Orang Belakang

Barisan Alas Kaki

Di rumah kost yang saya huni, ada beberapa peraturan wajib yang harus diikuti para penghuninya, salah satunya tentang meletakkan alas kaki di depan pintu kamar. Alasannya sederhana, agar rumah kost terlihat bersih dan apik, disamping tentu saja mencegah agar penghuni lainnya tidak tersandung alas kaki alias sepatu atau sandal yang diletakkan sembarangan.

Bagi saya, peraturan itu kebetulan sejalan dengan kebiasaan saya yang tidak meletakkan sepatu atau pun sandal di depan pintu rumah saya. Rasanya risih dan menimbulkan kesan berantakan jika barisan sepatu atau sandal digeletakkan begitu saja di depan pintu rumah. Walaupun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sah-sah saja melepas sepatu atau sandal sebelum masuk ke dalam rumah.

Bagi saya,  alih-alih meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu, lebih baik meletakkan kesetan agar debu ataupun bekas tanah bisa dibersihkan di kesetan tersebut, sehingga tidak mengotori lantai di dalam rumah.

Jadi, ketika peraturan tentang alas kaki tersebut disampaikan ke saya pertama kali, dengan senang hati saya menyambutnya.

‘Bukan masalah besar, lagipula siapa yang mau memajang sepatu depan pintu kamar, Lagipula jika tidak ada sepatu atau sandal berserakan, lorong kamar akan terlihat lapang dan resik,’batin saya

Tetapi rupanya saya salah duga, para penghuni kost di lantai yang saya tempati ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda.

Bermula dari si J, lulusan universitas luar negeri. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan pertama kali ke rumah kost residence ini. Saat itu, si Ibu pemilik rumah mengajak saya melihat kamar yang terletak di lantai atas alias lantai dua. Ketika melewati kamar si J, sambil menerangkan si penyewa kamar tersebut, dia memanggil si pengurus rumah tangga, katanya ‘Coba bereskan sepatu-sepatu ini, berantakan sekali. Besok kalau dia sudah kembali dari rumahnya, sampaikan sepatu-sepatu harus diletakkan di dalam kamar.’

Dari J berlanjut ke Bapak B. Kebiasaan Bapak B lain lagi. Bapak B menempatkan alas kakinya dengan sangat rapi dan sesuai urutan keluarganya. Bapak-Ibu dan anak serta pembatu. Bedanya Bapak B menaruh sandal, hanya sesekali berganti dengan sepatu dan itupun bisa dihitung dengan jari. Namun, apapun yang diletakkannya selalu sesuai urutan keluarga. Lucunya, sandalnya pun warnanya senada, hitam. Satu-satunya sandal yang warnanya bukan hitam, milik si asisten rumah tangga harian keluarga itu dan satu-satunya sandal yang memiliki tambahan warna milik si kecil.

Dari Bapak B, beralih ke Mbak X. Sampa seperti Bapak B, bedanya di depan pintu kamar Mbak X hanya terletak satu sandal dan sandal itu pun sandal rumah, karena sandal itu tidak pernah terlihat berjalan-jalan hingga keluar. Sesekali, ada sepatu yang tergeletak disamping si sandal tadi. Bedanya sepatu tidak pernah menetap, berbeda dengan si Sandal yang menetap 24 jam, dari pagi ke pagi.

Seperti halnya para pengendara motor yang kerap melanggar aturan, begitu pula dengan urusan peletakan alas kaki di rumah kost ini. Bermula dari kebiasaan satu orang, kemudian kebiasaan itu menimbulkan ide bagi orang lain yang kebetulan memiliki nilai dan pemikiran yang sama. Kebiasaan nona J, berlanjut ke Bapak B dan Mbak X, menimbulkan ide ke penghuni lain yang kebetulan berkebangsaan Eropa.

Entah kenapa, si C, yang memiliki wajah seperti Justin Bieber kalau habis menggunting rambunya, dan berkewarganegaraan tempat si matador bertanding, mendadak sontak memiliki kebiasaan baru, melepas alas kakinya di depan pintu kamarnya. Diawali dengan sepasang sepatu, kemudian berlanjut dengan sepatu olah raganya yang dekil – mungkin karena habis bermain futsal – dan diakhiri dengan sepasang sandal.  Saya benar-benar terheran-heran ketika mendapati fenomena itu. Jika orang Jepang saya masih bisa paham, atau orang Singapura saya pun lebih paham, tapi ini orang Eropa – rasanya sepengetahuan saya mereka tidak memiliki kebiasaan seperti itu. Tapi mungkin inilah yang disebut orang dengan dirasuki roh kebudayaan Indonesia. Mungkin si C  sebenarnya di masa lalu pernah jadi orang Indonesia, walaupun saat dilahirkan kembali dia menjadi orang Eropa. Sehingga ketika dia tinggal di Indonesia, jiwa masa lalunya mengirimkan sinyal ke sinap-sinap di otaknya, dan jadilah kebiasaan baru meletakkan alas kaki di depan pintu kamar.

Tetapi dibandingkan para penghuni kamar lantai atas yang memiliki kebiasaan sama, tidak ada yang sekonyol dan seatraktif  ulah sepasang suami-istri, sebut saja Bapak A dan istrinya. Tampaknya pasangan tersebut memiliki kegemaran untuk memamerkan merk sepatu dan sandalnya di depan pintu kamarnya. Tinggal pilih, mau merk sepatu apa saja juga tersedia, dari yang berlabel Channel, Nike, Adidas, Dior, hingga merk lokal, sandal bali. Dan bukan itu saja, istrinya pun kerap melepaskan alas kakinya secara serampangan, seperti orang yang terburu-buru harus membuang hajat.

Suatu hari, saya pun terkena dampaknya si istri tadi. Saat itu sehabis memasak di dapur, saya bertemu dengan si Mbak X dan suaminya yang kebetulan hendak bepergian. Seperti biasa, sapaan diawali dengan cerita ringan sambil berjalan menuju kamar. Mungkin karena saya tidak berkoensentrasi melihat ranjau sandal atau juga karena saya berjalan terlalu ke kiri, tersandunglah saya dengan sandal si istri Bapak A. Untung saya masih sempat menjaga keseimbangan, kalau tidak bisa dibayangkan adegan piring melayang dan orang jatuh terjerembab dengan halo burung-burung di atas kepala. Tapi yang tidak bisa dijaga ya rasa malu itu ketika mendengar suami Mbak X berseru, ‘hati-hati mbak’.  Sejak saat itu dendam kesumat pun terhadap sandal si istri Bapak A timbul.

Suatu pagi ketika saya hendak melakukan rutinitas pagi, membuat sarapan dan bekal makan siang saya dan si bungsu, sepatu si istri Bapak A tergeletak melintang di tengah jalan. Tanpa pikir panjang lagi, sepatu tersebut saya singkirkan dengan tendangan ringan hingga berakhir di dinding dekat pintu kamarnya. Rasanya saat itu lega sekali bisa membalas dendam kesumat saya. Dan sejak hari itu, setiap kali saya melihat sepatu atau sandal diletakkan secara sembarangan dan bisa menimbulkan kecelakaan ringan penghuni lainnya, saya pun dengan sukacita menggesernya dengan tendangan ringan.

Saya pun tidak habis pikir kenapa peraturan tersebut bisa dibiarkan begitu saja, sementara saya yang memasang kesetan kecil di depan pintu kamar malah dilarang, dengan alasan mengurangi keindahan, takut penghuni lainnya ikut-ikutan memasang kesetan dengan ukuran yang berbeda dan warna yang ajaib.

Jadi, ketika si pengurus rumah tangga lantai dua, mengeluh, ‘Aduh Bu, saya kena marah lagi sama si Ibu pemilik rumah. Katanya sepatu dan sandal itu lain kali dimasukkan saja ke dalam kamar mereka. Beritahu mereka, tidak boleh menaruh sepatu dan sandal di depan pintu,’ceritanya

Saya pun menimpali, ya sampaikan saja ke para peserta alas kaki, jawabnya, ‘Saya sudah bilang berkali-kali, tapi entah kenapa penghuni di lantai ini bandel-bandel, tidak seperti di lantai bawah, kalau diberitahu nurut.’

Saya pun tersenyum dan membatin, ‘terang saja penghuni di bawah penurut, wong kebanyakan bukan orang Indonesia penghuninya. Walaupun sebagian besar penyewanya orang Jepang, tetapi mereka mengerti bahwa rumah kost harus diikuti demi kebaikan bersama. Bedanya dengan penghuni lantai atas, kebiasaan orang Indonesia menular ke non Indonesia. Entah kenapa orang asing yang menjadi penghuni lantai atas, mendadak u menjadi orang Indonesia.’

Lalu saya pun berkomentar,’Bilang saja ke Ibu pemilik rumah untuk menulis surat kepada para penghuni kamar, kalau tidak boleh meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu kamar.’

Ketika saya menuliskan cerita ini, saya pun jadi berpikir, kenapa kebiasaan ini bisa hilang saat kita tinggal di hotel? Padahal kebiasaan membersihkan kamar di hotel juga berlaku di rumah kost residence ini. Pengurus rumah tangganya dengan setia membersihkan dan mengepel kamar sesuai dengan permintaan si penghuni, mau tiap hari atau dua hari sekali atau seminggu sekali.

Jika tidak ingin kamarnya kotor karena kamarnya hanya ingin dibersihkan tiga hari sekali, ya sebelum masuk ke dalam rumah, apa sih susahnya menggunakan kesetan untuk membersihkan alas kaki yang habis bertandang ke mal, lapangan olah raga, supermarket ataupun jalan raya ? Solusi yang menguntungkan bagi kedua-belah pihak bukan, si penghuni dan si pengurus rumah tangga.

Sehingga langkah penyelamatan diri a la pengurus rumah tangga seperti ini tidak perlu diambil, Demi menyelamatkan dirinya dari teguran si Ibu pemilik rumah. si pengurus rumah tangga ini pun menemukan cara ampuh. Di hari inspeksi si pemilik rumah, maka si pengurus rumah tangga memasukkan semua sepatu dan sandal penghuninya ke dalam kamar.

Jika penjual kaki lima kucing-kucingan dengan petugas tramtib, maka setiap hari Kamis menjadi hari kucing-kucingan si pengurus rumah tangga dengan pemilik rumah kost.

Advertisements

Closed Circuit Television

Dulu, ketika saya masih berkantor di seputaran Sudirman, beberapa rekan sekantor saya juga memilih bertempat-tinggal di tengah kota, lebih tepatnya sedekat mungkin dengan kantor.  Alasan mereka saat itu nyaris sama dengan alasan saya saat ini, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencapai rumah atau sebaliknya mencapai kantor sudah tidak tertahankan lagi.

Ketika mereka sibuk bercerita tentang rumah kost mereka dan membandingkan fasilitas rumah kost mereka dengan yang lainnya, saat itu saya masih setia menghabiskan waktu minimal 1.5 jam untuk berangkat dan 1.5 jam untuk pulang dari kantor. Waktu tempuh yang dalam kondisi abnormal – saat Jakarta ditinggalkan penghuninya atau saat dini hari sekitar pukul 01.00 pagi –  hanya menghabiskan waktu sekitar 15-30 menit.

Di antara sekian banyak kisah, cerita mereka tenttang CCTV di rumah kost yang mereka tempati bagi saya cukup menarik. Bukan apa-apa, bagi saya, apa yang harus diawasi di seputaran rumah kost, apalagi jika jelas-jelas mayoritas penghuninya adalah pekerja kantoran dan peraturan yang diterapkan cukup longgar, memasang CCTV adalah kegiatan yang mengada-ada.

CCTV layaknya dipasang di rumah pribadi atau di perkantoran, dimana si empunya rumah bisa memonitor situasi rumah mereka, mengawasi kinerja asisten rumah tangga, mengawasi bagaimana mereka menjaga si kecil. Atau di kantor, dimana CCTV berguna untuk mencegah kehilangan barang-barang karena kantor tersebut menerapkan ‘open-space’.

Tetapi di rumah kost ? Maka, saat itu kami pun terlibat diskusi yang cukup seru, membahas segala kemungkinan yang mungkin terjadi dari yang kony0l hingga yang cukup serius, dari soal ‘membawa tamu tak diundang’ hingga ‘pencurian yang dilakukan pembantu’.

Diskusi yang kemudian berakhir begitu saja, diskusi yang sebenarnya bagian dari obrolan ringan pengantar makan siang dan kemudian terlupakan.

Hingga suatu hari, ketika saya sendiri sudah menjadi bagian dari barisan peserta kost, ada pengumuman tentang pemasangan CCTV di rumah kost yang saya tempati. Saat itu saya baru saja pulang kantor, ketika tiba-tiba pengurus rumah tangga di lantai dua – tempat dimana saya menetap, menghampiri saya.

‘Bu, nanti sama Ibu yang punya rumah mau dipasang CCTV. Saya bilang ke Ibu yang punya rumah, lebih baik tanya dulu, bisa-bisa orang-orang pada gak mau kost disini lagi bu,’ kata si pengurus rumah tangga tiba-tiba

‘Oh ya, tidak masalah koq, silakan saja. Itu sih terserah Ibu yang punya rumah saja, setidaknya rumah ini jadi aman,’ timpal saya – walaupun dalam hati saya bertanya-tanya kenapa ide CCTV mendadak sontak timbul di benak pemilik rumah.

Saya pun kemudian berlalu meninggalkan si penghuni rumah dan sibuk dengan rutinitas pulang kantor – memasak makan malam.

Hingga di suatu sesi acara memasak, ketika satu per satu penghuni mulai berdatangan dan menyibukkan diri dengan kegiatan ‘dapur’, tiba-tiba bergulirlah cerita tentang asal-muasal CCTV.

‘Bu, tahu tidak kalau kaca mobil si B pecah ? tanya bapak A tetangga kamar saya

‘Oh iya, waktu itu ada yang bercerita ke saya, tetapi dia sendiri belum cerita sih.’jawab saya.

Menurut si Bapak A, sebenarnya kemungkinan  besar karena waktu itu kaca mobil depan si B pecah. B pun mengadukan hal itu ke pimpinan rumah kost – yang mengakomodasi segala kebutuhan dan keluhan para penghuni. Si B pun meminta ganti rugi. Masalahnya tidak ada yang tahu siapa yang memecahkan kaca depan mobil si B itu.

Saya pun mengutarakan keheranan saya, karena kaca depan mobil itu pastinya tidak semudah itu retak, apalagi peristiwa retaknya kaca mobil tersebut terjadi saat mobil sedang di parkir di halaman rumah.

Hingga keesokan harinya saya bertemu dengan si B, bercerita tentang hal yang sama termasuk urusan ganti-rugi. Menurut si B, si pemilik rumah enggan memberikan ganti rugi, padahal retaknya kaca depan mobilnya itu diakibatkan oleh si pengurus rumah tangga di lantai yang kami tempati, saat mencuci mobil si B.

‘Si Mas itu kan orangnya memang seenaknya saja, pasti saat dia mencuci mobil dan membersihkan kaca depan, main dibanting saja wipernya. Tapi ya sudahlah, dengan dipasangnya CCTV pastinya si pemilik rumah secara tidak langsung mengakui keteledoran pengurus rumah tangganya.’lanjut si B

Saya pun seperti biasa hanya mengiyakan – wong saya sendiri pun tidak tahu pasti alasan dipasangnya si CCTV.

Bisa jadi karena pecahnya kaca depan mobil si B atau bisa jadi karena ulah penghuni kost seperti yang digosipkan si pengurus rumah tangga ke saya beberapa waktu sesudahnya.

‘Nah, rasakan deh ulah si J dan si C, mereka tidak bisa berduaan seenaknya sampai malam. Tahu gak Bu, mereka itu bahkan sampai naik ke tempat jemuran malam-malam lho. Coba Bu, ngapain malam-malam di atas sana ?  Mana gelap lagi.’cerita Pak K, pengurus rumah tangga lantai 1

Muka saya entah harus ditaruh dimana, ternyata memang benar kata Bapak A, orang belakang – begitu istilah untuk para satpam dan pengurus rumah tangga – banyak gosipnya.