Induk Semang

Kepala Pengurus Rumah Tangga Residence

Siapa bilang hanya istana  atau kepresidenan yang punya Kepala Rumah Tangga, ternyata rumah kost modern aka ‘residence’ juga punya Kepala Rumah Tangga.

Bedanya yang satu berjas, memiliki gelar kependidikan, dan bertugas untuk mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan urusan internal Presiden atau lebih tepatnya membantu Presiden dalam menjalankan tugas kenegaraannya. Sedangkan kepala rumah tangga rumah kost aka residence, jangankan berjas, seragamnya cukup celana pendek selutut, kaos, dan bertugas untuk mengurus urusan rumah tangga para penghuni kost – dari mulai membelikan listrik pra bayar, mengambilkan laundry, membelikan makanan, mencuci mobil hingga urusan membersihkan kamar-kamar penghuni rumah kost.

Kepala rumah tangga kepresidenan memberikan pernyataan kepada media, kepala rumah tangga rumah kost memberikan keterangan kepada para calon penghuni rumah kost. Tetapi yang pasti, kepala rumah tangga kepresidenan tidak pernah masuk dalam daftar tertuduh jika terjadi kehilangan di Istana, beda dengan kepala rumah tangga rumah kost, mereka selalu menjadi sasaran empuk jika terjadi kecurangan ataupun kehilangan di rumah kost.

Baru-baru ini, kepala pengurus rumah tangga lantai dua di rumah kost tempat saya tinggal mendadak menginformasikan bahwa berdasarkan keputusan MPR eh salah Pemilik Rumah Kost, maka dia harus bertukar tempat dengan  si kepala rumah lantai satu. Ketika saya tanyakan alasannya, dia hanya mengatakan bahwa ini pertukaran tempat biasa.

Sayangnya, si kepala pengurus rumah tangga lupa, para penghuni rumah kost lantai dua ini sering bertemu di dapur – maklum kegiatan yang memungkinkan para penghuni berinteraksi ya hanya di dapur – dan terungkaplah cerita di balik batu mengenai pergantian kepala rumah tangga lantai dari si mbak pengasuh anak salah satu penghuni ke penghuni lainnya dan ke penghuni lainnya.

Alasannya sederhana, si kepala pengurus rumah tangga lantai satu, menjadi tersangka ketika salah satu penghuni lantai 1 kehilangan salah satu perhiasannya. Namun karena susah dibuktikan kebenarannya, karena si penghuni kamar itu kebetulan cukup banyak kedatangan tamu – entah saudara entah teman sekerja, maka si pemilik rumah mencari solusi yang membuat tentram semuanya, Pertukaran Kepala Rumah Tangga antar lantai.

Pergantian ini tentu saja tidak serta merta diterima dengan mulus, mengingat ada tugas-tugas tambahan yang diberikan si penghuni kamar kepada si Kepala Rumah Tangga, mulai dari mencuci mobil, mencuci pakaian, membelikan listrik dan sebagainya, dan sebagainya.

Tidak semuanya juga bahagia, ada yang apatis, ada yang bahagia dan ada yang berat hati. Saya termasuk barisan berat hati, maklum karena si Kepala Rumah Tangga yang dipindahkan ini orangnya cukup lugas dan gemar menantang para penghuni yang dianggap berseberangan dengan peraturannya.

Bisa dimengerti sih, apalagi dibandingkan pengurus rumah tangga yang satunya lagi, keahlian si kepala rumah tangga baru ini lebih banyak dari yang pertama. Penghuni lantai dilarang protes dan pemilik rumah kost pun tidak ingin diprotes, jadi apa pun yang dirasakan si penghuni lantai dua terhadap si Kepala Rumah Tangga baru harus diterima.

Jadilah kami – para penghuni – mulai saling berbisik dan bergosip tentang si kepala rumah tangga baru. Bapak A mengeluhkan uang yang harus diberikan, soalnya selama ini Bapak A memberikan uangnya sekaligus, uang cuci mobil dan uang tanda terima kasih karena urusan bersih-bersih. Ibu B lain lagi, baginya si kepala pengurus rumah tangga rumah kost ini cukup mumpuni dalam tugasnya, buktinya kamarnya sekarang kinclong. Bapak C, entah kenapa meragukan integritas si kepala rumah tangga baru ini  – soalnya beliau berhasil memergoki si Kepala Pengurus Rumah Tangga baru ini dengan seenaknya menyalakan listrik dan mencharge HPnya di kamar Bapak C.

Lagu bagaimana dengan saya ?

Beberapa waktu lalu setelah kenaikan tarif listrik yang terjadi tanpa pengumuman resmi, saya pun mulai mencatat pemakaian kwh saya setiap hari.  Gara-garanya sepele, karena mendadak jumlah kwh yang biasanya tidak berkurang jauh dari jumlah uang yang saya alokasikan untuk listrik pra bayar, sekarang menjadi berkurang cukup banyak. Dan tentu saja ketika mendadak berkurang cukup banyak, maka saya pun penasaran untuk mengetahui berapa banyak sih pemakaian kwh saya setiap hari. Sehingga sejak saat itu, saya pun mulai mencatat dengan sembunyi-sembunyi berapa sisa kwh sebelum listrik saya matikan saat saya dan si kecil berangkat pagi-pagi. Saya pun mewanti-wanti si kecil agar mencocokkan jumlah kwh jika dia tiba dari sekolah.

Semua berjalan normal, hingga tiba saatnya ketika saya kembali ke rumah pada hari Sabtu dan kembali lagi ke rumah kost pada hari Minggu. Mendadak jumlah kwh saya berkurang cukup signifikan. Apalagi ketika saya tiba, listrik saya sudah menyala. Ini bukan yang pertama tapi pengurangan kwh yang cukup signifikan sudah melebihi ambang batas kesabaran saya.

Nah karena si Kepala Pengurus Rumah Tangga pindahan dari lantai satu selalu merasa dirinya lebih senior dan tidak segan-segan menegur penghuni kamar, jadilah saya menggunakan taktik sindiran secara halus. Saya dengan resmi menempelkan kertas yang mencatat kwh saat saya meninggalkan kamar kost dan saat saya/si kecil tiba dari sekolah. Dan sejak saat itu, tingkat kepercayaan saya pada si Kepala Pengurus Rumah Tangga pun berkurang.

Kalau ditanya, jika boleh memilih, saya tentu saja akan memilih Kepala Rumah Tangga yang sekarang pindah tugas menjadi Kepala Rumah Tangga lantai satu. Apakah si Kepala Rumah Tangga yang pindah tugas itu baik ?

Pada dasarnya mereka sama saja, dua-duanya sama malasnya, bedanya yang dulu jauh lebih baik dibandingkan yang sekarang. Kepala Rumah Tangga yang dulu, selalu membiarkan dapur terawat dengan baik, lantai selalu bersih, tidak seperti sekarang ini, kompor dibiarkan saja dipenuhi dengan sisa minyak hasil menggoreng. Jadwal membersihkan kompor mungkin setiap dua minggu sekali. Lantai dapur ? Cukup dibersihkan pagi-pagi sekali, kadang saat penghuni sedang melakukan ritual memasaknya.

Bagaimana dengan kebersihan kamar saya ? Wah saya tetap memilih Kepala Rumah Tangga yang pertama, dia tetap lebih bersih. Yang sekarang ini bahkan tidak pernah membersihkan wastafel dan kaca toilet. Kata salah satu penghuni kost yang selantai dengan saya, si Kepala Rumah Tangga yang dulu itu melayani saya dengan baik karena saya memberikannya tugas tambahan, mencuci mobil. Jadi ada tambahan penghasilan dari gaji bulanannya. Nah, kalau saya tidak memberikan tugas tambahan, menurut salah satu teman tadi, pastinya dia akan lebih buruk dari yang sekarang ini.

Benar atau tidak hipotesanya ? Saya tidak tahu, bisa ya bisa tidak. Namanya juga manusia, pasti ada sifat baik, ada sifat buruknya. Yang pasti sejak kejadian itu saya belajar bagaimana menegur orang tanpa harus meninggikan suara, menegur tetap bisa dilakukan dengan cara sindiran.

Advertisements

Dua perempuan Satu dapur

Dari seluruh bagian rumah yang ada, dapurlah yang menurut saya memiliki kriteria yang tidak berbahaya untuk urusan berinteraksi dengan penghuni lainnya, mengingat pengalaman saya selama ini yang aman tentram sejahtera.

Sepanjang pengalaman saya berinteraksi dengan dapur dan penghuninya, yang hanya dua kali, yaitu di rumah dan saat berkemah bersama teman-teman semasa SMA, nyaris tidak ada cerita yang bisa disebut istimewa. Hal ini mungkin karena yang pertama masuk dalam wilayah kekuasaan sendiri sedangkan yang kedua walaupun masuk dalam kategori yurisdiksi orang banyak, kondisinya cukup semrawut akibat ketidakjelasan apakah tempat itu bisa dikategorikan sebagai dapur.

Sehingga ketika saya memutuskan untuk kost, maka dari semua kriteria yang ada, dapur masuk dalam kriteria bagian yang tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan friksi. Hingga ketika saya bersenggolan dengan peristiwa yang mampu memutarbalikkan premis saya tadi.

Semua ini berawal saat salah satu penghuni di lantai 2, mendadak terserang penyakit gemar memasak. Sebenarnya sih kegemaran mendadaknya itu sah-sah saja, asal berlangsung dengan aman tentram. Namun, sejak beliau memiliki hobby baru, entah kenapa dapur dan seisinya mengalami perubahan 180 derajat.

Lemari es otomatis mendadak menjadi susah ditutup, karena kotak-kotak makanan dengan label nama si penghuni kamar malang-melintang menempati entah ‘freezer’ atau area pendingin lainnya.

Tempat minyak bekas menggoreng saya mendadak setiap saat penuh dengan minyak. Kejadian yang membuat saya terheran-heran, mengapa isinya tidak pernah berkurang, sementara frekuensi saya menggoreng tidak pernah berkurang saat itu. Saya sampai berpikir jangan-jangan ada penghuni berbaju putih yang melayang-layang iseng memindahkan isi minyak goreng milik orang lain ke dalam wadah saya.

Belum lagi nanti ada nasi putih lengkap dengan ayam atau tahu atau tempe goreng terhidang di meja makan tanpa kejelasan pemiliknya. Atau wajan bekas menggoreng yang teronggok dengan manisnya di atas kompor lengkap dengan minyak sisa menggoreng.

Bahkan pernah suatu hari disertai dengan asbak beserta pernak-perniknya bertengger dengan nyamannya di sudut dekat tempat mencuci piring.

Tetapi yang membuat saya terpaksa harus memendam perasaan adalah kegemaran beliau melakukan ritual memasaknya yang selalu harus disertai para dayang-dayangnya. Ritual yang berakibat penuhnya dapur mungil tempat berlangsungnya kegemaran memasak beliau.

Hingga di suatu pagi, hati tempat saya memendam perasaan sudah tidak mampu lagi menampung kekesalan saya ketika melihat kotak-kotak makanan dengan penanda si empunya kamar mendadak memenuhi isi ‘freezer’ dan menendang kotak makanan penghuni lainnya ke sudut lainnya dengan semena-mena. Dan lebih tragisnya lagi, sebuah t-shirt pun kali ini dengan tenangnya ‘nangkring’ di kursi meja makan nan mungil itu.

Seperti halnya gunung berapi yang memerlukan jalan untuk memuntahkan lavanya, saya pun mencari sasaran empuk untuk memuntahkan segala unek-unek saya. Sialnya lagi, saat itu yang ada di depan mata adalah si pengurus rumah tangga. Mengingat semua delik aduan harus dicatatkan ke pengurus rumah tangga, saya pun melaporkan setiap kejadian dengan rinci tanpa peduli si penerima aduan mampu mencerna dengan baik atau tidak, sambil membereskan isi lemari es agar kembali resik dan memiliki ruang lebih bagi para penghuni lainnya.

Entah khawatir saya akan meneruskan delik aduan ini ke si pemilik rumah kost, si pengurus rumah tangga pun menyampaikan kekesalan saya kepada si penghuni kamar yang memiliki hobby baru. Penyampaian yang tepat karena si penghuni kamar itu merasa perlu menyampaikan alibinya kepada saya disertai dayangnya.

Rasanya saat itu, adegan ketika si penghuni kamar menyampaikan alibinya persis seperti adegan film Indonesia tahun 80-an dimana dua perempuan bertengkar memperebutkan suami atau pacar mereka, minus adegan menjambak rambut tentunya.

Tidak ada fakta yang tidak memiliki bantahan. Ketika saya menyampaikan betapa pentingnya kita menjaga barang yang menjadi milik bersama, bantahannya adalah itu urusan si pemilik kost, tanpa dia sadar kalau lemari es itu rusak maka semua akan menderita.

Fakta versus bantahan lainnya, yang berujung kalimat penutup si penghuni bahwa ia memiliki peraturan sendiri, jika saya tidak suka silakan tinggal di apartemen.

Untung kemudian saya mendadak teringat pesan ibu saya, ‘Perempuan yang terdidik itu dilihat dari tindak-tanduknya, caranya berkomunikasi dan tahu persis kapan harus berhenti saat diskusi tidak dapat dilakukan agar tidak menjadi kampungan,’ Pesan yang membuat saya mengiyakan saja kalimat si penghuni yang memiliki kegemaran baru dan meninggalkannya bersama dayang tercintanya.

Jadi, pembelajaran apa yang saya terima dari kejadian ini ?

Pertama, betapa pentingnya untuk tetap menyuarakan kebenaran walaupun tidak populer. Dan betapa pentingnya untuk sadar dan berhenti menyadarkan seseorang yang tidak memiliki kepekaan yang sama.

Kedua, uang sewa yang mahal dari rumah kost dan betapapun modernnya rumah kost tersebut tetap saja tidak menjamin bahwa penghuninya memiliki tingkat kepedulian yang lebih tinggi.

Tas Longchamp KW 1

Entah kapan tepatnya, tas dengan merek Longchamp mendadak menduduki peringkat tas yang menjadi panutan kaum perempuan, tapi yang saya tahu, tas tersebut mendadak mengindonesia sejak sekitar 2-3 tahun lalu. Mendadak mengindonesia maksud saya disini mendadak jadi bagian dari tas yang masuk dalam jajaran KW; yang akibatnya tentu saja tas-tas serupa dan sejenis mudah ditemui di semua kalangan.

Kebetulan, saya bukanlah pemburu tas per-kw-an, bagi saya lebih baik memakai tas yang tidak bermerek daripada memakai tas bermerek tapi KW.

Kembali ke tas Longchamp, suatu saat, sepupu saya yang baik hati, mendadak memberikan hadiah tas Longchamp, tidak tanggung-tanggung, dia menghadiahi saya 2 buah tas Longchamp yang mengindonesia dan 2 buah tas make up Longchamp.

Seperti biasa, karena unsur kepraktisan dan unsur banyaknya muatan, maka tas Longchamp itu akhirnya menjadi tas kantor favorit saya, kecuali jika saya harus berangkat menemui calon klien, otomatis tas Longchamp itu terpaksa harus saya parkir sejenak. Bukan karena tas tersebut sudah mengindonesia, tetapi karena tas tersebut lebih terkesan ‘non-formal’ dibandingkan tas-tas saya lainnya.

Mungkin karena terlatih untuk menjadi ‘Close Personal Circuit Television’ maka para satpam di rumah kost residence saya, mendadak menjadi pengamat mode para penghuninya – dari mulai sandal, sepatu, hingga tas yang dipergunakan penghuninya.

Bagaimana tidak menjadi pengamat mode, wong tiap hari – minimal dua kali dalam sehari – mereka berinteraksi dengan para penghuninya dalam hal pengaturan perparkiran mobil-mobil penghuni. Otomatis, mata mereka harus awas dan waspada.

Saya sendiri tidak menyadari hal itu, hingga di suatu hari, sepulangnya saya dari kantor, setelah memarkir mobil saya sesuai dengan petunjuk Pak Satpam yang bertugas, dan mengambil peralatan perang kantor, tiba-tiba Pak Satpam A sambil malu-malu menegur saya.

‘Bu, maaf mengganggu. Begini Bu, boleh saya tahu Ibu beli tas ini dimana Bu ?,’katanya

Saya yang sedang sibuk dengan peralatan perang kantor, langsung terdiam dan mendadak bingung memilih jawabannya. Pertama, takut dibilang sombong kalau tas yang saya punya ini tas asli dan bukan per-kw-an. Kedua, ini kan tas pengasihan bukan tas yang saya beli sendiri. Ketiga, saya pun tidak up-to-date dengan harga-harga tas yang dari awal tidak pernah masuk dalam ‘must-have-list-bag’ saya.

Tetapi melihat tatapan matanya yang mengharapkan jawaban, saya pun tidak tega untuk tidak memberikan jawaban yang jujur kepada beliau. Apalagi para petugas Satpam itu tidak pernah berlaku tidak sopan.

‘Wah, maaf Pak, saya tidak tahu, kebetulan tas ini hadiah dari sepupu saya,’jawab saya

‘Maaf Ibu, bukannya saya lancang, soalnya istri saya minta dibeliin tas seperti yang punya Ibu. Katanya ibu-ibu temennya istri saya pada punya tas seperti itu, jadinya dia minta saya beliin. Saya kepingin tahu harganya berapa, gak usah yang asli Bu, yang KW aja, KW 1 juga boleh Bu,’balasnya

Saya membatin, membayangkan reaksinya jika tahu harga tas Longchamp ini, tas yang ketampakannya murah namun mampu mengindonesia ini.

Tidak tega membayangkan rengekan istrinya, saya pun kemudian berjanji untuk mengecek harga tas Longchamp KW1 atau KW2.

‘Coba nanti saya tanya ya Pak, kebetulan di kantor saya saat ini ada bazar, tadi kebetulan saya lihat tas dengan model seperti ini dipajang,’ujar saya

Pak Satpam pun dengan mata berbinar-binar menyampaikan terima kasihnya dan mempersilakan saya melanjutkan kehebohan saya masuk ke dalam rumah.

Ternyata memang benar kata teman saya, para penjaga keamanan rumah kost residence saya lebih tepat disebut sebagai ‘Close Personal Circuit Television’ – tingkat pengamatan mereka mampu mengalahkan petugas Densus 88.

Close Personal Circuit Television

Beberapa waktu lalu, saat saya  sedang menikmati makan malam perpisahan dengan salah satu teman dekat sahabat saya, berceritalah suami sahabat saya tadi tentang pengalamannya mengantarkan kue ke tempat kost saya.

‘Wah, hebat sekali Pak Satpam di tempat kost dia, up to date. Waktu gue anterin kue ke rumah kostnya, Pak Satpamnya langsung kasih laporan pandangan mata. Katanya, maaf Pak, Ibu belum pulang, tetapi anaknya sudah pulang, baru saja. Kuenya dititip di saya saja Pak.’

Kemudian berceritalah saya, kalau barisan Pak Satpam di tempat kost residence saya, benar-benar berdedikasi dan tahu kegiatan penghuninya. Dari siapa yang berangkat paling pagi, siapa yang paling parah menyetir – khusus kemampuan menyetir berdasarkan  pengamatan menyetir berdasarkan cara parkir – sampai siapa yang diduga berpacaran dengan siapa.

Saya sendiri pun terheran-heran dengan kepiawaian mereka dalam melakukan pengamatan, di satu sisi kadang-kadang saya merasa pengamatan mereka terlalu detil – rasanya nyaris tidak ada cerita yang bisa dirahasiakan dari mereka – namun di sisi lainnya, saya merasa berterimakasih karena mereka selalu melaporkan jam pulang sekolah si kecil jika tidak seperti biasanya dan kendaraan yang ditumpanginya.

Laporan mereka pun tidak pernah meleset tingkat keakuratannya, dan selalu disampaikan begitu saya selesai memarkirkan mobil.

‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya agak sore. Biasanya jam 3 sudah sampai rumah, ini jam 5,’lapor si Bapak Satpam 1 atau ‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya naik ojek, biasanya pulangnya naik taxi,’lapor si Bapak Satpam 2

Dan saya pun mengkonfirmasikannya dengan menyampaikan sebab-musabab si kecil pulang terlambat, atau hanya tersenyum-simpul ketika tahu si kecil pulang naik ojek – maklum ojek adalah kendaraan terlarang walaupun masuk dalam kategori praktis dan cepat.

Suatu ketika, saya terpaksa harus terbaring sakit karena diare hebat dan tidak bisa menelan makanan apa pun selain bubur. Terpaksalah saya meminta tolong si pengurus rumah tangga untuk mencarikan restoran yang menjual bubur ayam atau bubur Cina. Saya mewanti-wanti pengurus rumah tangga untuk tidak membelikan bubur yang dijual di pinggir jalan.

Tidak lama kemudian, sepupu saya yang tinggal tidak jauh dari tempat saya kost tiba di tempat kost mengantarkan bubur. Kalimat pertama yang disampaikannya, ‘Wah, Pak Satpam tahu ya kalau lo diare. Soalnya pas gue datang bawa makanan. Pak Satpamnya tanya, itu bubur ayam ya Bu ? Terus kata Pak Satpamnya lagi, Wah syukurlah Ibu bawa bubur, soalnya kita semua lagi bingung mau beli bubur ayam restoran disini dimana ya.’

Bukan itu saja, lanjut sepupu saya, ‘Pak Satpamnya tanya, Ibu beli dimana bubur ayamnya. Setelah gue bilang, gue bikin sendiri, Pak Satpamnya bilang wah kalau begitu memang gak ada ya Bu, restoran yang jual bubur ;ayam.’

Saya yang mendegar cerita sepupu saya hanya tersenyum simpul, sambil membayangkan kegaduhan yang timbul gara-gara permintaan saya minta dibelikan bubur.

Dan tertawa ketika karib saya berkomentar lagi, ‘Gue tahu sih kalo rumah kost residence lo punya CCTV, tapi gue rasa pemiliknya sebaiknya gak pasang CCTV deh. Barisan Pak Satpam lo itu sudah lebih keren dari CCTV, kalau mereka namanya ‘Close Personal Circuit Television’ alias Kepo,’

 

Barisan Alas Kaki

Di rumah kost yang saya huni, ada beberapa peraturan wajib yang harus diikuti para penghuninya, salah satunya tentang meletakkan alas kaki di depan pintu kamar. Alasannya sederhana, agar rumah kost terlihat bersih dan apik, disamping tentu saja mencegah agar penghuni lainnya tidak tersandung alas kaki alias sepatu atau sandal yang diletakkan sembarangan.

Bagi saya, peraturan itu kebetulan sejalan dengan kebiasaan saya yang tidak meletakkan sepatu atau pun sandal di depan pintu rumah saya. Rasanya risih dan menimbulkan kesan berantakan jika barisan sepatu atau sandal digeletakkan begitu saja di depan pintu rumah. Walaupun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sah-sah saja melepas sepatu atau sandal sebelum masuk ke dalam rumah.

Bagi saya,  alih-alih meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu, lebih baik meletakkan kesetan agar debu ataupun bekas tanah bisa dibersihkan di kesetan tersebut, sehingga tidak mengotori lantai di dalam rumah.

Jadi, ketika peraturan tentang alas kaki tersebut disampaikan ke saya pertama kali, dengan senang hati saya menyambutnya.

‘Bukan masalah besar, lagipula siapa yang mau memajang sepatu depan pintu kamar, Lagipula jika tidak ada sepatu atau sandal berserakan, lorong kamar akan terlihat lapang dan resik,’batin saya

Tetapi rupanya saya salah duga, para penghuni kost di lantai yang saya tempati ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda.

Bermula dari si J, lulusan universitas luar negeri. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan pertama kali ke rumah kost residence ini. Saat itu, si Ibu pemilik rumah mengajak saya melihat kamar yang terletak di lantai atas alias lantai dua. Ketika melewati kamar si J, sambil menerangkan si penyewa kamar tersebut, dia memanggil si pengurus rumah tangga, katanya ‘Coba bereskan sepatu-sepatu ini, berantakan sekali. Besok kalau dia sudah kembali dari rumahnya, sampaikan sepatu-sepatu harus diletakkan di dalam kamar.’

Dari J berlanjut ke Bapak B. Kebiasaan Bapak B lain lagi. Bapak B menempatkan alas kakinya dengan sangat rapi dan sesuai urutan keluarganya. Bapak-Ibu dan anak serta pembatu. Bedanya Bapak B menaruh sandal, hanya sesekali berganti dengan sepatu dan itupun bisa dihitung dengan jari. Namun, apapun yang diletakkannya selalu sesuai urutan keluarga. Lucunya, sandalnya pun warnanya senada, hitam. Satu-satunya sandal yang warnanya bukan hitam, milik si asisten rumah tangga harian keluarga itu dan satu-satunya sandal yang memiliki tambahan warna milik si kecil.

Dari Bapak B, beralih ke Mbak X. Sampa seperti Bapak B, bedanya di depan pintu kamar Mbak X hanya terletak satu sandal dan sandal itu pun sandal rumah, karena sandal itu tidak pernah terlihat berjalan-jalan hingga keluar. Sesekali, ada sepatu yang tergeletak disamping si sandal tadi. Bedanya sepatu tidak pernah menetap, berbeda dengan si Sandal yang menetap 24 jam, dari pagi ke pagi.

Seperti halnya para pengendara motor yang kerap melanggar aturan, begitu pula dengan urusan peletakan alas kaki di rumah kost ini. Bermula dari kebiasaan satu orang, kemudian kebiasaan itu menimbulkan ide bagi orang lain yang kebetulan memiliki nilai dan pemikiran yang sama. Kebiasaan nona J, berlanjut ke Bapak B dan Mbak X, menimbulkan ide ke penghuni lain yang kebetulan berkebangsaan Eropa.

Entah kenapa, si C, yang memiliki wajah seperti Justin Bieber kalau habis menggunting rambunya, dan berkewarganegaraan tempat si matador bertanding, mendadak sontak memiliki kebiasaan baru, melepas alas kakinya di depan pintu kamarnya. Diawali dengan sepasang sepatu, kemudian berlanjut dengan sepatu olah raganya yang dekil – mungkin karena habis bermain futsal – dan diakhiri dengan sepasang sandal.  Saya benar-benar terheran-heran ketika mendapati fenomena itu. Jika orang Jepang saya masih bisa paham, atau orang Singapura saya pun lebih paham, tapi ini orang Eropa – rasanya sepengetahuan saya mereka tidak memiliki kebiasaan seperti itu. Tapi mungkin inilah yang disebut orang dengan dirasuki roh kebudayaan Indonesia. Mungkin si C  sebenarnya di masa lalu pernah jadi orang Indonesia, walaupun saat dilahirkan kembali dia menjadi orang Eropa. Sehingga ketika dia tinggal di Indonesia, jiwa masa lalunya mengirimkan sinyal ke sinap-sinap di otaknya, dan jadilah kebiasaan baru meletakkan alas kaki di depan pintu kamar.

Tetapi dibandingkan para penghuni kamar lantai atas yang memiliki kebiasaan sama, tidak ada yang sekonyol dan seatraktif  ulah sepasang suami-istri, sebut saja Bapak A dan istrinya. Tampaknya pasangan tersebut memiliki kegemaran untuk memamerkan merk sepatu dan sandalnya di depan pintu kamarnya. Tinggal pilih, mau merk sepatu apa saja juga tersedia, dari yang berlabel Channel, Nike, Adidas, Dior, hingga merk lokal, sandal bali. Dan bukan itu saja, istrinya pun kerap melepaskan alas kakinya secara serampangan, seperti orang yang terburu-buru harus membuang hajat.

Suatu hari, saya pun terkena dampaknya si istri tadi. Saat itu sehabis memasak di dapur, saya bertemu dengan si Mbak X dan suaminya yang kebetulan hendak bepergian. Seperti biasa, sapaan diawali dengan cerita ringan sambil berjalan menuju kamar. Mungkin karena saya tidak berkoensentrasi melihat ranjau sandal atau juga karena saya berjalan terlalu ke kiri, tersandunglah saya dengan sandal si istri Bapak A. Untung saya masih sempat menjaga keseimbangan, kalau tidak bisa dibayangkan adegan piring melayang dan orang jatuh terjerembab dengan halo burung-burung di atas kepala. Tapi yang tidak bisa dijaga ya rasa malu itu ketika mendengar suami Mbak X berseru, ‘hati-hati mbak’.  Sejak saat itu dendam kesumat pun terhadap sandal si istri Bapak A timbul.

Suatu pagi ketika saya hendak melakukan rutinitas pagi, membuat sarapan dan bekal makan siang saya dan si bungsu, sepatu si istri Bapak A tergeletak melintang di tengah jalan. Tanpa pikir panjang lagi, sepatu tersebut saya singkirkan dengan tendangan ringan hingga berakhir di dinding dekat pintu kamarnya. Rasanya saat itu lega sekali bisa membalas dendam kesumat saya. Dan sejak hari itu, setiap kali saya melihat sepatu atau sandal diletakkan secara sembarangan dan bisa menimbulkan kecelakaan ringan penghuni lainnya, saya pun dengan sukacita menggesernya dengan tendangan ringan.

Saya pun tidak habis pikir kenapa peraturan tersebut bisa dibiarkan begitu saja, sementara saya yang memasang kesetan kecil di depan pintu kamar malah dilarang, dengan alasan mengurangi keindahan, takut penghuni lainnya ikut-ikutan memasang kesetan dengan ukuran yang berbeda dan warna yang ajaib.

Jadi, ketika si pengurus rumah tangga lantai dua, mengeluh, ‘Aduh Bu, saya kena marah lagi sama si Ibu pemilik rumah. Katanya sepatu dan sandal itu lain kali dimasukkan saja ke dalam kamar mereka. Beritahu mereka, tidak boleh menaruh sepatu dan sandal di depan pintu,’ceritanya

Saya pun menimpali, ya sampaikan saja ke para peserta alas kaki, jawabnya, ‘Saya sudah bilang berkali-kali, tapi entah kenapa penghuni di lantai ini bandel-bandel, tidak seperti di lantai bawah, kalau diberitahu nurut.’

Saya pun tersenyum dan membatin, ‘terang saja penghuni di bawah penurut, wong kebanyakan bukan orang Indonesia penghuninya. Walaupun sebagian besar penyewanya orang Jepang, tetapi mereka mengerti bahwa rumah kost harus diikuti demi kebaikan bersama. Bedanya dengan penghuni lantai atas, kebiasaan orang Indonesia menular ke non Indonesia. Entah kenapa orang asing yang menjadi penghuni lantai atas, mendadak u menjadi orang Indonesia.’

Lalu saya pun berkomentar,’Bilang saja ke Ibu pemilik rumah untuk menulis surat kepada para penghuni kamar, kalau tidak boleh meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu kamar.’

Ketika saya menuliskan cerita ini, saya pun jadi berpikir, kenapa kebiasaan ini bisa hilang saat kita tinggal di hotel? Padahal kebiasaan membersihkan kamar di hotel juga berlaku di rumah kost residence ini. Pengurus rumah tangganya dengan setia membersihkan dan mengepel kamar sesuai dengan permintaan si penghuni, mau tiap hari atau dua hari sekali atau seminggu sekali.

Jika tidak ingin kamarnya kotor karena kamarnya hanya ingin dibersihkan tiga hari sekali, ya sebelum masuk ke dalam rumah, apa sih susahnya menggunakan kesetan untuk membersihkan alas kaki yang habis bertandang ke mal, lapangan olah raga, supermarket ataupun jalan raya ? Solusi yang menguntungkan bagi kedua-belah pihak bukan, si penghuni dan si pengurus rumah tangga.

Sehingga langkah penyelamatan diri a la pengurus rumah tangga seperti ini tidak perlu diambil, Demi menyelamatkan dirinya dari teguran si Ibu pemilik rumah. si pengurus rumah tangga ini pun menemukan cara ampuh. Di hari inspeksi si pemilik rumah, maka si pengurus rumah tangga memasukkan semua sepatu dan sandal penghuninya ke dalam kamar.

Jika penjual kaki lima kucing-kucingan dengan petugas tramtib, maka setiap hari Kamis menjadi hari kucing-kucingan si pengurus rumah tangga dengan pemilik rumah kost.