Gosip

Close Personal Circuit Television

Beberapa waktu lalu, saat saya  sedang menikmati makan malam perpisahan dengan salah satu teman dekat sahabat saya, berceritalah suami sahabat saya tadi tentang pengalamannya mengantarkan kue ke tempat kost saya.

‘Wah, hebat sekali Pak Satpam di tempat kost dia, up to date. Waktu gue anterin kue ke rumah kostnya, Pak Satpamnya langsung kasih laporan pandangan mata. Katanya, maaf Pak, Ibu belum pulang, tetapi anaknya sudah pulang, baru saja. Kuenya dititip di saya saja Pak.’

Kemudian berceritalah saya, kalau barisan Pak Satpam di tempat kost residence saya, benar-benar berdedikasi dan tahu kegiatan penghuninya. Dari siapa yang berangkat paling pagi, siapa yang paling parah menyetir – khusus kemampuan menyetir berdasarkan  pengamatan menyetir berdasarkan cara parkir – sampai siapa yang diduga berpacaran dengan siapa.

Saya sendiri pun terheran-heran dengan kepiawaian mereka dalam melakukan pengamatan, di satu sisi kadang-kadang saya merasa pengamatan mereka terlalu detil – rasanya nyaris tidak ada cerita yang bisa dirahasiakan dari mereka – namun di sisi lainnya, saya merasa berterimakasih karena mereka selalu melaporkan jam pulang sekolah si kecil jika tidak seperti biasanya dan kendaraan yang ditumpanginya.

Laporan mereka pun tidak pernah meleset tingkat keakuratannya, dan selalu disampaikan begitu saya selesai memarkirkan mobil.

‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya agak sore. Biasanya jam 3 sudah sampai rumah, ini jam 5,’lapor si Bapak Satpam 1 atau ‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya naik ojek, biasanya pulangnya naik taxi,’lapor si Bapak Satpam 2

Dan saya pun mengkonfirmasikannya dengan menyampaikan sebab-musabab si kecil pulang terlambat, atau hanya tersenyum-simpul ketika tahu si kecil pulang naik ojek – maklum ojek adalah kendaraan terlarang walaupun masuk dalam kategori praktis dan cepat.

Suatu ketika, saya terpaksa harus terbaring sakit karena diare hebat dan tidak bisa menelan makanan apa pun selain bubur. Terpaksalah saya meminta tolong si pengurus rumah tangga untuk mencarikan restoran yang menjual bubur ayam atau bubur Cina. Saya mewanti-wanti pengurus rumah tangga untuk tidak membelikan bubur yang dijual di pinggir jalan.

Tidak lama kemudian, sepupu saya yang tinggal tidak jauh dari tempat saya kost tiba di tempat kost mengantarkan bubur. Kalimat pertama yang disampaikannya, ‘Wah, Pak Satpam tahu ya kalau lo diare. Soalnya pas gue datang bawa makanan. Pak Satpamnya tanya, itu bubur ayam ya Bu ? Terus kata Pak Satpamnya lagi, Wah syukurlah Ibu bawa bubur, soalnya kita semua lagi bingung mau beli bubur ayam restoran disini dimana ya.’

Bukan itu saja, lanjut sepupu saya, ‘Pak Satpamnya tanya, Ibu beli dimana bubur ayamnya. Setelah gue bilang, gue bikin sendiri, Pak Satpamnya bilang wah kalau begitu memang gak ada ya Bu, restoran yang jual bubur ;ayam.’

Saya yang mendegar cerita sepupu saya hanya tersenyum simpul, sambil membayangkan kegaduhan yang timbul gara-gara permintaan saya minta dibelikan bubur.

Dan tertawa ketika karib saya berkomentar lagi, ‘Gue tahu sih kalo rumah kost residence lo punya CCTV, tapi gue rasa pemiliknya sebaiknya gak pasang CCTV deh. Barisan Pak Satpam lo itu sudah lebih keren dari CCTV, kalau mereka namanya ‘Close Personal Circuit Television’ alias Kepo,’

 

Advertisements

Closed Circuit Television

Dulu, ketika saya masih berkantor di seputaran Sudirman, beberapa rekan sekantor saya juga memilih bertempat-tinggal di tengah kota, lebih tepatnya sedekat mungkin dengan kantor.  Alasan mereka saat itu nyaris sama dengan alasan saya saat ini, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencapai rumah atau sebaliknya mencapai kantor sudah tidak tertahankan lagi.

Ketika mereka sibuk bercerita tentang rumah kost mereka dan membandingkan fasilitas rumah kost mereka dengan yang lainnya, saat itu saya masih setia menghabiskan waktu minimal 1.5 jam untuk berangkat dan 1.5 jam untuk pulang dari kantor. Waktu tempuh yang dalam kondisi abnormal – saat Jakarta ditinggalkan penghuninya atau saat dini hari sekitar pukul 01.00 pagi –  hanya menghabiskan waktu sekitar 15-30 menit.

Di antara sekian banyak kisah, cerita mereka tenttang CCTV di rumah kost yang mereka tempati bagi saya cukup menarik. Bukan apa-apa, bagi saya, apa yang harus diawasi di seputaran rumah kost, apalagi jika jelas-jelas mayoritas penghuninya adalah pekerja kantoran dan peraturan yang diterapkan cukup longgar, memasang CCTV adalah kegiatan yang mengada-ada.

CCTV layaknya dipasang di rumah pribadi atau di perkantoran, dimana si empunya rumah bisa memonitor situasi rumah mereka, mengawasi kinerja asisten rumah tangga, mengawasi bagaimana mereka menjaga si kecil. Atau di kantor, dimana CCTV berguna untuk mencegah kehilangan barang-barang karena kantor tersebut menerapkan ‘open-space’.

Tetapi di rumah kost ? Maka, saat itu kami pun terlibat diskusi yang cukup seru, membahas segala kemungkinan yang mungkin terjadi dari yang kony0l hingga yang cukup serius, dari soal ‘membawa tamu tak diundang’ hingga ‘pencurian yang dilakukan pembantu’.

Diskusi yang kemudian berakhir begitu saja, diskusi yang sebenarnya bagian dari obrolan ringan pengantar makan siang dan kemudian terlupakan.

Hingga suatu hari, ketika saya sendiri sudah menjadi bagian dari barisan peserta kost, ada pengumuman tentang pemasangan CCTV di rumah kost yang saya tempati. Saat itu saya baru saja pulang kantor, ketika tiba-tiba pengurus rumah tangga di lantai dua – tempat dimana saya menetap, menghampiri saya.

‘Bu, nanti sama Ibu yang punya rumah mau dipasang CCTV. Saya bilang ke Ibu yang punya rumah, lebih baik tanya dulu, bisa-bisa orang-orang pada gak mau kost disini lagi bu,’ kata si pengurus rumah tangga tiba-tiba

‘Oh ya, tidak masalah koq, silakan saja. Itu sih terserah Ibu yang punya rumah saja, setidaknya rumah ini jadi aman,’ timpal saya – walaupun dalam hati saya bertanya-tanya kenapa ide CCTV mendadak sontak timbul di benak pemilik rumah.

Saya pun kemudian berlalu meninggalkan si penghuni rumah dan sibuk dengan rutinitas pulang kantor – memasak makan malam.

Hingga di suatu sesi acara memasak, ketika satu per satu penghuni mulai berdatangan dan menyibukkan diri dengan kegiatan ‘dapur’, tiba-tiba bergulirlah cerita tentang asal-muasal CCTV.

‘Bu, tahu tidak kalau kaca mobil si B pecah ? tanya bapak A tetangga kamar saya

‘Oh iya, waktu itu ada yang bercerita ke saya, tetapi dia sendiri belum cerita sih.’jawab saya.

Menurut si Bapak A, sebenarnya kemungkinan  besar karena waktu itu kaca mobil depan si B pecah. B pun mengadukan hal itu ke pimpinan rumah kost – yang mengakomodasi segala kebutuhan dan keluhan para penghuni. Si B pun meminta ganti rugi. Masalahnya tidak ada yang tahu siapa yang memecahkan kaca depan mobil si B itu.

Saya pun mengutarakan keheranan saya, karena kaca depan mobil itu pastinya tidak semudah itu retak, apalagi peristiwa retaknya kaca mobil tersebut terjadi saat mobil sedang di parkir di halaman rumah.

Hingga keesokan harinya saya bertemu dengan si B, bercerita tentang hal yang sama termasuk urusan ganti-rugi. Menurut si B, si pemilik rumah enggan memberikan ganti rugi, padahal retaknya kaca depan mobilnya itu diakibatkan oleh si pengurus rumah tangga di lantai yang kami tempati, saat mencuci mobil si B.

‘Si Mas itu kan orangnya memang seenaknya saja, pasti saat dia mencuci mobil dan membersihkan kaca depan, main dibanting saja wipernya. Tapi ya sudahlah, dengan dipasangnya CCTV pastinya si pemilik rumah secara tidak langsung mengakui keteledoran pengurus rumah tangganya.’lanjut si B

Saya pun seperti biasa hanya mengiyakan – wong saya sendiri pun tidak tahu pasti alasan dipasangnya si CCTV.

Bisa jadi karena pecahnya kaca depan mobil si B atau bisa jadi karena ulah penghuni kost seperti yang digosipkan si pengurus rumah tangga ke saya beberapa waktu sesudahnya.

‘Nah, rasakan deh ulah si J dan si C, mereka tidak bisa berduaan seenaknya sampai malam. Tahu gak Bu, mereka itu bahkan sampai naik ke tempat jemuran malam-malam lho. Coba Bu, ngapain malam-malam di atas sana ?  Mana gelap lagi.’cerita Pak K, pengurus rumah tangga lantai 1

Muka saya entah harus ditaruh dimana, ternyata memang benar kata Bapak A, orang belakang – begitu istilah untuk para satpam dan pengurus rumah tangga – banyak gosipnya.