Kebiasaan

Kucing liar dan Pertemanan

 

Di rumah kost yang saya tinggali ini, kami, para penghuni, tidak dibenarkan memelihara hewan peliharaan, sejinak apapun si hewan peliharaan itu. Entah kalau hewan peliharaan itu hidupnya di kandang, seperti burung misalnya, kemungkinan besar diperbolehkan.

Nah, karena para penghuni kost saat menyewa kamar mereka masing-masing tidak pernah mempertanyakan klasifikasi hewan peliharaan yang diperbolehkan versus yang dilarang, jadilah para pencinta hewan terpaksa harus menahan keinginannya kuat-kuat.

Hingga tibalah suatu hari, ketika si Perancis masih menjadi penghuni lantai dua, mendadak memiliki ide cemerlang, memberi makan kucing liar yang berkeliaran di halaman rumah.

Saya masih ingat, si Perancis bahkan selalu membeli potongan daging ayam yang sudah di’fillet’ untuk si kucing liar.

Bukan hal asing bagi saya, setiap pulang kantor di malam hari, berpapasan dengan si Perancis yang sibuk memberi makan si kucing liar.  Dan lucunya, kucing liar yang diberi makan pun selalu kucing liar yang sama.

Kebiasaan si Perancis rupanya awal dari kisah-kisah pertemanan penghuni kost dengan kucing liar yang entah kenapa dalam 1 tahun terakhir ini menjadi bertambah banyak.

Sesudah si Perancis pergi entah kemana, di suatu sore, ketika saya sedang bersusah-payah membuka pintu masuk yang lumayan berat, tiba-tiba sudut mata saya menangkap peristiwa yang tidak biasa.

Tepat di sudut kiri ruangan tamu lantai 1, satu-satunya anak kecil penghuni rumah kost sedang sibuk mengamati kardus di depannya. Saya yang selalu didera rasa penasaran, langsung melongok isi kardus, dan betapa terkejutnya saya mendapati si induk kucing dengan lima anak kucing yang masih mungil-mungil. Dan kali ini bukan si Perancis yang sibuk dengan kucing liarnya, tetapi si anak kecil tadi yang sibuk dengan susu ultra untuk si kucing.

Hari-hari selanjutnya, saya punya aktifitas baru, mengamati si anak kucing yang baru lahir bersama si anak kecil tetangga saya.

Hingga suatu sore, si kardus menghilang. Ketika saya bertanya ke si pengurus rumah tangga, katanya,’Oh kucingnya saya titip di rumah sebelah Bu, soalnya tadi yang punya rumah kesini dan katanya tidak boleh ada kucing di dalam rumah.’

Rasanya saat itu ada yang  hilang dan sejak itu saya berjanji untuk tidak lagi mempedulikan kucing-kucing liar yang ada di halaman.

Tapi Tuhan rupanya berkehendak lain, di suatu hari, ada dua penghuni baru di lantai 1. Sepasang suami-istri yang sudah berumur. Si suami bekerja tidak jauh dari rumah kost, dan sang istri memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Dan penghuni kedua, seorang wanita muda.

Semula semua berjalan normal, hingga suatu pagi, mendadak ada pemandangan baru yang tidak asing lagi bagi saya, para kucing berkumpul menunggu pembagian makanan.

Tebak, siapa si pemberi makanan? Siapa lagi kalau bukan si Ibu sepuh tadi. Bahkan sang Ibu itu jauh lebih telaten dari si Perancis. Setiap pagi si Ibu selalu membeli ikan di abang tukang sayur,  khusus untuk para kucing liar. Ibu sepuh ini sangat telaten mencacah ikan mentah tadi, mencampurnya dengan nasi, sebelum membagi nasi itu sesuai dengan jumlah kucing yang ada.

Tetapi bukan itu saja yang membuat saya terkagum-kagum, si penghuni kedua, si wanita muda tadi, rupanya mempunyai kecintaan yang sama terhadap kucing. Kecintaan terhadap hewan yang sama, rupanya mempererat pertemanan mereka.

Jika si Ibu Sepuh sedang kembali ke Bandung, dengan senang hati si Mbak Mega -begitu ia menyebutkan namanya ketika saya sedang takjub melihat perkembangan para kucing liarnya- menggantikan tugas si Ibu Sepuh membagikan makanan barisan kucing liar yang beranak-pinak itu.

Bahkan pertemanan si Ibu Sepuh dan Mbak Mega itu, juga menular ke barisan kucing peliharaan mereka. Pertemanan sesama kucing liar juga semakin erat. Mereka bahkan seperti punya peraturan sendiri, siapa yang boleh masuk, siapa yang cukup duduk di depan pintu, dan siapa yang jadi si bandel – berkeliaran mengaduk-aduk tempat sampah di lantai 2.

Saya yang semula menebalkan hati agar tidak terusik dengan permintaan mengiba si kucing, akhirnya tertular kebiasaan si Ibu Sepuh dan Mbak Mega. Tidak seekstrim mereka, tetapi cukup membuat putri saya kesal, karena setiap kali berbelanja ke supermarket, ada tambahan makanan kucing di tas belanja saya.

 

 

 

 

Rak Sepatu ala Penghuni Rumah Kost Modern – Residence

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang Barisan Alas Kaki di rumah kost modern – residence, yang saya huni. Barisan alas kaki yang entah kenapa hanya bisa ditemui di lantai atas, sementara di lantai bawah, jangankan bentuknya, jejaknya saja pun tidak terlihat.

Saya mencoba untuk mencari alasan yang masuk akal, tapi hingga saya menulis postingan ini, tetap saja tidak berhasil menemukan alasan yang tepat.

Alasan pertama, penghuni lantai bawah kebanyakan orang asing, ternyata tidak juga, komposisi orang asing antara penghuni lantah bawah dan atas sama.  Alasan kedua, penghuni lantai bawah secara status sosial ekonomi lebih ‘tinggi’, juga tidak, wong sewa kamarnya saja sama, bahkan penghuni kamar di lantai atas, ada yang membawa 2 mobil.

Hingga akhirnya saya berkesimpulan,  jika melihat rumah-rumah orang Indonesia pada umumnya,  maka pasti berparadelah para barisan alas kaki  ini adalah semata budaya atau kebiasaan. Orang Indonesia pada umumnya terbiasa menanggalkan sepatunya saat berkunjung ke rumah lain. Saya tidak tahu apa yang mendasari kebiasaan itu, mengingat saya tidak pernah diajari untuk melakukan hal tersebut, tapi mungkin juga alasan utamanya karena keengganan untuk membawa tamu yang tak diundang – kotoran yang melekat di sepatu.

Saya pun akhirnya dengan terpaksa menerima kebiasaan barisan alas kaki yang terjadi di lantai atas dimana saya tinggal. Walaupun kadang rasa iri melanda melihat tingkat keindahan dan kerapian lantai bawah, tapi apa boleh buat, pilihan untuk bertempat-tinggal di lantai atas sudah saya tetapkan.

Apalagi mengingat betapa putus-asanya si empunya pemillik rumah kost modern – residence ini ketika melakukan inspeksi. Saya menyaksikan bagaimana ia bolak-balik menyuruh si pengurus rumah tangganya untuk menegur pemilik alas kaki tersebut agar memasukkan alas kaki mereka ke dalam kamar, tapi tetap saja tidak ada perubahan berarti. Bahkan mereka yang meletakkan alas kakinya di depan pintu semakin bertambah.

Sayangnya ketika saya bisa menerima kebiasaan berderetnya barisan alas kaki di depan pintu kamar, tiba-tiba di suatu hari yang melelahkan, saat saya tiba di lantai dua, mendadak mata saya menangkap benda plastik segi empat, terbagi atas dua tingkatan dan berwarna merah jambu, Benda plastik berwarna ajaib itu dengan manisnya terletak di depan pintu kamar tetangga kamar di seberang kamar saya dan berisikan deretan sepatu si empunya kamar.

Rasanya saat itu ingin berteriak dan menegur si pengurus rumah tangga yang tidak bisa berkutik menegur si empunya kamar. Kesal bercampur-aduk dengan amarah, karena apa yang saya takutkan akhirnya menjadi kenyataan.

Rumah kost aka residence yang saya banggakan sekelas dengan apartemen, mendadak seperti salah satu rumah kost yang kebetulan terletak di seberang rumah kost saya ini. Kumuh, gelap dan nyaris seperti tidak terurus. Padahal mobil-mobil yang parkir di halaman rumah itu bukanlah kelas Avanza.

Saya pun tak habis pikir mengapa tiba-tiba ia mengeluarkan rak sepatu plastik merah jambunya yang bertabrakan dengan warna dan gaya minimalis rumah kost residence. Mungkin karena kamarnya sendiri sudah penuh dengan barang-barang, atau mungkin supaya ia dengan mudah melepas dan mengganti sepatunya atau mungkin karena ia ingin memamerkan brand sepatunya yang lumayan mahal dari sepatu olah raga suaminya – adidas, nike, reebok – hingga sepatunya yang berbagai rupa dari flip-flop, guess, dan disainer ternama – entah saya lupa namanya.

Saya tidak iri dengan deretan sepatunya yang terdiri dari merk ternama – tidak ada merk lokal kecuali sandal jepit – wong selera sepatunya beda 180 derajat dengan saya. Yang membuat saya kesal, karena rak sepatu plastik dengan warna norak itu selalu menjadi pemandangan yang harus saya lihat setiap kali saya membuka dan menutup pintu kamar.

Saya tidak bisa membayangkan penghuni lainnya suatu saat terinspirasi olehnya dan memajang rak sepatu mereka di depan pintu kamar.

Bayangkan jika jalanan di depan kamar kami semua, di pinggirnya berderet rak-rak sepatu berbagai bentuk. Dan karena rak sepatu selalu dianggap bukanlah bagian dari ‘gengsi’, bisa saja rak plastik dengan berbagai warna menjadi pemandangan utama.

Untunglah penghuni lainnya tidak ada yang mengikuti jejak si pemilik kamar. Satu-satunya pemandangan rak sepatu hanya terjadi di depan kamarnya saja.

Mungkin begitulah watak orang Indonesia, ketika mereka mendadak berpunya dan merasa memiliki uang, yang penting saya nyaman, peduli setan dengan orang lain. Mirip dengan para pengendara motor di jalan, yang penting saya bisa lewat dan cepat, peduli setan dengan peraturan lalu lintas.

Balkon dan Tanaman – Sudut Favorit

Jika saya harus memilih sudut yang paling saya sukai di rumah kost residence tempat saya tinggal saat ini, tanpa berpikir-panjang lagi saya akan memilih balkon kamar saya.

Alasannya sederhana, karena akhirnya setelah 6 bulan menimbang-nimbang, bolak-balik mampir ke Ace Hardware, mencoba setiap macam kursi, akhirnya saya berhasil memiliki kursi yang bisa saya letakkan di balkon kamar saya.

Kursi yang berfungsi sebagai kursi goyang tempat saya menuliskan cerita saya tentang rumah kost, atau tempat saya melepaskan penat sambil memandangi lampu-lampu apartemen di kejauhan atau hanya sekedar memejamkan mata ditemani semilir angin malam, dan tanaman rambat yang khusus saya beli agar balkon saya setara dengan para penghuni lantai bawah yang memiliki teras dan halaman kecil di depan kamarnya.

Sepengetahuan saya, di deretan balkon sisi timur lantai dua ini, hanya saya sendiri yang memiliki tanaman dan pot tanaman, sementara penghuni lainnya – berdasarkan hasil pengamatan saya ketika menjemur pakaian – tidak menganggap balkon mereka sebagai tempat istimewa, tempat yang bisa dinikmati untuk melepas lelah.

Saya tidak tahu para penghuni di sisi barat, namun yang saya tahu pasti, salah satu teman saya yang berada di sisi Barat, juga memiliki kebiasaan yang sama dengan saya. Bedanya, teman saya itu, nona A, menaruh sepasang meja dan kursi serta membeli beberapa bunga, untuk menemaninya menikmati sore ataupun matahari pagi.

Ide untuk menaruh kursi dan tanaman sebenarnya sudah lama terbersit di benak saya, namun karena satu dan lain hal, akhirnya ide tersebut saya simpan di sudut paling dalam. Sampai akhirnya, di salah satu perbincangan saya dan nona A saat kami kebetulan sedang berada di jam yang sama di sesi memasak, kami saling melontarkan ide untuk mempercantik balkon.

Berbeda dengan saya, nona A langsung mengutarakan niatnya ke si Pemilik Rumah, dan segera membeli tanaman berbunga untuk mewujudkan idenya.

Sementara saya, setelah berpikir bolak-balik, memutuskan untuk membeli tanaman terlebih dulu, sedangkan pembelian kursi harus saya putuskan matang-matang, bukan apa-apa, kursi itu menentukan apakah balkon itu akhirnya menjadi tempat senikmat yang dibayangkan saat ide awal itu muncul.

Kriteria kursi itu setidaknya harus empuk, tidak panas, dan bahannya pun harus yang tahan-banting terhadap cuaca baik saat diterpa matahari ataupun diterpa air hujan. Maksimal kursi itu harus memiliki 2 seater – pilihan yang kemudian menjadi single seater karena si kecil memutuskan tidak mau mengikuti jejak saya, kecuali kursi yang saya pilih kursi yang berfungsi ganda sebagai ayunan. Dan seperti biasa, dari semua kriteria itu, yang terutama adalah harga, saya tidak ingin membeli kursi yang harganya selangit, rasanya kurang pas saja.

Sehingga tentu saja saya tidak bisa secepat Nona A dalam memilih perabotan balkon, semua harus memiliki pertimbangan matang.

Di hari saya memutuskan membeli kursi balkon ini, saya berkunjung ke Ace Hardware dengan dua lokasi yang berbeda, mencoba kursi yang sama di dua lokasi tersebut, sebelum akhirnya kursi tersebut saya persunting.

Rasanya dunia menjadi milik saya ketika kursi tersebut menjadi penghuni balkon kamar. Saya pun mendadak diserang penyakit aneh, mendadak ingin pulang tepat waktu – bahkan kalau bisa pulang lebih awal – hanya untuk sekedar merasakan nikmatnya duduk di kursi goyang di balkon kamar.

Entah kenapa, sejak memiliki kursi ini, saya seperti mendadak mendapat energi baru untuk menulis dan membaca buku, walaupun tidak semuanya sukses saya jalankan, karena pernah di suatu malam, saya tertidur di kursi dengan laptop yang masih terbuka dan di suatu malam lainnya, saya sempat berkelana di alam mimpi dengan buku terbuka di pangkuan.

Saya pun jadi memiliki kebiasaan baru, mengamati kondisi teras tetangga bawah saat menjemur pakaian, hanya untuk sekedar mengamati apakah ada ide tambahan yang bisa saya ikuti dari penghuni lantai bawah.

Dan saya pun memiliki rencana tambahan, membeli lemari kecil yang bisa saya letakkan di balkon untuk menampung beberapa barang dan juga menaruh pot tanaman berbunga yang akan saya beli nantinya. Tetapi yang pasti, lemari kecil dan tanaman berbunga masih sebatas angan-angan. Perlu saya endapkan terlebih dulu.

Saya jadi teringat apartemen CEO saya di perusahaan terdahulu. Ketika itu kami semua diundang ke apartemennya untuk merayakan hari natal. Di balkon apartemennya, istri sang CEO meletakkan sepasang kursi dan meja, serta membuat taman kecil di sudut balkonnya itu. Saat itu saya mencoba merasakan nikmatnya balkon beliau, sambil membayangkan nikmatnya memandang Jakarta dengan kerlap-kerlip lampunya.

Saya pun membatin, suatu saat kalau saya mendapatkan kesempatan memiliki apartemen dengan balkon seperti beliau, balkon itu akan saya dandani seperti bakon beliau.

Ternyata, tanpa saya sangka, kesempatan itu ada, dan saya pun memiliki balkon idaman yang mirip dengan balkon apartemen beliau.

Jadi, sudut mana yang paling saya rindukan dari kamar kost residence saya ? Balkon kamar sayalah yang paling saya rindukan, tempat dimana saya menghabiskan ‘me time’ saya.

Barisan Alas Kaki

Di rumah kost yang saya huni, ada beberapa peraturan wajib yang harus diikuti para penghuninya, salah satunya tentang meletakkan alas kaki di depan pintu kamar. Alasannya sederhana, agar rumah kost terlihat bersih dan apik, disamping tentu saja mencegah agar penghuni lainnya tidak tersandung alas kaki alias sepatu atau sandal yang diletakkan sembarangan.

Bagi saya, peraturan itu kebetulan sejalan dengan kebiasaan saya yang tidak meletakkan sepatu atau pun sandal di depan pintu rumah saya. Rasanya risih dan menimbulkan kesan berantakan jika barisan sepatu atau sandal digeletakkan begitu saja di depan pintu rumah. Walaupun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sah-sah saja melepas sepatu atau sandal sebelum masuk ke dalam rumah.

Bagi saya,  alih-alih meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu, lebih baik meletakkan kesetan agar debu ataupun bekas tanah bisa dibersihkan di kesetan tersebut, sehingga tidak mengotori lantai di dalam rumah.

Jadi, ketika peraturan tentang alas kaki tersebut disampaikan ke saya pertama kali, dengan senang hati saya menyambutnya.

‘Bukan masalah besar, lagipula siapa yang mau memajang sepatu depan pintu kamar, Lagipula jika tidak ada sepatu atau sandal berserakan, lorong kamar akan terlihat lapang dan resik,’batin saya

Tetapi rupanya saya salah duga, para penghuni kost di lantai yang saya tempati ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda.

Bermula dari si J, lulusan universitas luar negeri. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan pertama kali ke rumah kost residence ini. Saat itu, si Ibu pemilik rumah mengajak saya melihat kamar yang terletak di lantai atas alias lantai dua. Ketika melewati kamar si J, sambil menerangkan si penyewa kamar tersebut, dia memanggil si pengurus rumah tangga, katanya ‘Coba bereskan sepatu-sepatu ini, berantakan sekali. Besok kalau dia sudah kembali dari rumahnya, sampaikan sepatu-sepatu harus diletakkan di dalam kamar.’

Dari J berlanjut ke Bapak B. Kebiasaan Bapak B lain lagi. Bapak B menempatkan alas kakinya dengan sangat rapi dan sesuai urutan keluarganya. Bapak-Ibu dan anak serta pembatu. Bedanya Bapak B menaruh sandal, hanya sesekali berganti dengan sepatu dan itupun bisa dihitung dengan jari. Namun, apapun yang diletakkannya selalu sesuai urutan keluarga. Lucunya, sandalnya pun warnanya senada, hitam. Satu-satunya sandal yang warnanya bukan hitam, milik si asisten rumah tangga harian keluarga itu dan satu-satunya sandal yang memiliki tambahan warna milik si kecil.

Dari Bapak B, beralih ke Mbak X. Sampa seperti Bapak B, bedanya di depan pintu kamar Mbak X hanya terletak satu sandal dan sandal itu pun sandal rumah, karena sandal itu tidak pernah terlihat berjalan-jalan hingga keluar. Sesekali, ada sepatu yang tergeletak disamping si sandal tadi. Bedanya sepatu tidak pernah menetap, berbeda dengan si Sandal yang menetap 24 jam, dari pagi ke pagi.

Seperti halnya para pengendara motor yang kerap melanggar aturan, begitu pula dengan urusan peletakan alas kaki di rumah kost ini. Bermula dari kebiasaan satu orang, kemudian kebiasaan itu menimbulkan ide bagi orang lain yang kebetulan memiliki nilai dan pemikiran yang sama. Kebiasaan nona J, berlanjut ke Bapak B dan Mbak X, menimbulkan ide ke penghuni lain yang kebetulan berkebangsaan Eropa.

Entah kenapa, si C, yang memiliki wajah seperti Justin Bieber kalau habis menggunting rambunya, dan berkewarganegaraan tempat si matador bertanding, mendadak sontak memiliki kebiasaan baru, melepas alas kakinya di depan pintu kamarnya. Diawali dengan sepasang sepatu, kemudian berlanjut dengan sepatu olah raganya yang dekil – mungkin karena habis bermain futsal – dan diakhiri dengan sepasang sandal.  Saya benar-benar terheran-heran ketika mendapati fenomena itu. Jika orang Jepang saya masih bisa paham, atau orang Singapura saya pun lebih paham, tapi ini orang Eropa – rasanya sepengetahuan saya mereka tidak memiliki kebiasaan seperti itu. Tapi mungkin inilah yang disebut orang dengan dirasuki roh kebudayaan Indonesia. Mungkin si C  sebenarnya di masa lalu pernah jadi orang Indonesia, walaupun saat dilahirkan kembali dia menjadi orang Eropa. Sehingga ketika dia tinggal di Indonesia, jiwa masa lalunya mengirimkan sinyal ke sinap-sinap di otaknya, dan jadilah kebiasaan baru meletakkan alas kaki di depan pintu kamar.

Tetapi dibandingkan para penghuni kamar lantai atas yang memiliki kebiasaan sama, tidak ada yang sekonyol dan seatraktif  ulah sepasang suami-istri, sebut saja Bapak A dan istrinya. Tampaknya pasangan tersebut memiliki kegemaran untuk memamerkan merk sepatu dan sandalnya di depan pintu kamarnya. Tinggal pilih, mau merk sepatu apa saja juga tersedia, dari yang berlabel Channel, Nike, Adidas, Dior, hingga merk lokal, sandal bali. Dan bukan itu saja, istrinya pun kerap melepaskan alas kakinya secara serampangan, seperti orang yang terburu-buru harus membuang hajat.

Suatu hari, saya pun terkena dampaknya si istri tadi. Saat itu sehabis memasak di dapur, saya bertemu dengan si Mbak X dan suaminya yang kebetulan hendak bepergian. Seperti biasa, sapaan diawali dengan cerita ringan sambil berjalan menuju kamar. Mungkin karena saya tidak berkoensentrasi melihat ranjau sandal atau juga karena saya berjalan terlalu ke kiri, tersandunglah saya dengan sandal si istri Bapak A. Untung saya masih sempat menjaga keseimbangan, kalau tidak bisa dibayangkan adegan piring melayang dan orang jatuh terjerembab dengan halo burung-burung di atas kepala. Tapi yang tidak bisa dijaga ya rasa malu itu ketika mendengar suami Mbak X berseru, ‘hati-hati mbak’.  Sejak saat itu dendam kesumat pun terhadap sandal si istri Bapak A timbul.

Suatu pagi ketika saya hendak melakukan rutinitas pagi, membuat sarapan dan bekal makan siang saya dan si bungsu, sepatu si istri Bapak A tergeletak melintang di tengah jalan. Tanpa pikir panjang lagi, sepatu tersebut saya singkirkan dengan tendangan ringan hingga berakhir di dinding dekat pintu kamarnya. Rasanya saat itu lega sekali bisa membalas dendam kesumat saya. Dan sejak hari itu, setiap kali saya melihat sepatu atau sandal diletakkan secara sembarangan dan bisa menimbulkan kecelakaan ringan penghuni lainnya, saya pun dengan sukacita menggesernya dengan tendangan ringan.

Saya pun tidak habis pikir kenapa peraturan tersebut bisa dibiarkan begitu saja, sementara saya yang memasang kesetan kecil di depan pintu kamar malah dilarang, dengan alasan mengurangi keindahan, takut penghuni lainnya ikut-ikutan memasang kesetan dengan ukuran yang berbeda dan warna yang ajaib.

Jadi, ketika si pengurus rumah tangga lantai dua, mengeluh, ‘Aduh Bu, saya kena marah lagi sama si Ibu pemilik rumah. Katanya sepatu dan sandal itu lain kali dimasukkan saja ke dalam kamar mereka. Beritahu mereka, tidak boleh menaruh sepatu dan sandal di depan pintu,’ceritanya

Saya pun menimpali, ya sampaikan saja ke para peserta alas kaki, jawabnya, ‘Saya sudah bilang berkali-kali, tapi entah kenapa penghuni di lantai ini bandel-bandel, tidak seperti di lantai bawah, kalau diberitahu nurut.’

Saya pun tersenyum dan membatin, ‘terang saja penghuni di bawah penurut, wong kebanyakan bukan orang Indonesia penghuninya. Walaupun sebagian besar penyewanya orang Jepang, tetapi mereka mengerti bahwa rumah kost harus diikuti demi kebaikan bersama. Bedanya dengan penghuni lantai atas, kebiasaan orang Indonesia menular ke non Indonesia. Entah kenapa orang asing yang menjadi penghuni lantai atas, mendadak u menjadi orang Indonesia.’

Lalu saya pun berkomentar,’Bilang saja ke Ibu pemilik rumah untuk menulis surat kepada para penghuni kamar, kalau tidak boleh meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu kamar.’

Ketika saya menuliskan cerita ini, saya pun jadi berpikir, kenapa kebiasaan ini bisa hilang saat kita tinggal di hotel? Padahal kebiasaan membersihkan kamar di hotel juga berlaku di rumah kost residence ini. Pengurus rumah tangganya dengan setia membersihkan dan mengepel kamar sesuai dengan permintaan si penghuni, mau tiap hari atau dua hari sekali atau seminggu sekali.

Jika tidak ingin kamarnya kotor karena kamarnya hanya ingin dibersihkan tiga hari sekali, ya sebelum masuk ke dalam rumah, apa sih susahnya menggunakan kesetan untuk membersihkan alas kaki yang habis bertandang ke mal, lapangan olah raga, supermarket ataupun jalan raya ? Solusi yang menguntungkan bagi kedua-belah pihak bukan, si penghuni dan si pengurus rumah tangga.

Sehingga langkah penyelamatan diri a la pengurus rumah tangga seperti ini tidak perlu diambil, Demi menyelamatkan dirinya dari teguran si Ibu pemilik rumah. si pengurus rumah tangga ini pun menemukan cara ampuh. Di hari inspeksi si pemilik rumah, maka si pengurus rumah tangga memasukkan semua sepatu dan sandal penghuninya ke dalam kamar.

Jika penjual kaki lima kucing-kucingan dengan petugas tramtib, maka setiap hari Kamis menjadi hari kucing-kucingan si pengurus rumah tangga dengan pemilik rumah kost.