Kamar

Balkon dan Tanaman – Sudut Favorit

Jika saya harus memilih sudut yang paling saya sukai di rumah kost residence tempat saya tinggal saat ini, tanpa berpikir-panjang lagi saya akan memilih balkon kamar saya.

Alasannya sederhana, karena akhirnya setelah 6 bulan menimbang-nimbang, bolak-balik mampir ke Ace Hardware, mencoba setiap macam kursi, akhirnya saya berhasil memiliki kursi yang bisa saya letakkan di balkon kamar saya.

Kursi yang berfungsi sebagai kursi goyang tempat saya menuliskan cerita saya tentang rumah kost, atau tempat saya melepaskan penat sambil memandangi lampu-lampu apartemen di kejauhan atau hanya sekedar memejamkan mata ditemani semilir angin malam, dan tanaman rambat yang khusus saya beli agar balkon saya setara dengan para penghuni lantai bawah yang memiliki teras dan halaman kecil di depan kamarnya.

Sepengetahuan saya, di deretan balkon sisi timur lantai dua ini, hanya saya sendiri yang memiliki tanaman dan pot tanaman, sementara penghuni lainnya – berdasarkan hasil pengamatan saya ketika menjemur pakaian – tidak menganggap balkon mereka sebagai tempat istimewa, tempat yang bisa dinikmati untuk melepas lelah.

Saya tidak tahu para penghuni di sisi barat, namun yang saya tahu pasti, salah satu teman saya yang berada di sisi Barat, juga memiliki kebiasaan yang sama dengan saya. Bedanya, teman saya itu, nona A, menaruh sepasang meja dan kursi serta membeli beberapa bunga, untuk menemaninya menikmati sore ataupun matahari pagi.

Ide untuk menaruh kursi dan tanaman sebenarnya sudah lama terbersit di benak saya, namun karena satu dan lain hal, akhirnya ide tersebut saya simpan di sudut paling dalam. Sampai akhirnya, di salah satu perbincangan saya dan nona A saat kami kebetulan sedang berada di jam yang sama di sesi memasak, kami saling melontarkan ide untuk mempercantik balkon.

Berbeda dengan saya, nona A langsung mengutarakan niatnya ke si Pemilik Rumah, dan segera membeli tanaman berbunga untuk mewujudkan idenya.

Sementara saya, setelah berpikir bolak-balik, memutuskan untuk membeli tanaman terlebih dulu, sedangkan pembelian kursi harus saya putuskan matang-matang, bukan apa-apa, kursi itu menentukan apakah balkon itu akhirnya menjadi tempat senikmat yang dibayangkan saat ide awal itu muncul.

Kriteria kursi itu setidaknya harus empuk, tidak panas, dan bahannya pun harus yang tahan-banting terhadap cuaca baik saat diterpa matahari ataupun diterpa air hujan. Maksimal kursi itu harus memiliki 2 seater – pilihan yang kemudian menjadi single seater karena si kecil memutuskan tidak mau mengikuti jejak saya, kecuali kursi yang saya pilih kursi yang berfungsi ganda sebagai ayunan. Dan seperti biasa, dari semua kriteria itu, yang terutama adalah harga, saya tidak ingin membeli kursi yang harganya selangit, rasanya kurang pas saja.

Sehingga tentu saja saya tidak bisa secepat Nona A dalam memilih perabotan balkon, semua harus memiliki pertimbangan matang.

Di hari saya memutuskan membeli kursi balkon ini, saya berkunjung ke Ace Hardware dengan dua lokasi yang berbeda, mencoba kursi yang sama di dua lokasi tersebut, sebelum akhirnya kursi tersebut saya persunting.

Rasanya dunia menjadi milik saya ketika kursi tersebut menjadi penghuni balkon kamar. Saya pun mendadak diserang penyakit aneh, mendadak ingin pulang tepat waktu – bahkan kalau bisa pulang lebih awal – hanya untuk sekedar merasakan nikmatnya duduk di kursi goyang di balkon kamar.

Entah kenapa, sejak memiliki kursi ini, saya seperti mendadak mendapat energi baru untuk menulis dan membaca buku, walaupun tidak semuanya sukses saya jalankan, karena pernah di suatu malam, saya tertidur di kursi dengan laptop yang masih terbuka dan di suatu malam lainnya, saya sempat berkelana di alam mimpi dengan buku terbuka di pangkuan.

Saya pun jadi memiliki kebiasaan baru, mengamati kondisi teras tetangga bawah saat menjemur pakaian, hanya untuk sekedar mengamati apakah ada ide tambahan yang bisa saya ikuti dari penghuni lantai bawah.

Dan saya pun memiliki rencana tambahan, membeli lemari kecil yang bisa saya letakkan di balkon untuk menampung beberapa barang dan juga menaruh pot tanaman berbunga yang akan saya beli nantinya. Tetapi yang pasti, lemari kecil dan tanaman berbunga masih sebatas angan-angan. Perlu saya endapkan terlebih dulu.

Saya jadi teringat apartemen CEO saya di perusahaan terdahulu. Ketika itu kami semua diundang ke apartemennya untuk merayakan hari natal. Di balkon apartemennya, istri sang CEO meletakkan sepasang kursi dan meja, serta membuat taman kecil di sudut balkonnya itu. Saat itu saya mencoba merasakan nikmatnya balkon beliau, sambil membayangkan nikmatnya memandang Jakarta dengan kerlap-kerlip lampunya.

Saya pun membatin, suatu saat kalau saya mendapatkan kesempatan memiliki apartemen dengan balkon seperti beliau, balkon itu akan saya dandani seperti bakon beliau.

Ternyata, tanpa saya sangka, kesempatan itu ada, dan saya pun memiliki balkon idaman yang mirip dengan balkon apartemen beliau.

Jadi, sudut mana yang paling saya rindukan dari kamar kost residence saya ? Balkon kamar sayalah yang paling saya rindukan, tempat dimana saya menghabiskan ‘me time’ saya.

Advertisements