Awal Cerita

Beberapa waktu lalu, setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang cukup panjang; menghitung untung – rugi; memperhitungkan segala resiko yang akan timbul, akhirnya saya memutuskan untuk kost di tengah kota.

Seumur hidup  – sejak kuliah, bekerja dan menikah – saya tidak pernah bersinggungan dengan kost, sejauh apapun jarak rumah ke tempat kuliah, atau sekarang dari rumah ke kantor, semalam apapun, semacet apapun, saya tetap harus pulang ke rumah.

Hingga tahun ini, ketika si kecil memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah yang sama dengan kakaknya, ide untuk kost mendadak mampir di tengah-tengah belantara otak saya.

Lho ? Kenapa tidak  pakai supir saja ? Kenapa tidak tinggal di paviliun saja ? Kenapa kost ? Kenapa tidak di apartemen saja ? Kira-kira begitulah komentar yang saya terima dari teman sejawat.

Sebenarnya ide untuk menggunakan supir sudah terlintas di otak saya yang absurd ini, tetapi setelah mengingat kembali pengalaman si kakak dulu, akhirnya saya memutuskan untuk melupakan ide tersebut. Lebih banyak makan hatinya daripada senangnya.

Tinggal tersisa 3  kategori  untuk tinggal di tengah kota, menyewa paviliun, menyewa apartement atau menyewa kamar aka kost.

Bagi saya yang paling ideal tentu saja menyewa paviliun, namun setelah mencari di oom google dan mencoba mengkontak tante saya yang masih memiliki paviliun, akhirnya pilihan tinggal 2, apartemen atau kost.

Dan sekali lagi, setelah berkonsultasi dengan oom google dan rekan-rekan sekerja yang memiliki apartemen, akhirnya saya pun memilih untuk kost.

Alasannya sederhana, karena di Jakarta tidak ada apartemen yang ‘pet friendly’ dan karena saya pencinta anjing – yang dengan amat sangat terpaksa  harus saya relakan mereka untuk tetap tinggal di rumah saya di perbatasan jakarta – maka saya memilih untuk kost. Setidaknya dengan kost, rasa bersalah saya meninggalkan anjing-anjing saya tidak terlalu besar.

Lalu, kenapa Beranda Tere ?

Di tempat kost yang saya tinggali, saya memiliki balkon pribadi, tempat saya memandang langit dan hijaunya pepohonan, yang mengingatkan saya tentang Beranda di rumah,  tempat saya bercengkerama dengan keluarga, saling bercerita tentang peristiwa yang terjadi selama seminggu – tipikal keluarga masa kini, semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan waktu yang tersisa hanyalah di akhir minggu.

Beranda Tere, adalah tempat saya bercerita tentang pengalaman saya menjadi penghuni kost modern – begitu saya menyebutnya, Cerita yang mewarnai kehidupan saya dan tentunya layak untuk dikenang, ditertawakan dan dijadikan pelajaran hidup.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s