Kejujuran

Kepala Pengurus Rumah Tangga Residence

Siapa bilang hanya istana  atau kepresidenan yang punya Kepala Rumah Tangga, ternyata rumah kost modern aka ‘residence’ juga punya Kepala Rumah Tangga.

Bedanya yang satu berjas, memiliki gelar kependidikan, dan bertugas untuk mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan urusan internal Presiden atau lebih tepatnya membantu Presiden dalam menjalankan tugas kenegaraannya. Sedangkan kepala rumah tangga rumah kost aka residence, jangankan berjas, seragamnya cukup celana pendek selutut, kaos, dan bertugas untuk mengurus urusan rumah tangga para penghuni kost – dari mulai membelikan listrik pra bayar, mengambilkan laundry, membelikan makanan, mencuci mobil hingga urusan membersihkan kamar-kamar penghuni rumah kost.

Kepala rumah tangga kepresidenan memberikan pernyataan kepada media, kepala rumah tangga rumah kost memberikan keterangan kepada para calon penghuni rumah kost. Tetapi yang pasti, kepala rumah tangga kepresidenan tidak pernah masuk dalam daftar tertuduh jika terjadi kehilangan di Istana, beda dengan kepala rumah tangga rumah kost, mereka selalu menjadi sasaran empuk jika terjadi kecurangan ataupun kehilangan di rumah kost.

Baru-baru ini, kepala pengurus rumah tangga lantai dua di rumah kost tempat saya tinggal mendadak menginformasikan bahwa berdasarkan keputusan MPR eh salah Pemilik Rumah Kost, maka dia harus bertukar tempat dengan  si kepala rumah lantai satu. Ketika saya tanyakan alasannya, dia hanya mengatakan bahwa ini pertukaran tempat biasa.

Sayangnya, si kepala pengurus rumah tangga lupa, para penghuni rumah kost lantai dua ini sering bertemu di dapur – maklum kegiatan yang memungkinkan para penghuni berinteraksi ya hanya di dapur – dan terungkaplah cerita di balik batu mengenai pergantian kepala rumah tangga lantai dari si mbak pengasuh anak salah satu penghuni ke penghuni lainnya dan ke penghuni lainnya.

Alasannya sederhana, si kepala pengurus rumah tangga lantai satu, menjadi tersangka ketika salah satu penghuni lantai 1 kehilangan salah satu perhiasannya. Namun karena susah dibuktikan kebenarannya, karena si penghuni kamar itu kebetulan cukup banyak kedatangan tamu – entah saudara entah teman sekerja, maka si pemilik rumah mencari solusi yang membuat tentram semuanya, Pertukaran Kepala Rumah Tangga antar lantai.

Pergantian ini tentu saja tidak serta merta diterima dengan mulus, mengingat ada tugas-tugas tambahan yang diberikan si penghuni kamar kepada si Kepala Rumah Tangga, mulai dari mencuci mobil, mencuci pakaian, membelikan listrik dan sebagainya, dan sebagainya.

Tidak semuanya juga bahagia, ada yang apatis, ada yang bahagia dan ada yang berat hati. Saya termasuk barisan berat hati, maklum karena si Kepala Rumah Tangga yang dipindahkan ini orangnya cukup lugas dan gemar menantang para penghuni yang dianggap berseberangan dengan peraturannya.

Bisa dimengerti sih, apalagi dibandingkan pengurus rumah tangga yang satunya lagi, keahlian si kepala rumah tangga baru ini lebih banyak dari yang pertama. Penghuni lantai dilarang protes dan pemilik rumah kost pun tidak ingin diprotes, jadi apa pun yang dirasakan si penghuni lantai dua terhadap si Kepala Rumah Tangga baru harus diterima.

Jadilah kami – para penghuni – mulai saling berbisik dan bergosip tentang si kepala rumah tangga baru. Bapak A mengeluhkan uang yang harus diberikan, soalnya selama ini Bapak A memberikan uangnya sekaligus, uang cuci mobil dan uang tanda terima kasih karena urusan bersih-bersih. Ibu B lain lagi, baginya si kepala pengurus rumah tangga rumah kost ini cukup mumpuni dalam tugasnya, buktinya kamarnya sekarang kinclong. Bapak C, entah kenapa meragukan integritas si kepala rumah tangga baru ini  – soalnya beliau berhasil memergoki si Kepala Pengurus Rumah Tangga baru ini dengan seenaknya menyalakan listrik dan mencharge HPnya di kamar Bapak C.

Lagu bagaimana dengan saya ?

Beberapa waktu lalu setelah kenaikan tarif listrik yang terjadi tanpa pengumuman resmi, saya pun mulai mencatat pemakaian kwh saya setiap hari.  Gara-garanya sepele, karena mendadak jumlah kwh yang biasanya tidak berkurang jauh dari jumlah uang yang saya alokasikan untuk listrik pra bayar, sekarang menjadi berkurang cukup banyak. Dan tentu saja ketika mendadak berkurang cukup banyak, maka saya pun penasaran untuk mengetahui berapa banyak sih pemakaian kwh saya setiap hari. Sehingga sejak saat itu, saya pun mulai mencatat dengan sembunyi-sembunyi berapa sisa kwh sebelum listrik saya matikan saat saya dan si kecil berangkat pagi-pagi. Saya pun mewanti-wanti si kecil agar mencocokkan jumlah kwh jika dia tiba dari sekolah.

Semua berjalan normal, hingga tiba saatnya ketika saya kembali ke rumah pada hari Sabtu dan kembali lagi ke rumah kost pada hari Minggu. Mendadak jumlah kwh saya berkurang cukup signifikan. Apalagi ketika saya tiba, listrik saya sudah menyala. Ini bukan yang pertama tapi pengurangan kwh yang cukup signifikan sudah melebihi ambang batas kesabaran saya.

Nah karena si Kepala Pengurus Rumah Tangga pindahan dari lantai satu selalu merasa dirinya lebih senior dan tidak segan-segan menegur penghuni kamar, jadilah saya menggunakan taktik sindiran secara halus. Saya dengan resmi menempelkan kertas yang mencatat kwh saat saya meninggalkan kamar kost dan saat saya/si kecil tiba dari sekolah. Dan sejak saat itu, tingkat kepercayaan saya pada si Kepala Pengurus Rumah Tangga pun berkurang.

Kalau ditanya, jika boleh memilih, saya tentu saja akan memilih Kepala Rumah Tangga yang sekarang pindah tugas menjadi Kepala Rumah Tangga lantai satu. Apakah si Kepala Rumah Tangga yang pindah tugas itu baik ?

Pada dasarnya mereka sama saja, dua-duanya sama malasnya, bedanya yang dulu jauh lebih baik dibandingkan yang sekarang. Kepala Rumah Tangga yang dulu, selalu membiarkan dapur terawat dengan baik, lantai selalu bersih, tidak seperti sekarang ini, kompor dibiarkan saja dipenuhi dengan sisa minyak hasil menggoreng. Jadwal membersihkan kompor mungkin setiap dua minggu sekali. Lantai dapur ? Cukup dibersihkan pagi-pagi sekali, kadang saat penghuni sedang melakukan ritual memasaknya.

Bagaimana dengan kebersihan kamar saya ? Wah saya tetap memilih Kepala Rumah Tangga yang pertama, dia tetap lebih bersih. Yang sekarang ini bahkan tidak pernah membersihkan wastafel dan kaca toilet. Kata salah satu penghuni kost yang selantai dengan saya, si Kepala Rumah Tangga yang dulu itu melayani saya dengan baik karena saya memberikannya tugas tambahan, mencuci mobil. Jadi ada tambahan penghasilan dari gaji bulanannya. Nah, kalau saya tidak memberikan tugas tambahan, menurut salah satu teman tadi, pastinya dia akan lebih buruk dari yang sekarang ini.

Benar atau tidak hipotesanya ? Saya tidak tahu, bisa ya bisa tidak. Namanya juga manusia, pasti ada sifat baik, ada sifat buruknya. Yang pasti sejak kejadian itu saya belajar bagaimana menegur orang tanpa harus meninggikan suara, menegur tetap bisa dilakukan dengan cara sindiran.