Masak

Believe It or Not – Takdir Menyatukan Kita

Dari sekian banyak kebetulan yang ada, tidak ada satupun yang dirancang oleh manusia. Disadari atau tidak, semuanya berada dalam garis rancangan Tuhan.

Boleh percaya atau tidak, tapi inilah yang terjadi saat saya memilih kamar kost tempat saya bertempat-tinggal hingga hari ini.

Bermula dari keinginan untuk melakukan ‘incognito’ suasana kost di siang hari, saya, si sulung dan sepupu saya mendadak memutuskan meninjau rumah kost pilihan hati sekalian menentukan kamar yang akan dihuni selama si bungsu bersekolah.

Seusai menjelaskan keinginan saya melihat kamar, si pengurus rumah tangga berbaik hati menunjukkan kamar-kamar kosong yang kebetulan berada di lantai dua.

Jadilah kami bertiga melakukan tour de kamar – bagi saya tour de kamar ini merupakan tour de kamar yang kedua kalinya, setelah sebelumnya saya melakukan peninjauan sesaat bersama si bungsu.

Saat itu penghuni kost belumlah sebanyak saat saya masuk, penghuninya masih bisa dihitung dengan jari, sehingga kami beritga dengan bebas berkeliaran melihat-lihat kamar yang akan menjadi pilihan.

Entah kenapa saat itu, si pengurus rumah tidak menunjukkan contoh kamar di lantai satu,  dia tetap dengan pilihannya, sibuk menunjukkan beberapa plihan kamar di lantai dua.

Setelah keluar-masuk beberapa kamar, dari kamar di ujung dekat tangga hingga kamar terakhir dekat dapur, pilihan saya akhirnya jatuh di kamar yang letaknya tidak jauh dari tangga.  Alasannya sederhana, supaya tidak terlalu lelah ketika pulang kantor – maklum naik tangga terakhir hanya dilakukan ketika SMA.

Tetapi, bukan saya namanya kalau tidak dilanda keraguan, apalagi suasana kamar di lantai satu dengan teras yang menyatu dengan rerumputan hijau dan tanaman lainnya begitu menggoda.

Jadilah saya terombang-ambing antara pilihan kamar di lantai bawah atau di lantai atas, antara teras yang menyatu dengan taman kecil versus balkon dengan pemandangan gedung-gedung bertingkat dan hijaunya pepohonan (maklum di sebelah Residence ini belum ada bangunannya, sehingga tidak ada penghalangnya – entah nanti).

Setelah menimbang kiri –  kanan, antara tingkat kelelahan versus kecepatan mencapai halaman, antara teras dengan halaman kecil versus balkon dengan pemandangan luas, ahirnya saya memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke pemilik rumah.

Isinya, saya ingin kamar yang dekat dengan router Wifi, alasannya sederhana agar kenikmatan menjelajah dunia maya tidak terganggu – dengan embel-embel urutan kamar kalau bisa berada di urutan tengah, terlepas di lantai satu atau lantai dua.

Terus terang ketika saya mengirimkan pesan tersebut, saya berharap si pemilik rumah menjawab bahwa kamar yang saya inginkan ada di lantai satu – walaupun saya tahu si bungsu berkeras memilih kamar di lantai dua karena jatuh cinta dengan pemandangan tak terbatas dari kamar.

Namun seperti kata pepatah, ‘Manusia berencana, Tuhan yang menentukan’, begitulah yang terjadi dengan pilihan kamar yang tersedia. Menurut si empunya pemilik rumah, kamar yang letaknya dekat dengan router Wifi ada di lantai dua dan kamar itu pun letaknya tidak jauh dari tangga, ada di urutan kedua setelah sampai di puncak anak tangga. Kamar yang ada di lantai satu masih ada, tapi letaknya agak jauh dari router Wifi di samping agak di ujung dekat dapur.

Apa boleh buat, Tuhan yang menentukan, dan si bungsu pun bersorak gembira, kamar yang diidamkannya sesuai dengan pilihannya, dekat dengan router Wifi dengan pemandangan tak terbatas.

Dan ternyata dibalik pilihan Tuhan tadi, ternyata ada hikmahnya tersendiri.

Percaya atau tidak, seperti sudah direncanakan, para penghuni lantai dua hampir semuanya hobby memasak, baik si Perancis – oh ya, penghuni lantai dua ini multi bangsa – si Spanyol maupun si Indonesia.

Dapurnya pun entah kenapa berbeda dengan dapur di lantai satu, dapur di lantai dua seolah-olah sudah dirancang sedemikian rupa agar bau masakan yang beraneka ragam bisa dengan mudah ditiup angin – dengan dua jendela serta pintu yang mengarah ke area terbuka, benar-benar sempurna.

Dapur di lantai dua pun menjadi ajang para penghuninya bercengkerama, saling bertukar-cerita, menyapa, atau berdiskusi tentang apa saja – dari yang ringan dan lucu hingga yang serius.

Kami pun – para penghuni lantai dua – sering membandingkan keberadaan kita semua dengan penghuni lantai satu dan tentu saja menyatakan keheranan yang tidak ada habisnya, ‘koq bisa ya, semua yang hobby memasak bisa disatukan di lantai dua ?’

Believe it or Not ….

Advertisements