaupun kadang rasa iri melanda melihat tingkat keindahan dan kerapian lantai bawah, tapi apa boleh buat, pilihan untuk bertempat-tinggal di lantai atas sudah saya tetapkan.

Apalagi mengingat betapa putus-asanya si empunya pemillik rumah kost modern – residence ini ketika melakukan inspeksi. Saya menyaksikan bagaimana ia bolak-balik menyuruh si pengurus rumah tangganya untuk menegur pemilik alas kaki tersebut agar memasukkan alas kaki mereka ke dalam kamar, tapi tetap saja tidak ada perubahan berarti. Bahkan mereka yang meletakkan alas kakinya di depan pintu semakin bertambah.

Sayangnya ketika saya bisa menerima kebiasaan berderetnya barisan alas kaki di depan pintu kamar, tiba-tiba di suatu hari yang melelahkan, saat saya tiba di lantai dua, mendadak mata saya menangkap benda plastik segi empat, terbagi atas dua tingkatan dan berwarna merah jambu, Benda plastik berwarna ajaib itu dengan manisnya terletak di depan pintu kamar tetangga kamar di seberang kamar saya dan berisikan deretan sepatu si empunya kamar.

Rasanya saat itu ingin berteriak dan menegur si pengurus rumah tangga yang tidak bisa berkutik menegur si empunya kamar. Kesal bercampur-aduk dengan amarah, karena apa yang saya takutkan akhirnya menjadi kenyataan.

Rumah kost aka residence yang saya banggakan sekelas dengan apartemen, mendadak seperti salah satu rumah kost yang kebetulan terletak di seberang rumah kost saya ini. Kumuh, gelap dan nyaris seperti tidak terurus. Padahal mobil-mobil yang parkir di halaman rumah itu bukanlah kelas Avanza.

Saya pun tak habis pikir mengapa tiba-tiba ia mengeluarkan rak sepatu plastik merah jambunya yang bertabrakan dengan warna dan gaya minimalis rumah kost residence. Mungkin karena kamarnya sendiri sudah penuh dengan barang-barang, atau mungkin supaya ia dengan mudah melepas dan mengganti sepatunya atau mungkin karena ia ingin memamerkan brand sepatunya yang lumayan mahal dari sepatu olah raga suaminya – adidas, nike, reebok – hingga sepatunya yang berbagai rupa dari flip-flop, guess, dan disainer ternama – entah saya lupa namanya.

Saya tidak iri dengan deretan sepatunya yang terdiri dari merk ternama – tidak ada merk lokal kecuali sandal jepit – wong selera sepatunya beda 180 derajat dengan saya. Yang membuat saya kesal, karena rak sepatu plastik dengan warna norak itu selalu menjadi pemandangan yang harus saya lihat setiap kali saya membuka dan menutup pintu kamar.

Saya tidak bisa membayangkan penghuni lainnya suatu saat terinspirasi olehnya dan memajang rak sepatu mereka di depan pintu kamar.

Bayangkan jika jalanan di depan kamar kami semua, di pinggirnya berderet rak-rak sepatu berbagai bentuk. Dan karena rak sepatu selalu dianggap bukanlah bagian dari ‘gengsi’, bisa saja rak plastik dengan berbagai warna menjadi pemandangan utama.

Untunglah penghuni lainnya tidak ada yang mengikuti jejak si pemilik kamar. Satu-satunya pemandangan rak sepatu hanya terjadi di depan kamarnya saja.

Mungkin begitulah watak orang Indonesia, ketika mereka mendadak berpunya dan merasa memiliki uang, yang penting saya nyaman, peduli setan dengan orang lain. Mirip dengan para pengendara motor di jalan, yang penting saya bisa lewat dan cepat, peduli setan dengan peraturan lalu lintas.

Close Personal Circuit Television

Beberapa waktu lalu, saat saya  sedang menikmati makan malam perpisahan dengan salah satu teman dekat sahabat saya, berceritalah suami sahabat saya tadi tentang pengalamannya mengantarkan kue ke tempat kost saya.

‘Wah, hebat sekali Pak Satpam di tempat kost dia, up to date. Waktu gue anterin kue ke rumah kostnya, Pak Satpamnya langsung kasih laporan pandangan mata. Katanya, maaf Pak, Ibu belum pulang, tetapi anaknya sudah pulang, baru saja. Kuenya dititip di saya saja Pak.’

Kemudian berceritalah saya, kalau barisan Pak Satpam di tempat kost residence saya, benar-benar berdedikasi dan tahu kegiatan penghuninya. Dari siapa yang berangkat paling pagi, siapa yang paling parah menyetir – khusus kemampuan menyetir berdasarkan  pengamatan menyetir berdasarkan cara parkir – sampai siapa yang diduga berpacaran dengan siapa.

Saya sendiri pun terheran-heran dengan kepiawaian mereka dalam melakukan pengamatan, di satu sisi kadang-kadang saya merasa pengamatan mereka terlalu detil – rasanya nyaris tidak ada cerita yang bisa dirahasiakan dari mereka – namun di sisi lainnya, saya merasa berterimakasih karena mereka selalu melaporkan jam pulang sekolah si kecil jika tidak seperti biasanya dan kendaraan yang ditumpanginya.

Laporan mereka pun tidak pernah meleset tingkat keakuratannya, dan selalu disampaikan begitu saya selesai memarkirkan mobil.

‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya agak sore. Biasanya jam 3 sudah sampai rumah, ini jam 5,’lapor si Bapak Satpam 1 atau ‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya naik ojek, biasanya pulangnya naik taxi,’lapor si Bapak Satpam 2

Dan saya pun mengkonfirmasikannya dengan menyampaikan sebab-musabab si kecil pulang terlambat, atau hanya tersenyum-simpul ketika tahu si kecil pulang naik ojek – maklum ojek adalah kendaraan terlarang walaupun masuk dalam kategori praktis dan cepat.

Suatu ketika, saya terpaksa harus terbaring sakit karena diare hebat dan tidak bisa menelan makanan apa pun selain bubur. Terpaksalah saya meminta tolong si pengurus rumah tangga untuk mencarikan restoran yang menjual bubur ayam atau bubur Cina. Saya mewanti-wanti pengurus rumah tangga untuk tidak membelikan bubur yang dijual di pinggir jalan.

Tidak lama kemudian, sepupu saya yang tinggal tidak jauh dari tempat saya kost tiba di tempat kost mengantarkan bubur. Kalimat pertama yang disampaikannya, ‘Wah, Pak Satpam tahu ya kalau lo diare. Soalnya pas gue datang bawa makanan. Pak Satpamnya tanya, itu bubur ayam ya Bu ? Terus kata Pak Satpamnya lagi, Wah syukurlah Ibu bawa bubur, soalnya kita semua lagi bingung mau beli bubur ayam restoran disini dimana ya.’

Bukan itu saja, lanjut sepupu saya, ‘Pak Satpamnya tanya, Ibu beli dimana bubur ayamnya. Setelah gue bilang, gue bikin sendiri, Pak Satpamnya bilang wah kalau begitu memang gak ada ya Bu, restoran yang jual bubur ;ayam.’

Saya yang mendegar cerita sepupu saya hanya tersenyum simpul, sambil membayangkan kegaduhan yang timbul gara-gara permintaan saya minta dibelikan bubur.

Dan tertawa ketika karib saya berkomentar lagi, ‘Gue tahu sih kalo rumah kost residence lo punya CCTV, tapi gue rasa pemiliknya sebaiknya gak pasang CCTV deh. Barisan Pak Satpam lo itu sudah lebih keren dari CCTV, kalau mereka namanya ‘Close Personal Circuit Television’ alias Kepo,’

 

Perburuan Mencari Rumah Kost

Ternyata memilih tempat kost itu mirip seperti memilih pasangan hidup, setidaknya begitulah menurut saya.

Bayangkan, sebelum memilih tempat kost,  setidaknya saya harus menentukan kriteria  tempat kost yang akan saya tinggali nantinya, apalagi tempat kost ini akan saya tinggali dalam waktu cukup lama. Setelah kriteria itu terpenuhi – atau setidaknya 90% terpenuhi – maka dimulailah pendekatan awal dengan si induk semang.

Pendekatan awal yang dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya sebelum akhirnya menandatangani selembar surat kontrak, tetap saja memerlukan unsur cek dan ricek, demi menghindari kekecewaan di kemudian hari.

Proses yang tidak pernah saya bayangkan ketika saya memutuskan untuk menyewa kamar aka kost sebagai pilihan akhir bertempat-tinggal di tengah kota.

Sebelum saya akhirnya menentukan pilihan saya di tempat yang sekarang ini, seperti biasa, saya berkunjung ke paman google, memasukkan kata kunci, dan ‘voila’ keluarlah berbagai macam iklan rumah kost.

Rasanya seperti berada di negara antah berantah saat saya membaca iklan-iklan rumah kost itu, nyaris tidak ada yang bisa saya pahami bahasanya. Kata-kata yang saya pahami hanyalah kamar, tempat tidur, fasilitas, wifi gratis, dapur, hanya itu, selebihnya saya harus meraba-raba makna dibalik kalimat iklan tersebut.

Untungnya paman Google berbaik hati meminjamkan foto-foto dari si pemasang iklan itu, sehingga saya akhirnya menemukan jawabannya.  Penggambaran yang tertulis versus foto adalah dua hal yang harus dicermati ketika pilihan sudah ditetapkan berdasarkan kriteria awal, itulah pengalaman awal saya dalam berburu rumah kost.

Sesudah lokasi, jarak tempuh antara rumah kost dan sekolah si kecil, serta kondisi bebas banjir terpenuhi, barulah saya menetapkan kriteria-kriteria tambahannya.

Sebagai orang yang sangat mencintai kehijauan maka kriteria pertama saya adalah kamar kost saya setidaknya harus memberikan ruang gerak dan beranda tempat saya bisa duduk-duduk menikmati sisa hari yang tersisa, alangkah lebih baik jika mata saya masih bisa menangkap hijaunya rumput dan pepohonan.

Kriteria kedua, karena saya bersama si kecil, tentu saja harus ada jam berkunjung yang jelas, pengiklan yang jelas-jelas menyatakan jam kunjungan bebas, otomatis tereliminasi oleh saya. Bukan apa-apa, saya tidak bisa membayangkan kegaduhan rumah kost tersebut, bisa-bisa si kecil tidak bisa belajar dengan tenang atau saya yang setiap saat terbangun akibat sensitifitas telinga.

Kriteria ketiga, fasilitas yang tersedia di dalam kamar, bagian ini adalah bagian yang tersulit, karena mencakup kamar mandi, tempat tidur, lemari, meja dan tentu saja disain interior kamar. Untuk yang satu ini, saya benar-benar menggantungkan kepercayaan saya kepada Paman Google, karena hanya lewat dialah saya bisa melihat-lihat dan membayangkan bentuk kamar yang akan saya tempati dalam jangka waktu cukup lama.

Kriteria keempat, area parkir, karena saya membawa mobil dan agak sedikit menderita penyakit kebersihan maka tempat parkir dan kesempatan mencuci mobil masuk dalam perhitungan saya. Begitu pula dapur,  kost tidak berarti saya harus membeli makanan siap saji setiap saat, apalagi saya dan si kecil terbiasa membawa bekal ke kantor. Jadi fasilitas dapur yang disediakan si pemilik menjadi catatan tambahan untuk saya.  Di samping tentu saja, fasilitas mencuci baju, saya tidak bisa membayangkan setiap saat harus membawa baju saya ke tempat laundry kiloan atau mengumpulkan baju selama seminggu untuk dicuci di rumah.

Kriteria kelima, yang ini memang agak nyeleneh, siapa tahu saya diperbolehkan membawa kedua anjing tercinta saya. Kriteria yang benar-benar nyeleneh, karena apartemen yang ‘pet friendly’ saja hanya satu di Jakarta, apalagi rumah kost, boro-boro bisa ‘pet friendly’. Makanya saya selalu berharap bisa bertemu dengan iklan yang berbunyi ‘Dikontrakan paviliun 1 kamar, 1 dapur, garasi dan halaman tersendiri.’

Hampir selama tiga bulan – disela-sela mengerjakan pekerjaan rutin di kantor – saya bolak-balik berkunjung ke Paman Google, membandingkan pesan tersirat versus pesan tersurat para pengiklan itu.

Saya pun tidak berharap semua kriteria saya terpenuhi, namun setidaknya 3 dari 5 kriteria bisa terpenuhi saja, bagi saya itu sudah sangat menyenangkan.

Bulan pertama, rasanya tidak ada satupun iklan yang sesuai dengan pilihan saya. Paviliun yang menjadi cita-cita saya ternyata rata-rata disewakan untuk kantoran. Sekalinya ada, itu pun sedang digunakan oleh si empunya rumah.

Bulan kedua, titik terang sudah mulai tampak. Ada beberapa pilihan rumah kost dan apartemen yang menarik hati saya. Tetapi setelah ditelusuri kembali, ternyata lokasi apartemen tersebut harus melalui jalan 3 in 1. Alih-alih menghilangkan bencana ini sih menuai bencana baru. Pagi hari sih sudah pasti saya selamat, tetapi pulang kantor ? Masa sih saya harus duduk manis menunggu jam 7 malam ? Lagipula jalan yang harus saya lewati, setahu saya jika hujan deras, pasti banjir.

Saya pun menemukan iklan rumah kost yang manis, baik dari sisi desain interior, bentuk rumah, halaman dan fasilitas yang cukup menunjang. Tetapi setelah diteliti kembali, ternyata si induk semang lebih memilih penghuninya selain wanita semua, juga harus seiman. Wah, kriteria wanita semua, saya pasti lolos, tapi seiman ?  Saya pasti tidak akan bisa lolos ke tahap berikutnya.

Sebenarnya, mau campur atau tidak, bagi saya tidak menjadi masalah, selama ada aturan jam malam untuk berkunjung bagi saya itu sudah cukup.

Di kunjungan saya yang kesekian puluh kalinya, saya pun menemukan tempat kost yang sesuai dengan 3 dari 5 kriteria saya. Setelah berbasa-basi dengan si induk semang, terungkaplah bahwa jalanan rumah kost ini jika musim hujan selalu kena banjir. Tetapi, kata si induk semang, ‘Anak-anak yang kost disini tidak mau pindah lho Bu, bahkan mereka khusus bikin gerobak untuk menerjang banjir. Untuk mobil jangan khawatir, mobil Ibu bisa diparkir di rumah saya yang area parkirnya sudah saya tinggikan.’ Dengan berat hati saya pun harus merelakan rumah kost tadi untuk hilang dari list saya. Bukan naik gerobaknya tetapi banjirnya yang tidak tertahankan.

Setelah nyaris putus asa, akhirnya saya menemukan rumah kost yang cukup menarik, selain dekat sekolah si kecil dan jarak yang lumayan dekat dengan lokasi kantor, tingkat keamanannya juga patut diacungi jempol. Kunci kamarnya itu lho, menggunakan teknologi terkini, dengan tingkat pengaman yang bisa disetel sendiri. Namun, setelah saya melakukan kunjungan sekilas, sekali lagi rumah kost ini harus saya relakan. Bukan karena tempat parkirnya yang sempit, melainkan karena dana saya tidak mencukupi untuk membayar sewa bulanannya.

Nah, dalam melakukan perburuan tadi, saya pun akhirnya mengerti, ada 2 jenis rumah kost. Rumah kost a la jaman dulu dan rumah kost modern. Membedakan keduanya, lihat saja dari judul si rumah kost itu. Kalau berjudul Residence, berarti fasilitasnya sekelas semi apartemen.

Pada umumnya rumah kost sekelas Residence tadi, tidak memiliki kamar sewa dengan kamar mandi di luar, tempat parkirnya pun lumayan luas, dan memiliki fasilitas lumayan lengkap. Kamarnya pun tertata a la hotel. Lokasinya pun tidak jauh dari daerah perkantoran, seperti Setiabudi atau Kebayoran.

Saya pun mengerti bahwa ternyata tidak ada rumah kost – semodern apa pun – yang bisa memenuhi kelima kriteria rumah  kost idaman saya. Jadi biar bagaimana pun saya harus berkompromi dengan pilihan yang ada.

Dan akhirnya, setelah hampir 3 bulan saya bolak-balik mampir ke laman Paman Google, saya pun menemukan rumah kost idaman saya, kali ini 4 dari 5 kriteria yang saya tetapkan terpenuhi.

Namun tak ada gading yang tak retak, ketika saya dengan teriakan kemenangan bercerita tentang rumah kost idaman saya, rekan-rekan sekantor otomatis berkomentar,”Aduh, mendingan sewa apartemen saja deh, kalau biaya sewa bulanannya sebesar itu.”