Fashion

Tas Longchamp KW 1

Entah kapan tepatnya, tas dengan merek Longchamp mendadak menduduki peringkat tas yang menjadi panutan kaum perempuan, tapi yang saya tahu, tas tersebut mendadak mengindonesia sejak sekitar 2-3 tahun lalu. Mendadak mengindonesia maksud saya disini mendadak jadi bagian dari tas yang masuk dalam jajaran KW; yang akibatnya tentu saja tas-tas serupa dan sejenis mudah ditemui di semua kalangan.

Kebetulan, saya bukanlah pemburu tas per-kw-an, bagi saya lebih baik memakai tas yang tidak bermerek daripada memakai tas bermerek tapi KW.

Kembali ke tas Longchamp, suatu saat, sepupu saya yang baik hati, mendadak memberikan hadiah tas Longchamp, tidak tanggung-tanggung, dia menghadiahi saya 2 buah tas Longchamp yang mengindonesia dan 2 buah tas make up Longchamp.

Seperti biasa, karena unsur kepraktisan dan unsur banyaknya muatan, maka tas Longchamp itu akhirnya menjadi tas kantor favorit saya, kecuali jika saya harus berangkat menemui calon klien, otomatis tas Longchamp itu terpaksa harus saya parkir sejenak. Bukan karena tas tersebut sudah mengindonesia, tetapi karena tas tersebut lebih terkesan ‘non-formal’ dibandingkan tas-tas saya lainnya.

Mungkin karena terlatih untuk menjadi ‘Close Personal Circuit Television’ maka para satpam di rumah kost residence saya, mendadak menjadi pengamat mode para penghuninya – dari mulai sandal, sepatu, hingga tas yang dipergunakan penghuninya.

Bagaimana tidak menjadi pengamat mode, wong tiap hari – minimal dua kali dalam sehari – mereka berinteraksi dengan para penghuninya dalam hal pengaturan perparkiran mobil-mobil penghuni. Otomatis, mata mereka harus awas dan waspada.

Saya sendiri tidak menyadari hal itu, hingga di suatu hari, sepulangnya saya dari kantor, setelah memarkir mobil saya sesuai dengan petunjuk Pak Satpam yang bertugas, dan mengambil peralatan perang kantor, tiba-tiba Pak Satpam A sambil malu-malu menegur saya.

‘Bu, maaf mengganggu. Begini Bu, boleh saya tahu Ibu beli tas ini dimana Bu ?,’katanya

Saya yang sedang sibuk dengan peralatan perang kantor, langsung terdiam dan mendadak bingung memilih jawabannya. Pertama, takut dibilang sombong kalau tas yang saya punya ini tas asli dan bukan per-kw-an. Kedua, ini kan tas pengasihan bukan tas yang saya beli sendiri. Ketiga, saya pun tidak up-to-date dengan harga-harga tas yang dari awal tidak pernah masuk dalam ‘must-have-list-bag’ saya.

Tetapi melihat tatapan matanya yang mengharapkan jawaban, saya pun tidak tega untuk tidak memberikan jawaban yang jujur kepada beliau. Apalagi para petugas Satpam itu tidak pernah berlaku tidak sopan.

‘Wah, maaf Pak, saya tidak tahu, kebetulan tas ini hadiah dari sepupu saya,’jawab saya

‘Maaf Ibu, bukannya saya lancang, soalnya istri saya minta dibeliin tas seperti yang punya Ibu. Katanya ibu-ibu temennya istri saya pada punya tas seperti itu, jadinya dia minta saya beliin. Saya kepingin tahu harganya berapa, gak usah yang asli Bu, yang KW aja, KW 1 juga boleh Bu,’balasnya

Saya membatin, membayangkan reaksinya jika tahu harga tas Longchamp ini, tas yang ketampakannya murah namun mampu mengindonesia ini.

Tidak tega membayangkan rengekan istrinya, saya pun kemudian berjanji untuk mengecek harga tas Longchamp KW1 atau KW2.

‘Coba nanti saya tanya ya Pak, kebetulan di kantor saya saat ini ada bazar, tadi kebetulan saya lihat tas dengan model seperti ini dipajang,’ujar saya

Pak Satpam pun dengan mata berbinar-binar menyampaikan terima kasihnya dan mempersilakan saya melanjutkan kehebohan saya masuk ke dalam rumah.

Ternyata memang benar kata teman saya, para penjaga keamanan rumah kost residence saya lebih tepat disebut sebagai ‘Close Personal Circuit Television’ – tingkat pengamatan mereka mampu mengalahkan petugas Densus 88.

Advertisements