peristiwa seru

Close Personal Circuit Television

Beberapa waktu lalu, saat saya  sedang menikmati makan malam perpisahan dengan salah satu teman dekat sahabat saya, berceritalah suami sahabat saya tadi tentang pengalamannya mengantarkan kue ke tempat kost saya.

‘Wah, hebat sekali Pak Satpam di tempat kost dia, up to date. Waktu gue anterin kue ke rumah kostnya, Pak Satpamnya langsung kasih laporan pandangan mata. Katanya, maaf Pak, Ibu belum pulang, tetapi anaknya sudah pulang, baru saja. Kuenya dititip di saya saja Pak.’

Kemudian berceritalah saya, kalau barisan Pak Satpam di tempat kost residence saya, benar-benar berdedikasi dan tahu kegiatan penghuninya. Dari siapa yang berangkat paling pagi, siapa yang paling parah menyetir – khusus kemampuan menyetir berdasarkan  pengamatan menyetir berdasarkan cara parkir – sampai siapa yang diduga berpacaran dengan siapa.

Saya sendiri pun terheran-heran dengan kepiawaian mereka dalam melakukan pengamatan, di satu sisi kadang-kadang saya merasa pengamatan mereka terlalu detil – rasanya nyaris tidak ada cerita yang bisa dirahasiakan dari mereka – namun di sisi lainnya, saya merasa berterimakasih karena mereka selalu melaporkan jam pulang sekolah si kecil jika tidak seperti biasanya dan kendaraan yang ditumpanginya.

Laporan mereka pun tidak pernah meleset tingkat keakuratannya, dan selalu disampaikan begitu saya selesai memarkirkan mobil.

‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya agak sore. Biasanya jam 3 sudah sampai rumah, ini jam 5,’lapor si Bapak Satpam 1 atau ‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya naik ojek, biasanya pulangnya naik taxi,’lapor si Bapak Satpam 2

Dan saya pun mengkonfirmasikannya dengan menyampaikan sebab-musabab si kecil pulang terlambat, atau hanya tersenyum-simpul ketika tahu si kecil pulang naik ojek – maklum ojek adalah kendaraan terlarang walaupun masuk dalam kategori praktis dan cepat.

Suatu ketika, saya terpaksa harus terbaring sakit karena diare hebat dan tidak bisa menelan makanan apa pun selain bubur. Terpaksalah saya meminta tolong si pengurus rumah tangga untuk mencarikan restoran yang menjual bubur ayam atau bubur Cina. Saya mewanti-wanti pengurus rumah tangga untuk tidak membelikan bubur yang dijual di pinggir jalan.

Tidak lama kemudian, sepupu saya yang tinggal tidak jauh dari tempat saya kost tiba di tempat kost mengantarkan bubur. Kalimat pertama yang disampaikannya, ‘Wah, Pak Satpam tahu ya kalau lo diare. Soalnya pas gue datang bawa makanan. Pak Satpamnya tanya, itu bubur ayam ya Bu ? Terus kata Pak Satpamnya lagi, Wah syukurlah Ibu bawa bubur, soalnya kita semua lagi bingung mau beli bubur ayam restoran disini dimana ya.’

Bukan itu saja, lanjut sepupu saya, ‘Pak Satpamnya tanya, Ibu beli dimana bubur ayamnya. Setelah gue bilang, gue bikin sendiri, Pak Satpamnya bilang wah kalau begitu memang gak ada ya Bu, restoran yang jual bubur ;ayam.’

Saya yang mendegar cerita sepupu saya hanya tersenyum simpul, sambil membayangkan kegaduhan yang timbul gara-gara permintaan saya minta dibelikan bubur.

Dan tertawa ketika karib saya berkomentar lagi, ‘Gue tahu sih kalo rumah kost residence lo punya CCTV, tapi gue rasa pemiliknya sebaiknya gak pasang CCTV deh. Barisan Pak Satpam lo itu sudah lebih keren dari CCTV, kalau mereka namanya ‘Close Personal Circuit Television’ alias Kepo,’

 

Barisan Alas Kaki

Di rumah kost yang saya huni, ada beberapa peraturan wajib yang harus diikuti para penghuninya, salah satunya tentang meletakkan alas kaki di depan pintu kamar. Alasannya sederhana, agar rumah kost terlihat bersih dan apik, disamping tentu saja mencegah agar penghuni lainnya tidak tersandung alas kaki alias sepatu atau sandal yang diletakkan sembarangan.

Bagi saya, peraturan itu kebetulan sejalan dengan kebiasaan saya yang tidak meletakkan sepatu atau pun sandal di depan pintu rumah saya. Rasanya risih dan menimbulkan kesan berantakan jika barisan sepatu atau sandal digeletakkan begitu saja di depan pintu rumah. Walaupun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sah-sah saja melepas sepatu atau sandal sebelum masuk ke dalam rumah.

Bagi saya,  alih-alih meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu, lebih baik meletakkan kesetan agar debu ataupun bekas tanah bisa dibersihkan di kesetan tersebut, sehingga tidak mengotori lantai di dalam rumah.

Jadi, ketika peraturan tentang alas kaki tersebut disampaikan ke saya pertama kali, dengan senang hati saya menyambutnya.

‘Bukan masalah besar, lagipula siapa yang mau memajang sepatu depan pintu kamar, Lagipula jika tidak ada sepatu atau sandal berserakan, lorong kamar akan terlihat lapang dan resik,’batin saya

Tetapi rupanya saya salah duga, para penghuni kost di lantai yang saya tempati ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda.

Bermula dari si J, lulusan universitas luar negeri. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan pertama kali ke rumah kost residence ini. Saat itu, si Ibu pemilik rumah mengajak saya melihat kamar yang terletak di lantai atas alias lantai dua. Ketika melewati kamar si J, sambil menerangkan si penyewa kamar tersebut, dia memanggil si pengurus rumah tangga, katanya ‘Coba bereskan sepatu-sepatu ini, berantakan sekali. Besok kalau dia sudah kembali dari rumahnya, sampaikan sepatu-sepatu harus diletakkan di dalam kamar.’

Dari J berlanjut ke Bapak B. Kebiasaan Bapak B lain lagi. Bapak B menempatkan alas kakinya dengan sangat rapi dan sesuai urutan keluarganya. Bapak-Ibu dan anak serta pembatu. Bedanya Bapak B menaruh sandal, hanya sesekali berganti dengan sepatu dan itupun bisa dihitung dengan jari. Namun, apapun yang diletakkannya selalu sesuai urutan keluarga. Lucunya, sandalnya pun warnanya senada, hitam. Satu-satunya sandal yang warnanya bukan hitam, milik si asisten rumah tangga harian keluarga itu dan satu-satunya sandal yang memiliki tambahan warna milik si kecil.

Dari Bapak B, beralih ke Mbak X. Sampa seperti Bapak B, bedanya di depan pintu kamar Mbak X hanya terletak satu sandal dan sandal itu pun sandal rumah, karena sandal itu tidak pernah terlihat berjalan-jalan hingga keluar. Sesekali, ada sepatu yang tergeletak disamping si sandal tadi. Bedanya sepatu tidak pernah menetap, berbeda dengan si Sandal yang menetap 24 jam, dari pagi ke pagi.

Seperti halnya para pengendara motor yang kerap melanggar aturan, begitu pula dengan urusan peletakan alas kaki di rumah kost ini. Bermula dari kebiasaan satu orang, kemudian kebiasaan itu menimbulkan ide bagi orang lain yang kebetulan memiliki nilai dan pemikiran yang sama. Kebiasaan nona J, berlanjut ke Bapak B dan Mbak X, menimbulkan ide ke penghuni lain yang kebetulan berkebangsaan Eropa.

Entah kenapa, si C, yang memiliki wajah seperti Justin Bieber kalau habis menggunting rambunya, dan berkewarganegaraan tempat si matador bertanding, mendadak sontak memiliki kebiasaan baru, melepas alas kakinya di depan pintu kamarnya. Diawali dengan sepasang sepatu, kemudian berlanjut dengan sepatu olah raganya yang dekil – mungkin karena habis bermain futsal – dan diakhiri dengan sepasang sandal.  Saya benar-benar terheran-heran ketika mendapati fenomena itu. Jika orang Jepang saya masih bisa paham, atau orang Singapura saya pun lebih paham, tapi ini orang Eropa – rasanya sepengetahuan saya mereka tidak memiliki kebiasaan seperti itu. Tapi mungkin inilah yang disebut orang dengan dirasuki roh kebudayaan Indonesia. Mungkin si C  sebenarnya di masa lalu pernah jadi orang Indonesia, walaupun saat dilahirkan kembali dia menjadi orang Eropa. Sehingga ketika dia tinggal di Indonesia, jiwa masa lalunya mengirimkan sinyal ke sinap-sinap di otaknya, dan jadilah kebiasaan baru meletakkan alas kaki di depan pintu kamar.

Tetapi dibandingkan para penghuni kamar lantai atas yang memiliki kebiasaan sama, tidak ada yang sekonyol dan seatraktif  ulah sepasang suami-istri, sebut saja Bapak A dan istrinya. Tampaknya pasangan tersebut memiliki kegemaran untuk memamerkan merk sepatu dan sandalnya di depan pintu kamarnya. Tinggal pilih, mau merk sepatu apa saja juga tersedia, dari yang berlabel Channel, Nike, Adidas, Dior, hingga merk lokal, sandal bali. Dan bukan itu saja, istrinya pun kerap melepaskan alas kakinya secara serampangan, seperti orang yang terburu-buru harus membuang hajat.

Suatu hari, saya pun terkena dampaknya si istri tadi. Saat itu sehabis memasak di dapur, saya bertemu dengan si Mbak X dan suaminya yang kebetulan hendak bepergian. Seperti biasa, sapaan diawali dengan cerita ringan sambil berjalan menuju kamar. Mungkin karena saya tidak berkoensentrasi melihat ranjau sandal atau juga karena saya berjalan terlalu ke kiri, tersandunglah saya dengan sandal si istri Bapak A. Untung saya masih sempat menjaga keseimbangan, kalau tidak bisa dibayangkan adegan piring melayang dan orang jatuh terjerembab dengan halo burung-burung di atas kepala. Tapi yang tidak bisa dijaga ya rasa malu itu ketika mendengar suami Mbak X berseru, ‘hati-hati mbak’.  Sejak saat itu dendam kesumat pun terhadap sandal si istri Bapak A timbul.

Suatu pagi ketika saya hendak melakukan rutinitas pagi, membuat sarapan dan bekal makan siang saya dan si bungsu, sepatu si istri Bapak A tergeletak melintang di tengah jalan. Tanpa pikir panjang lagi, sepatu tersebut saya singkirkan dengan tendangan ringan hingga berakhir di dinding dekat pintu kamarnya. Rasanya saat itu lega sekali bisa membalas dendam kesumat saya. Dan sejak hari itu, setiap kali saya melihat sepatu atau sandal diletakkan secara sembarangan dan bisa menimbulkan kecelakaan ringan penghuni lainnya, saya pun dengan sukacita menggesernya dengan tendangan ringan.

Saya pun tidak habis pikir kenapa peraturan tersebut bisa dibiarkan begitu saja, sementara saya yang memasang kesetan kecil di depan pintu kamar malah dilarang, dengan alasan mengurangi keindahan, takut penghuni lainnya ikut-ikutan memasang kesetan dengan ukuran yang berbeda dan warna yang ajaib.

Jadi, ketika si pengurus rumah tangga lantai dua, mengeluh, ‘Aduh Bu, saya kena marah lagi sama si Ibu pemilik rumah. Katanya sepatu dan sandal itu lain kali dimasukkan saja ke dalam kamar mereka. Beritahu mereka, tidak boleh menaruh sepatu dan sandal di depan pintu,’ceritanya

Saya pun menimpali, ya sampaikan saja ke para peserta alas kaki, jawabnya, ‘Saya sudah bilang berkali-kali, tapi entah kenapa penghuni di lantai ini bandel-bandel, tidak seperti di lantai bawah, kalau diberitahu nurut.’

Saya pun tersenyum dan membatin, ‘terang saja penghuni di bawah penurut, wong kebanyakan bukan orang Indonesia penghuninya. Walaupun sebagian besar penyewanya orang Jepang, tetapi mereka mengerti bahwa rumah kost harus diikuti demi kebaikan bersama. Bedanya dengan penghuni lantai atas, kebiasaan orang Indonesia menular ke non Indonesia. Entah kenapa orang asing yang menjadi penghuni lantai atas, mendadak u menjadi orang Indonesia.’

Lalu saya pun berkomentar,’Bilang saja ke Ibu pemilik rumah untuk menulis surat kepada para penghuni kamar, kalau tidak boleh meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu kamar.’

Ketika saya menuliskan cerita ini, saya pun jadi berpikir, kenapa kebiasaan ini bisa hilang saat kita tinggal di hotel? Padahal kebiasaan membersihkan kamar di hotel juga berlaku di rumah kost residence ini. Pengurus rumah tangganya dengan setia membersihkan dan mengepel kamar sesuai dengan permintaan si penghuni, mau tiap hari atau dua hari sekali atau seminggu sekali.

Jika tidak ingin kamarnya kotor karena kamarnya hanya ingin dibersihkan tiga hari sekali, ya sebelum masuk ke dalam rumah, apa sih susahnya menggunakan kesetan untuk membersihkan alas kaki yang habis bertandang ke mal, lapangan olah raga, supermarket ataupun jalan raya ? Solusi yang menguntungkan bagi kedua-belah pihak bukan, si penghuni dan si pengurus rumah tangga.

Sehingga langkah penyelamatan diri a la pengurus rumah tangga seperti ini tidak perlu diambil, Demi menyelamatkan dirinya dari teguran si Ibu pemilik rumah. si pengurus rumah tangga ini pun menemukan cara ampuh. Di hari inspeksi si pemilik rumah, maka si pengurus rumah tangga memasukkan semua sepatu dan sandal penghuninya ke dalam kamar.

Jika penjual kaki lima kucing-kucingan dengan petugas tramtib, maka setiap hari Kamis menjadi hari kucing-kucingan si pengurus rumah tangga dengan pemilik rumah kost.

Closed Circuit Television

Dulu, ketika saya masih berkantor di seputaran Sudirman, beberapa rekan sekantor saya juga memilih bertempat-tinggal di tengah kota, lebih tepatnya sedekat mungkin dengan kantor.  Alasan mereka saat itu nyaris sama dengan alasan saya saat ini, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencapai rumah atau sebaliknya mencapai kantor sudah tidak tertahankan lagi.

Ketika mereka sibuk bercerita tentang rumah kost mereka dan membandingkan fasilitas rumah kost mereka dengan yang lainnya, saat itu saya masih setia menghabiskan waktu minimal 1.5 jam untuk berangkat dan 1.5 jam untuk pulang dari kantor. Waktu tempuh yang dalam kondisi abnormal – saat Jakarta ditinggalkan penghuninya atau saat dini hari sekitar pukul 01.00 pagi –  hanya menghabiskan waktu sekitar 15-30 menit.

Di antara sekian banyak kisah, cerita mereka tenttang CCTV di rumah kost yang mereka tempati bagi saya cukup menarik. Bukan apa-apa, bagi saya, apa yang harus diawasi di seputaran rumah kost, apalagi jika jelas-jelas mayoritas penghuninya adalah pekerja kantoran dan peraturan yang diterapkan cukup longgar, memasang CCTV adalah kegiatan yang mengada-ada.

CCTV layaknya dipasang di rumah pribadi atau di perkantoran, dimana si empunya rumah bisa memonitor situasi rumah mereka, mengawasi kinerja asisten rumah tangga, mengawasi bagaimana mereka menjaga si kecil. Atau di kantor, dimana CCTV berguna untuk mencegah kehilangan barang-barang karena kantor tersebut menerapkan ‘open-space’.

Tetapi di rumah kost ? Maka, saat itu kami pun terlibat diskusi yang cukup seru, membahas segala kemungkinan yang mungkin terjadi dari yang kony0l hingga yang cukup serius, dari soal ‘membawa tamu tak diundang’ hingga ‘pencurian yang dilakukan pembantu’.

Diskusi yang kemudian berakhir begitu saja, diskusi yang sebenarnya bagian dari obrolan ringan pengantar makan siang dan kemudian terlupakan.

Hingga suatu hari, ketika saya sendiri sudah menjadi bagian dari barisan peserta kost, ada pengumuman tentang pemasangan CCTV di rumah kost yang saya tempati. Saat itu saya baru saja pulang kantor, ketika tiba-tiba pengurus rumah tangga di lantai dua – tempat dimana saya menetap, menghampiri saya.

‘Bu, nanti sama Ibu yang punya rumah mau dipasang CCTV. Saya bilang ke Ibu yang punya rumah, lebih baik tanya dulu, bisa-bisa orang-orang pada gak mau kost disini lagi bu,’ kata si pengurus rumah tangga tiba-tiba

‘Oh ya, tidak masalah koq, silakan saja. Itu sih terserah Ibu yang punya rumah saja, setidaknya rumah ini jadi aman,’ timpal saya – walaupun dalam hati saya bertanya-tanya kenapa ide CCTV mendadak sontak timbul di benak pemilik rumah.

Saya pun kemudian berlalu meninggalkan si penghuni rumah dan sibuk dengan rutinitas pulang kantor – memasak makan malam.

Hingga di suatu sesi acara memasak, ketika satu per satu penghuni mulai berdatangan dan menyibukkan diri dengan kegiatan ‘dapur’, tiba-tiba bergulirlah cerita tentang asal-muasal CCTV.

‘Bu, tahu tidak kalau kaca mobil si B pecah ? tanya bapak A tetangga kamar saya

‘Oh iya, waktu itu ada yang bercerita ke saya, tetapi dia sendiri belum cerita sih.’jawab saya.

Menurut si Bapak A, sebenarnya kemungkinan  besar karena waktu itu kaca mobil depan si B pecah. B pun mengadukan hal itu ke pimpinan rumah kost – yang mengakomodasi segala kebutuhan dan keluhan para penghuni. Si B pun meminta ganti rugi. Masalahnya tidak ada yang tahu siapa yang memecahkan kaca depan mobil si B itu.

Saya pun mengutarakan keheranan saya, karena kaca depan mobil itu pastinya tidak semudah itu retak, apalagi peristiwa retaknya kaca mobil tersebut terjadi saat mobil sedang di parkir di halaman rumah.

Hingga keesokan harinya saya bertemu dengan si B, bercerita tentang hal yang sama termasuk urusan ganti-rugi. Menurut si B, si pemilik rumah enggan memberikan ganti rugi, padahal retaknya kaca depan mobilnya itu diakibatkan oleh si pengurus rumah tangga di lantai yang kami tempati, saat mencuci mobil si B.

‘Si Mas itu kan orangnya memang seenaknya saja, pasti saat dia mencuci mobil dan membersihkan kaca depan, main dibanting saja wipernya. Tapi ya sudahlah, dengan dipasangnya CCTV pastinya si pemilik rumah secara tidak langsung mengakui keteledoran pengurus rumah tangganya.’lanjut si B

Saya pun seperti biasa hanya mengiyakan – wong saya sendiri pun tidak tahu pasti alasan dipasangnya si CCTV.

Bisa jadi karena pecahnya kaca depan mobil si B atau bisa jadi karena ulah penghuni kost seperti yang digosipkan si pengurus rumah tangga ke saya beberapa waktu sesudahnya.

‘Nah, rasakan deh ulah si J dan si C, mereka tidak bisa berduaan seenaknya sampai malam. Tahu gak Bu, mereka itu bahkan sampai naik ke tempat jemuran malam-malam lho. Coba Bu, ngapain malam-malam di atas sana ?  Mana gelap lagi.’cerita Pak K, pengurus rumah tangga lantai 1

Muka saya entah harus ditaruh dimana, ternyata memang benar kata Bapak A, orang belakang – begitu istilah untuk para satpam dan pengurus rumah tangga – banyak gosipnya.

Perburuan Mencari Rumah Kost

Ternyata memilih tempat kost itu mirip seperti memilih pasangan hidup, setidaknya begitulah menurut saya.

Bayangkan, sebelum memilih tempat kost,  setidaknya saya harus menentukan kriteria  tempat kost yang akan saya tinggali nantinya, apalagi tempat kost ini akan saya tinggali dalam waktu cukup lama. Setelah kriteria itu terpenuhi – atau setidaknya 90% terpenuhi – maka dimulailah pendekatan awal dengan si induk semang.

Pendekatan awal yang dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya sebelum akhirnya menandatangani selembar surat kontrak, tetap saja memerlukan unsur cek dan ricek, demi menghindari kekecewaan di kemudian hari.

Proses yang tidak pernah saya bayangkan ketika saya memutuskan untuk menyewa kamar aka kost sebagai pilihan akhir bertempat-tinggal di tengah kota.

Sebelum saya akhirnya menentukan pilihan saya di tempat yang sekarang ini, seperti biasa, saya berkunjung ke paman google, memasukkan kata kunci, dan ‘voila’ keluarlah berbagai macam iklan rumah kost.

Rasanya seperti berada di negara antah berantah saat saya membaca iklan-iklan rumah kost itu, nyaris tidak ada yang bisa saya pahami bahasanya. Kata-kata yang saya pahami hanyalah kamar, tempat tidur, fasilitas, wifi gratis, dapur, hanya itu, selebihnya saya harus meraba-raba makna dibalik kalimat iklan tersebut.

Untungnya paman Google berbaik hati meminjamkan foto-foto dari si pemasang iklan itu, sehingga saya akhirnya menemukan jawabannya.  Penggambaran yang tertulis versus foto adalah dua hal yang harus dicermati ketika pilihan sudah ditetapkan berdasarkan kriteria awal, itulah pengalaman awal saya dalam berburu rumah kost.

Sesudah lokasi, jarak tempuh antara rumah kost dan sekolah si kecil, serta kondisi bebas banjir terpenuhi, barulah saya menetapkan kriteria-kriteria tambahannya.

Sebagai orang yang sangat mencintai kehijauan maka kriteria pertama saya adalah kamar kost saya setidaknya harus memberikan ruang gerak dan beranda tempat saya bisa duduk-duduk menikmati sisa hari yang tersisa, alangkah lebih baik jika mata saya masih bisa menangkap hijaunya rumput dan pepohonan.

Kriteria kedua, karena saya bersama si kecil, tentu saja harus ada jam berkunjung yang jelas, pengiklan yang jelas-jelas menyatakan jam kunjungan bebas, otomatis tereliminasi oleh saya. Bukan apa-apa, saya tidak bisa membayangkan kegaduhan rumah kost tersebut, bisa-bisa si kecil tidak bisa belajar dengan tenang atau saya yang setiap saat terbangun akibat sensitifitas telinga.

Kriteria ketiga, fasilitas yang tersedia di dalam kamar, bagian ini adalah bagian yang tersulit, karena mencakup kamar mandi, tempat tidur, lemari, meja dan tentu saja disain interior kamar. Untuk yang satu ini, saya benar-benar menggantungkan kepercayaan saya kepada Paman Google, karena hanya lewat dialah saya bisa melihat-lihat dan membayangkan bentuk kamar yang akan saya tempati dalam jangka waktu cukup lama.

Kriteria keempat, area parkir, karena saya membawa mobil dan agak sedikit menderita penyakit kebersihan maka tempat parkir dan kesempatan mencuci mobil masuk dalam perhitungan saya. Begitu pula dapur,  kost tidak berarti saya harus membeli makanan siap saji setiap saat, apalagi saya dan si kecil terbiasa membawa bekal ke kantor. Jadi fasilitas dapur yang disediakan si pemilik menjadi catatan tambahan untuk saya.  Di samping tentu saja, fasilitas mencuci baju, saya tidak bisa membayangkan setiap saat harus membawa baju saya ke tempat laundry kiloan atau mengumpulkan baju selama seminggu untuk dicuci di rumah.

Kriteria kelima, yang ini memang agak nyeleneh, siapa tahu saya diperbolehkan membawa kedua anjing tercinta saya. Kriteria yang benar-benar nyeleneh, karena apartemen yang ‘pet friendly’ saja hanya satu di Jakarta, apalagi rumah kost, boro-boro bisa ‘pet friendly’. Makanya saya selalu berharap bisa bertemu dengan iklan yang berbunyi ‘Dikontrakan paviliun 1 kamar, 1 dapur, garasi dan halaman tersendiri.’

Hampir selama tiga bulan – disela-sela mengerjakan pekerjaan rutin di kantor – saya bolak-balik berkunjung ke Paman Google, membandingkan pesan tersirat versus pesan tersurat para pengiklan itu.

Saya pun tidak berharap semua kriteria saya terpenuhi, namun setidaknya 3 dari 5 kriteria bisa terpenuhi saja, bagi saya itu sudah sangat menyenangkan.

Bulan pertama, rasanya tidak ada satupun iklan yang sesuai dengan pilihan saya. Paviliun yang menjadi cita-cita saya ternyata rata-rata disewakan untuk kantoran. Sekalinya ada, itu pun sedang digunakan oleh si empunya rumah.

Bulan kedua, titik terang sudah mulai tampak. Ada beberapa pilihan rumah kost dan apartemen yang menarik hati saya. Tetapi setelah ditelusuri kembali, ternyata lokasi apartemen tersebut harus melalui jalan 3 in 1. Alih-alih menghilangkan bencana ini sih menuai bencana baru. Pagi hari sih sudah pasti saya selamat, tetapi pulang kantor ? Masa sih saya harus duduk manis menunggu jam 7 malam ? Lagipula jalan yang harus saya lewati, setahu saya jika hujan deras, pasti banjir.

Saya pun menemukan iklan rumah kost yang manis, baik dari sisi desain interior, bentuk rumah, halaman dan fasilitas yang cukup menunjang. Tetapi setelah diteliti kembali, ternyata si induk semang lebih memilih penghuninya selain wanita semua, juga harus seiman. Wah, kriteria wanita semua, saya pasti lolos, tapi seiman ?  Saya pasti tidak akan bisa lolos ke tahap berikutnya.

Sebenarnya, mau campur atau tidak, bagi saya tidak menjadi masalah, selama ada aturan jam malam untuk berkunjung bagi saya itu sudah cukup.

Di kunjungan saya yang kesekian puluh kalinya, saya pun menemukan tempat kost yang sesuai dengan 3 dari 5 kriteria saya. Setelah berbasa-basi dengan si induk semang, terungkaplah bahwa jalanan rumah kost ini jika musim hujan selalu kena banjir. Tetapi, kata si induk semang, ‘Anak-anak yang kost disini tidak mau pindah lho Bu, bahkan mereka khusus bikin gerobak untuk menerjang banjir. Untuk mobil jangan khawatir, mobil Ibu bisa diparkir di rumah saya yang area parkirnya sudah saya tinggikan.’ Dengan berat hati saya pun harus merelakan rumah kost tadi untuk hilang dari list saya. Bukan naik gerobaknya tetapi banjirnya yang tidak tertahankan.

Setelah nyaris putus asa, akhirnya saya menemukan rumah kost yang cukup menarik, selain dekat sekolah si kecil dan jarak yang lumayan dekat dengan lokasi kantor, tingkat keamanannya juga patut diacungi jempol. Kunci kamarnya itu lho, menggunakan teknologi terkini, dengan tingkat pengaman yang bisa disetel sendiri. Namun, setelah saya melakukan kunjungan sekilas, sekali lagi rumah kost ini harus saya relakan. Bukan karena tempat parkirnya yang sempit, melainkan karena dana saya tidak mencukupi untuk membayar sewa bulanannya.

Nah, dalam melakukan perburuan tadi, saya pun akhirnya mengerti, ada 2 jenis rumah kost. Rumah kost a la jaman dulu dan rumah kost modern. Membedakan keduanya, lihat saja dari judul si rumah kost itu. Kalau berjudul Residence, berarti fasilitasnya sekelas semi apartemen.

Pada umumnya rumah kost sekelas Residence tadi, tidak memiliki kamar sewa dengan kamar mandi di luar, tempat parkirnya pun lumayan luas, dan memiliki fasilitas lumayan lengkap. Kamarnya pun tertata a la hotel. Lokasinya pun tidak jauh dari daerah perkantoran, seperti Setiabudi atau Kebayoran.

Saya pun mengerti bahwa ternyata tidak ada rumah kost – semodern apa pun – yang bisa memenuhi kelima kriteria rumah  kost idaman saya. Jadi biar bagaimana pun saya harus berkompromi dengan pilihan yang ada.

Dan akhirnya, setelah hampir 3 bulan saya bolak-balik mampir ke laman Paman Google, saya pun menemukan rumah kost idaman saya, kali ini 4 dari 5 kriteria yang saya tetapkan terpenuhi.

Namun tak ada gading yang tak retak, ketika saya dengan teriakan kemenangan bercerita tentang rumah kost idaman saya, rekan-rekan sekantor otomatis berkomentar,”Aduh, mendingan sewa apartemen saja deh, kalau biaya sewa bulanannya sebesar itu.”