Author: Juinita

A mother of two beautiful daughters, a writer wanna be, an amateur photographer, a working mom and dog lovers

Kucing liar dan Pertemanan

 

Di rumah kost yang saya tinggali ini, kami, para penghuni, tidak dibenarkan memelihara hewan peliharaan, sejinak apapun si hewan peliharaan itu. Entah kalau hewan peliharaan itu hidupnya di kandang, seperti burung misalnya, kemungkinan besar diperbolehkan.

Nah, karena para penghuni kost saat menyewa kamar mereka masing-masing tidak pernah mempertanyakan klasifikasi hewan peliharaan yang diperbolehkan versus yang dilarang, jadilah para pencinta hewan terpaksa harus menahan keinginannya kuat-kuat.

Hingga tibalah suatu hari, ketika si Perancis masih menjadi penghuni lantai dua, mendadak memiliki ide cemerlang, memberi makan kucing liar yang berkeliaran di halaman rumah.

Saya masih ingat, si Perancis bahkan selalu membeli potongan daging ayam yang sudah di’fillet’ untuk si kucing liar.

Bukan hal asing bagi saya, setiap pulang kantor di malam hari, berpapasan dengan si Perancis yang sibuk memberi makan si kucing liar.  Dan lucunya, kucing liar yang diberi makan pun selalu kucing liar yang sama.

Kebiasaan si Perancis rupanya awal dari kisah-kisah pertemanan penghuni kost dengan kucing liar yang entah kenapa dalam 1 tahun terakhir ini menjadi bertambah banyak.

Sesudah si Perancis pergi entah kemana, di suatu sore, ketika saya sedang bersusah-payah membuka pintu masuk yang lumayan berat, tiba-tiba sudut mata saya menangkap peristiwa yang tidak biasa.

Tepat di sudut kiri ruangan tamu lantai 1, satu-satunya anak kecil penghuni rumah kost sedang sibuk mengamati kardus di depannya. Saya yang selalu didera rasa penasaran, langsung melongok isi kardus, dan betapa terkejutnya saya mendapati si induk kucing dengan lima anak kucing yang masih mungil-mungil. Dan kali ini bukan si Perancis yang sibuk dengan kucing liarnya, tetapi si anak kecil tadi yang sibuk dengan susu ultra untuk si kucing.

Hari-hari selanjutnya, saya punya aktifitas baru, mengamati si anak kucing yang baru lahir bersama si anak kecil tetangga saya.

Hingga suatu sore, si kardus menghilang. Ketika saya bertanya ke si pengurus rumah tangga, katanya,’Oh kucingnya saya titip di rumah sebelah Bu, soalnya tadi yang punya rumah kesini dan katanya tidak boleh ada kucing di dalam rumah.’

Rasanya saat itu ada yang  hilang dan sejak itu saya berjanji untuk tidak lagi mempedulikan kucing-kucing liar yang ada di halaman.

Tapi Tuhan rupanya berkehendak lain, di suatu hari, ada dua penghuni baru di lantai 1. Sepasang suami-istri yang sudah berumur. Si suami bekerja tidak jauh dari rumah kost, dan sang istri memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Dan penghuni kedua, seorang wanita muda.

Semula semua berjalan normal, hingga suatu pagi, mendadak ada pemandangan baru yang tidak asing lagi bagi saya, para kucing berkumpul menunggu pembagian makanan.

Tebak, siapa si pemberi makanan? Siapa lagi kalau bukan si Ibu sepuh tadi. Bahkan sang Ibu itu jauh lebih telaten dari si Perancis. Setiap pagi si Ibu selalu membeli ikan di abang tukang sayur,  khusus untuk para kucing liar. Ibu sepuh ini sangat telaten mencacah ikan mentah tadi, mencampurnya dengan nasi, sebelum membagi nasi itu sesuai dengan jumlah kucing yang ada.

Tetapi bukan itu saja yang membuat saya terkagum-kagum, si penghuni kedua, si wanita muda tadi, rupanya mempunyai kecintaan yang sama terhadap kucing. Kecintaan terhadap hewan yang sama, rupanya mempererat pertemanan mereka.

Jika si Ibu Sepuh sedang kembali ke Bandung, dengan senang hati si Mbak Mega -begitu ia menyebutkan namanya ketika saya sedang takjub melihat perkembangan para kucing liarnya- menggantikan tugas si Ibu Sepuh membagikan makanan barisan kucing liar yang beranak-pinak itu.

Bahkan pertemanan si Ibu Sepuh dan Mbak Mega itu, juga menular ke barisan kucing peliharaan mereka. Pertemanan sesama kucing liar juga semakin erat. Mereka bahkan seperti punya peraturan sendiri, siapa yang boleh masuk, siapa yang cukup duduk di depan pintu, dan siapa yang jadi si bandel – berkeliaran mengaduk-aduk tempat sampah di lantai 2.

Saya yang semula menebalkan hati agar tidak terusik dengan permintaan mengiba si kucing, akhirnya tertular kebiasaan si Ibu Sepuh dan Mbak Mega. Tidak seekstrim mereka, tetapi cukup membuat putri saya kesal, karena setiap kali berbelanja ke supermarket, ada tambahan makanan kucing di tas belanja saya.

 

 

 

 

Advertisements

Rak Sepatu ala Penghuni Rumah Kost Modern – Residence

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang Barisan Alas Kaki di rumah kost modern – residence, yang saya huni. Barisan alas kaki yang entah kenapa hanya bisa ditemui di lantai atas, sementara di lantai bawah, jangankan bentuknya, jejaknya saja pun tidak terlihat.

Saya mencoba untuk mencari alasan yang masuk akal, tapi hingga saya menulis postingan ini, tetap saja tidak berhasil menemukan alasan yang tepat.

Alasan pertama, penghuni lantai bawah kebanyakan orang asing, ternyata tidak juga, komposisi orang asing antara penghuni lantah bawah dan atas sama.  Alasan kedua, penghuni lantai bawah secara status sosial ekonomi lebih ‘tinggi’, juga tidak, wong sewa kamarnya saja sama, bahkan penghuni kamar di lantai atas, ada yang membawa 2 mobil.

Hingga akhirnya saya berkesimpulan,  jika melihat rumah-rumah orang Indonesia pada umumnya,  maka pasti berparadelah para barisan alas kaki  ini adalah semata budaya atau kebiasaan. Orang Indonesia pada umumnya terbiasa menanggalkan sepatunya saat berkunjung ke rumah lain. Saya tidak tahu apa yang mendasari kebiasaan itu, mengingat saya tidak pernah diajari untuk melakukan hal tersebut, tapi mungkin juga alasan utamanya karena keengganan untuk membawa tamu yang tak diundang – kotoran yang melekat di sepatu.

Saya pun akhirnya dengan terpaksa menerima kebiasaan barisan alas kaki yang terjadi di lantai atas dimana saya tinggal. Walaupun kadang rasa iri melanda melihat tingkat keindahan dan kerapian lantai bawah, tapi apa boleh buat, pilihan untuk bertempat-tinggal di lantai atas sudah saya tetapkan.

Apalagi mengingat betapa putus-asanya si empunya pemillik rumah kost modern – residence ini ketika melakukan inspeksi. Saya menyaksikan bagaimana ia bolak-balik menyuruh si pengurus rumah tangganya untuk menegur pemilik alas kaki tersebut agar memasukkan alas kaki mereka ke dalam kamar, tapi tetap saja tidak ada perubahan berarti. Bahkan mereka yang meletakkan alas kakinya di depan pintu semakin bertambah.

Sayangnya ketika saya bisa menerima kebiasaan berderetnya barisan alas kaki di depan pintu kamar, tiba-tiba di suatu hari yang melelahkan, saat saya tiba di lantai dua, mendadak mata saya menangkap benda plastik segi empat, terbagi atas dua tingkatan dan berwarna merah jambu, Benda plastik berwarna ajaib itu dengan manisnya terletak di depan pintu kamar tetangga kamar di seberang kamar saya dan berisikan deretan sepatu si empunya kamar.

Rasanya saat itu ingin berteriak dan menegur si pengurus rumah tangga yang tidak bisa berkutik menegur si empunya kamar. Kesal bercampur-aduk dengan amarah, karena apa yang saya takutkan akhirnya menjadi kenyataan.

Rumah kost aka residence yang saya banggakan sekelas dengan apartemen, mendadak seperti salah satu rumah kost yang kebetulan terletak di seberang rumah kost saya ini. Kumuh, gelap dan nyaris seperti tidak terurus. Padahal mobil-mobil yang parkir di halaman rumah itu bukanlah kelas Avanza.

Saya pun tak habis pikir mengapa tiba-tiba ia mengeluarkan rak sepatu plastik merah jambunya yang bertabrakan dengan warna dan gaya minimalis rumah kost residence. Mungkin karena kamarnya sendiri sudah penuh dengan barang-barang, atau mungkin supaya ia dengan mudah melepas dan mengganti sepatunya atau mungkin karena ia ingin memamerkan brand sepatunya yang lumayan mahal dari sepatu olah raga suaminya – adidas, nike, reebok – hingga sepatunya yang berbagai rupa dari flip-flop, guess, dan disainer ternama – entah saya lupa namanya.

Saya tidak iri dengan deretan sepatunya yang terdiri dari merk ternama – tidak ada merk lokal kecuali sandal jepit – wong selera sepatunya beda 180 derajat dengan saya. Yang membuat saya kesal, karena rak sepatu plastik dengan warna norak itu selalu menjadi pemandangan yang harus saya lihat setiap kali saya membuka dan menutup pintu kamar.

Saya tidak bisa membayangkan penghuni lainnya suatu saat terinspirasi olehnya dan memajang rak sepatu mereka di depan pintu kamar.

Bayangkan jika jalanan di depan kamar kami semua, di pinggirnya berderet rak-rak sepatu berbagai bentuk. Dan karena rak sepatu selalu dianggap bukanlah bagian dari ‘gengsi’, bisa saja rak plastik dengan berbagai warna menjadi pemandangan utama.

Untunglah penghuni lainnya tidak ada yang mengikuti jejak si pemilik kamar. Satu-satunya pemandangan rak sepatu hanya terjadi di depan kamarnya saja.

Mungkin begitulah watak orang Indonesia, ketika mereka mendadak berpunya dan merasa memiliki uang, yang penting saya nyaman, peduli setan dengan orang lain. Mirip dengan para pengendara motor di jalan, yang penting saya bisa lewat dan cepat, peduli setan dengan peraturan lalu lintas.

Kepala Pengurus Rumah Tangga Residence

Siapa bilang hanya istana  atau kepresidenan yang punya Kepala Rumah Tangga, ternyata rumah kost modern aka ‘residence’ juga punya Kepala Rumah Tangga.

Bedanya yang satu berjas, memiliki gelar kependidikan, dan bertugas untuk mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan urusan internal Presiden atau lebih tepatnya membantu Presiden dalam menjalankan tugas kenegaraannya. Sedangkan kepala rumah tangga rumah kost aka residence, jangankan berjas, seragamnya cukup celana pendek selutut, kaos, dan bertugas untuk mengurus urusan rumah tangga para penghuni kost – dari mulai membelikan listrik pra bayar, mengambilkan laundry, membelikan makanan, mencuci mobil hingga urusan membersihkan kamar-kamar penghuni rumah kost.

Kepala rumah tangga kepresidenan memberikan pernyataan kepada media, kepala rumah tangga rumah kost memberikan keterangan kepada para calon penghuni rumah kost. Tetapi yang pasti, kepala rumah tangga kepresidenan tidak pernah masuk dalam daftar tertuduh jika terjadi kehilangan di Istana, beda dengan kepala rumah tangga rumah kost, mereka selalu menjadi sasaran empuk jika terjadi kecurangan ataupun kehilangan di rumah kost.

Baru-baru ini, kepala pengurus rumah tangga lantai dua di rumah kost tempat saya tinggal mendadak menginformasikan bahwa berdasarkan keputusan MPR eh salah Pemilik Rumah Kost, maka dia harus bertukar tempat dengan  si kepala rumah lantai satu. Ketika saya tanyakan alasannya, dia hanya mengatakan bahwa ini pertukaran tempat biasa.

Sayangnya, si kepala pengurus rumah tangga lupa, para penghuni rumah kost lantai dua ini sering bertemu di dapur – maklum kegiatan yang memungkinkan para penghuni berinteraksi ya hanya di dapur – dan terungkaplah cerita di balik batu mengenai pergantian kepala rumah tangga lantai dari si mbak pengasuh anak salah satu penghuni ke penghuni lainnya dan ke penghuni lainnya.

Alasannya sederhana, si kepala pengurus rumah tangga lantai satu, menjadi tersangka ketika salah satu penghuni lantai 1 kehilangan salah satu perhiasannya. Namun karena susah dibuktikan kebenarannya, karena si penghuni kamar itu kebetulan cukup banyak kedatangan tamu – entah saudara entah teman sekerja, maka si pemilik rumah mencari solusi yang membuat tentram semuanya, Pertukaran Kepala Rumah Tangga antar lantai.

Pergantian ini tentu saja tidak serta merta diterima dengan mulus, mengingat ada tugas-tugas tambahan yang diberikan si penghuni kamar kepada si Kepala Rumah Tangga, mulai dari mencuci mobil, mencuci pakaian, membelikan listrik dan sebagainya, dan sebagainya.

Tidak semuanya juga bahagia, ada yang apatis, ada yang bahagia dan ada yang berat hati. Saya termasuk barisan berat hati, maklum karena si Kepala Rumah Tangga yang dipindahkan ini orangnya cukup lugas dan gemar menantang para penghuni yang dianggap berseberangan dengan peraturannya.

Bisa dimengerti sih, apalagi dibandingkan pengurus rumah tangga yang satunya lagi, keahlian si kepala rumah tangga baru ini lebih banyak dari yang pertama. Penghuni lantai dilarang protes dan pemilik rumah kost pun tidak ingin diprotes, jadi apa pun yang dirasakan si penghuni lantai dua terhadap si Kepala Rumah Tangga baru harus diterima.

Jadilah kami – para penghuni – mulai saling berbisik dan bergosip tentang si kepala rumah tangga baru. Bapak A mengeluhkan uang yang harus diberikan, soalnya selama ini Bapak A memberikan uangnya sekaligus, uang cuci mobil dan uang tanda terima kasih karena urusan bersih-bersih. Ibu B lain lagi, baginya si kepala pengurus rumah tangga rumah kost ini cukup mumpuni dalam tugasnya, buktinya kamarnya sekarang kinclong. Bapak C, entah kenapa meragukan integritas si kepala rumah tangga baru ini  – soalnya beliau berhasil memergoki si Kepala Pengurus Rumah Tangga baru ini dengan seenaknya menyalakan listrik dan mencharge HPnya di kamar Bapak C.

Lagu bagaimana dengan saya ?

Beberapa waktu lalu setelah kenaikan tarif listrik yang terjadi tanpa pengumuman resmi, saya pun mulai mencatat pemakaian kwh saya setiap hari.  Gara-garanya sepele, karena mendadak jumlah kwh yang biasanya tidak berkurang jauh dari jumlah uang yang saya alokasikan untuk listrik pra bayar, sekarang menjadi berkurang cukup banyak. Dan tentu saja ketika mendadak berkurang cukup banyak, maka saya pun penasaran untuk mengetahui berapa banyak sih pemakaian kwh saya setiap hari. Sehingga sejak saat itu, saya pun mulai mencatat dengan sembunyi-sembunyi berapa sisa kwh sebelum listrik saya matikan saat saya dan si kecil berangkat pagi-pagi. Saya pun mewanti-wanti si kecil agar mencocokkan jumlah kwh jika dia tiba dari sekolah.

Semua berjalan normal, hingga tiba saatnya ketika saya kembali ke rumah pada hari Sabtu dan kembali lagi ke rumah kost pada hari Minggu. Mendadak jumlah kwh saya berkurang cukup signifikan. Apalagi ketika saya tiba, listrik saya sudah menyala. Ini bukan yang pertama tapi pengurangan kwh yang cukup signifikan sudah melebihi ambang batas kesabaran saya.

Nah karena si Kepala Pengurus Rumah Tangga pindahan dari lantai satu selalu merasa dirinya lebih senior dan tidak segan-segan menegur penghuni kamar, jadilah saya menggunakan taktik sindiran secara halus. Saya dengan resmi menempelkan kertas yang mencatat kwh saat saya meninggalkan kamar kost dan saat saya/si kecil tiba dari sekolah. Dan sejak saat itu, tingkat kepercayaan saya pada si Kepala Pengurus Rumah Tangga pun berkurang.

Kalau ditanya, jika boleh memilih, saya tentu saja akan memilih Kepala Rumah Tangga yang sekarang pindah tugas menjadi Kepala Rumah Tangga lantai satu. Apakah si Kepala Rumah Tangga yang pindah tugas itu baik ?

Pada dasarnya mereka sama saja, dua-duanya sama malasnya, bedanya yang dulu jauh lebih baik dibandingkan yang sekarang. Kepala Rumah Tangga yang dulu, selalu membiarkan dapur terawat dengan baik, lantai selalu bersih, tidak seperti sekarang ini, kompor dibiarkan saja dipenuhi dengan sisa minyak hasil menggoreng. Jadwal membersihkan kompor mungkin setiap dua minggu sekali. Lantai dapur ? Cukup dibersihkan pagi-pagi sekali, kadang saat penghuni sedang melakukan ritual memasaknya.

Bagaimana dengan kebersihan kamar saya ? Wah saya tetap memilih Kepala Rumah Tangga yang pertama, dia tetap lebih bersih. Yang sekarang ini bahkan tidak pernah membersihkan wastafel dan kaca toilet. Kata salah satu penghuni kost yang selantai dengan saya, si Kepala Rumah Tangga yang dulu itu melayani saya dengan baik karena saya memberikannya tugas tambahan, mencuci mobil. Jadi ada tambahan penghasilan dari gaji bulanannya. Nah, kalau saya tidak memberikan tugas tambahan, menurut salah satu teman tadi, pastinya dia akan lebih buruk dari yang sekarang ini.

Benar atau tidak hipotesanya ? Saya tidak tahu, bisa ya bisa tidak. Namanya juga manusia, pasti ada sifat baik, ada sifat buruknya. Yang pasti sejak kejadian itu saya belajar bagaimana menegur orang tanpa harus meninggikan suara, menegur tetap bisa dilakukan dengan cara sindiran.

Dua perempuan Satu dapur

Dari seluruh bagian rumah yang ada, dapurlah yang menurut saya memiliki kriteria yang tidak berbahaya untuk urusan berinteraksi dengan penghuni lainnya, mengingat pengalaman saya selama ini yang aman tentram sejahtera.

Sepanjang pengalaman saya berinteraksi dengan dapur dan penghuninya, yang hanya dua kali, yaitu di rumah dan saat berkemah bersama teman-teman semasa SMA, nyaris tidak ada cerita yang bisa disebut istimewa. Hal ini mungkin karena yang pertama masuk dalam wilayah kekuasaan sendiri sedangkan yang kedua walaupun masuk dalam kategori yurisdiksi orang banyak, kondisinya cukup semrawut akibat ketidakjelasan apakah tempat itu bisa dikategorikan sebagai dapur.

Sehingga ketika saya memutuskan untuk kost, maka dari semua kriteria yang ada, dapur masuk dalam kriteria bagian yang tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan friksi. Hingga ketika saya bersenggolan dengan peristiwa yang mampu memutarbalikkan premis saya tadi.

Semua ini berawal saat salah satu penghuni di lantai 2, mendadak terserang penyakit gemar memasak. Sebenarnya sih kegemaran mendadaknya itu sah-sah saja, asal berlangsung dengan aman tentram. Namun, sejak beliau memiliki hobby baru, entah kenapa dapur dan seisinya mengalami perubahan 180 derajat.

Lemari es otomatis mendadak menjadi susah ditutup, karena kotak-kotak makanan dengan label nama si penghuni kamar malang-melintang menempati entah ‘freezer’ atau area pendingin lainnya.

Tempat minyak bekas menggoreng saya mendadak setiap saat penuh dengan minyak. Kejadian yang membuat saya terheran-heran, mengapa isinya tidak pernah berkurang, sementara frekuensi saya menggoreng tidak pernah berkurang saat itu. Saya sampai berpikir jangan-jangan ada penghuni berbaju putih yang melayang-layang iseng memindahkan isi minyak goreng milik orang lain ke dalam wadah saya.

Belum lagi nanti ada nasi putih lengkap dengan ayam atau tahu atau tempe goreng terhidang di meja makan tanpa kejelasan pemiliknya. Atau wajan bekas menggoreng yang teronggok dengan manisnya di atas kompor lengkap dengan minyak sisa menggoreng.

Bahkan pernah suatu hari disertai dengan asbak beserta pernak-perniknya bertengger dengan nyamannya di sudut dekat tempat mencuci piring.

Tetapi yang membuat saya terpaksa harus memendam perasaan adalah kegemaran beliau melakukan ritual memasaknya yang selalu harus disertai para dayang-dayangnya. Ritual yang berakibat penuhnya dapur mungil tempat berlangsungnya kegemaran memasak beliau.

Hingga di suatu pagi, hati tempat saya memendam perasaan sudah tidak mampu lagi menampung kekesalan saya ketika melihat kotak-kotak makanan dengan penanda si empunya kamar mendadak memenuhi isi ‘freezer’ dan menendang kotak makanan penghuni lainnya ke sudut lainnya dengan semena-mena. Dan lebih tragisnya lagi, sebuah t-shirt pun kali ini dengan tenangnya ‘nangkring’ di kursi meja makan nan mungil itu.

Seperti halnya gunung berapi yang memerlukan jalan untuk memuntahkan lavanya, saya pun mencari sasaran empuk untuk memuntahkan segala unek-unek saya. Sialnya lagi, saat itu yang ada di depan mata adalah si pengurus rumah tangga. Mengingat semua delik aduan harus dicatatkan ke pengurus rumah tangga, saya pun melaporkan setiap kejadian dengan rinci tanpa peduli si penerima aduan mampu mencerna dengan baik atau tidak, sambil membereskan isi lemari es agar kembali resik dan memiliki ruang lebih bagi para penghuni lainnya.

Entah khawatir saya akan meneruskan delik aduan ini ke si pemilik rumah kost, si pengurus rumah tangga pun menyampaikan kekesalan saya kepada si penghuni kamar yang memiliki hobby baru. Penyampaian yang tepat karena si penghuni kamar itu merasa perlu menyampaikan alibinya kepada saya disertai dayangnya.

Rasanya saat itu, adegan ketika si penghuni kamar menyampaikan alibinya persis seperti adegan film Indonesia tahun 80-an dimana dua perempuan bertengkar memperebutkan suami atau pacar mereka, minus adegan menjambak rambut tentunya.

Tidak ada fakta yang tidak memiliki bantahan. Ketika saya menyampaikan betapa pentingnya kita menjaga barang yang menjadi milik bersama, bantahannya adalah itu urusan si pemilik kost, tanpa dia sadar kalau lemari es itu rusak maka semua akan menderita.

Fakta versus bantahan lainnya, yang berujung kalimat penutup si penghuni bahwa ia memiliki peraturan sendiri, jika saya tidak suka silakan tinggal di apartemen.

Untung kemudian saya mendadak teringat pesan ibu saya, ‘Perempuan yang terdidik itu dilihat dari tindak-tanduknya, caranya berkomunikasi dan tahu persis kapan harus berhenti saat diskusi tidak dapat dilakukan agar tidak menjadi kampungan,’ Pesan yang membuat saya mengiyakan saja kalimat si penghuni yang memiliki kegemaran baru dan meninggalkannya bersama dayang tercintanya.

Jadi, pembelajaran apa yang saya terima dari kejadian ini ?

Pertama, betapa pentingnya untuk tetap menyuarakan kebenaran walaupun tidak populer. Dan betapa pentingnya untuk sadar dan berhenti menyadarkan seseorang yang tidak memiliki kepekaan yang sama.

Kedua, uang sewa yang mahal dari rumah kost dan betapapun modernnya rumah kost tersebut tetap saja tidak menjamin bahwa penghuninya memiliki tingkat kepedulian yang lebih tinggi.

Tas Longchamp KW 1

Entah kapan tepatnya, tas dengan merek Longchamp mendadak menduduki peringkat tas yang menjadi panutan kaum perempuan, tapi yang saya tahu, tas tersebut mendadak mengindonesia sejak sekitar 2-3 tahun lalu. Mendadak mengindonesia maksud saya disini mendadak jadi bagian dari tas yang masuk dalam jajaran KW; yang akibatnya tentu saja tas-tas serupa dan sejenis mudah ditemui di semua kalangan.

Kebetulan, saya bukanlah pemburu tas per-kw-an, bagi saya lebih baik memakai tas yang tidak bermerek daripada memakai tas bermerek tapi KW.

Kembali ke tas Longchamp, suatu saat, sepupu saya yang baik hati, mendadak memberikan hadiah tas Longchamp, tidak tanggung-tanggung, dia menghadiahi saya 2 buah tas Longchamp yang mengindonesia dan 2 buah tas make up Longchamp.

Seperti biasa, karena unsur kepraktisan dan unsur banyaknya muatan, maka tas Longchamp itu akhirnya menjadi tas kantor favorit saya, kecuali jika saya harus berangkat menemui calon klien, otomatis tas Longchamp itu terpaksa harus saya parkir sejenak. Bukan karena tas tersebut sudah mengindonesia, tetapi karena tas tersebut lebih terkesan ‘non-formal’ dibandingkan tas-tas saya lainnya.

Mungkin karena terlatih untuk menjadi ‘Close Personal Circuit Television’ maka para satpam di rumah kost residence saya, mendadak menjadi pengamat mode para penghuninya – dari mulai sandal, sepatu, hingga tas yang dipergunakan penghuninya.

Bagaimana tidak menjadi pengamat mode, wong tiap hari – minimal dua kali dalam sehari – mereka berinteraksi dengan para penghuninya dalam hal pengaturan perparkiran mobil-mobil penghuni. Otomatis, mata mereka harus awas dan waspada.

Saya sendiri tidak menyadari hal itu, hingga di suatu hari, sepulangnya saya dari kantor, setelah memarkir mobil saya sesuai dengan petunjuk Pak Satpam yang bertugas, dan mengambil peralatan perang kantor, tiba-tiba Pak Satpam A sambil malu-malu menegur saya.

‘Bu, maaf mengganggu. Begini Bu, boleh saya tahu Ibu beli tas ini dimana Bu ?,’katanya

Saya yang sedang sibuk dengan peralatan perang kantor, langsung terdiam dan mendadak bingung memilih jawabannya. Pertama, takut dibilang sombong kalau tas yang saya punya ini tas asli dan bukan per-kw-an. Kedua, ini kan tas pengasihan bukan tas yang saya beli sendiri. Ketiga, saya pun tidak up-to-date dengan harga-harga tas yang dari awal tidak pernah masuk dalam ‘must-have-list-bag’ saya.

Tetapi melihat tatapan matanya yang mengharapkan jawaban, saya pun tidak tega untuk tidak memberikan jawaban yang jujur kepada beliau. Apalagi para petugas Satpam itu tidak pernah berlaku tidak sopan.

‘Wah, maaf Pak, saya tidak tahu, kebetulan tas ini hadiah dari sepupu saya,’jawab saya

‘Maaf Ibu, bukannya saya lancang, soalnya istri saya minta dibeliin tas seperti yang punya Ibu. Katanya ibu-ibu temennya istri saya pada punya tas seperti itu, jadinya dia minta saya beliin. Saya kepingin tahu harganya berapa, gak usah yang asli Bu, yang KW aja, KW 1 juga boleh Bu,’balasnya

Saya membatin, membayangkan reaksinya jika tahu harga tas Longchamp ini, tas yang ketampakannya murah namun mampu mengindonesia ini.

Tidak tega membayangkan rengekan istrinya, saya pun kemudian berjanji untuk mengecek harga tas Longchamp KW1 atau KW2.

‘Coba nanti saya tanya ya Pak, kebetulan di kantor saya saat ini ada bazar, tadi kebetulan saya lihat tas dengan model seperti ini dipajang,’ujar saya

Pak Satpam pun dengan mata berbinar-binar menyampaikan terima kasihnya dan mempersilakan saya melanjutkan kehebohan saya masuk ke dalam rumah.

Ternyata memang benar kata teman saya, para penjaga keamanan rumah kost residence saya lebih tepat disebut sebagai ‘Close Personal Circuit Television’ – tingkat pengamatan mereka mampu mengalahkan petugas Densus 88.

Balkon dan Tanaman – Sudut Favorit

Jika saya harus memilih sudut yang paling saya sukai di rumah kost residence tempat saya tinggal saat ini, tanpa berpikir-panjang lagi saya akan memilih balkon kamar saya.

Alasannya sederhana, karena akhirnya setelah 6 bulan menimbang-nimbang, bolak-balik mampir ke Ace Hardware, mencoba setiap macam kursi, akhirnya saya berhasil memiliki kursi yang bisa saya letakkan di balkon kamar saya.

Kursi yang berfungsi sebagai kursi goyang tempat saya menuliskan cerita saya tentang rumah kost, atau tempat saya melepaskan penat sambil memandangi lampu-lampu apartemen di kejauhan atau hanya sekedar memejamkan mata ditemani semilir angin malam, dan tanaman rambat yang khusus saya beli agar balkon saya setara dengan para penghuni lantai bawah yang memiliki teras dan halaman kecil di depan kamarnya.

Sepengetahuan saya, di deretan balkon sisi timur lantai dua ini, hanya saya sendiri yang memiliki tanaman dan pot tanaman, sementara penghuni lainnya – berdasarkan hasil pengamatan saya ketika menjemur pakaian – tidak menganggap balkon mereka sebagai tempat istimewa, tempat yang bisa dinikmati untuk melepas lelah.

Saya tidak tahu para penghuni di sisi barat, namun yang saya tahu pasti, salah satu teman saya yang berada di sisi Barat, juga memiliki kebiasaan yang sama dengan saya. Bedanya, teman saya itu, nona A, menaruh sepasang meja dan kursi serta membeli beberapa bunga, untuk menemaninya menikmati sore ataupun matahari pagi.

Ide untuk menaruh kursi dan tanaman sebenarnya sudah lama terbersit di benak saya, namun karena satu dan lain hal, akhirnya ide tersebut saya simpan di sudut paling dalam. Sampai akhirnya, di salah satu perbincangan saya dan nona A saat kami kebetulan sedang berada di jam yang sama di sesi memasak, kami saling melontarkan ide untuk mempercantik balkon.

Berbeda dengan saya, nona A langsung mengutarakan niatnya ke si Pemilik Rumah, dan segera membeli tanaman berbunga untuk mewujudkan idenya.

Sementara saya, setelah berpikir bolak-balik, memutuskan untuk membeli tanaman terlebih dulu, sedangkan pembelian kursi harus saya putuskan matang-matang, bukan apa-apa, kursi itu menentukan apakah balkon itu akhirnya menjadi tempat senikmat yang dibayangkan saat ide awal itu muncul.

Kriteria kursi itu setidaknya harus empuk, tidak panas, dan bahannya pun harus yang tahan-banting terhadap cuaca baik saat diterpa matahari ataupun diterpa air hujan. Maksimal kursi itu harus memiliki 2 seater – pilihan yang kemudian menjadi single seater karena si kecil memutuskan tidak mau mengikuti jejak saya, kecuali kursi yang saya pilih kursi yang berfungsi ganda sebagai ayunan. Dan seperti biasa, dari semua kriteria itu, yang terutama adalah harga, saya tidak ingin membeli kursi yang harganya selangit, rasanya kurang pas saja.

Sehingga tentu saja saya tidak bisa secepat Nona A dalam memilih perabotan balkon, semua harus memiliki pertimbangan matang.

Di hari saya memutuskan membeli kursi balkon ini, saya berkunjung ke Ace Hardware dengan dua lokasi yang berbeda, mencoba kursi yang sama di dua lokasi tersebut, sebelum akhirnya kursi tersebut saya persunting.

Rasanya dunia menjadi milik saya ketika kursi tersebut menjadi penghuni balkon kamar. Saya pun mendadak diserang penyakit aneh, mendadak ingin pulang tepat waktu – bahkan kalau bisa pulang lebih awal – hanya untuk sekedar merasakan nikmatnya duduk di kursi goyang di balkon kamar.

Entah kenapa, sejak memiliki kursi ini, saya seperti mendadak mendapat energi baru untuk menulis dan membaca buku, walaupun tidak semuanya sukses saya jalankan, karena pernah di suatu malam, saya tertidur di kursi dengan laptop yang masih terbuka dan di suatu malam lainnya, saya sempat berkelana di alam mimpi dengan buku terbuka di pangkuan.

Saya pun jadi memiliki kebiasaan baru, mengamati kondisi teras tetangga bawah saat menjemur pakaian, hanya untuk sekedar mengamati apakah ada ide tambahan yang bisa saya ikuti dari penghuni lantai bawah.

Dan saya pun memiliki rencana tambahan, membeli lemari kecil yang bisa saya letakkan di balkon untuk menampung beberapa barang dan juga menaruh pot tanaman berbunga yang akan saya beli nantinya. Tetapi yang pasti, lemari kecil dan tanaman berbunga masih sebatas angan-angan. Perlu saya endapkan terlebih dulu.

Saya jadi teringat apartemen CEO saya di perusahaan terdahulu. Ketika itu kami semua diundang ke apartemennya untuk merayakan hari natal. Di balkon apartemennya, istri sang CEO meletakkan sepasang kursi dan meja, serta membuat taman kecil di sudut balkonnya itu. Saat itu saya mencoba merasakan nikmatnya balkon beliau, sambil membayangkan nikmatnya memandang Jakarta dengan kerlap-kerlip lampunya.

Saya pun membatin, suatu saat kalau saya mendapatkan kesempatan memiliki apartemen dengan balkon seperti beliau, balkon itu akan saya dandani seperti bakon beliau.

Ternyata, tanpa saya sangka, kesempatan itu ada, dan saya pun memiliki balkon idaman yang mirip dengan balkon apartemen beliau.

Jadi, sudut mana yang paling saya rindukan dari kamar kost residence saya ? Balkon kamar sayalah yang paling saya rindukan, tempat dimana saya menghabiskan ‘me time’ saya.

Close Personal Circuit Television

Beberapa waktu lalu, saat saya  sedang menikmati makan malam perpisahan dengan salah satu teman dekat sahabat saya, berceritalah suami sahabat saya tadi tentang pengalamannya mengantarkan kue ke tempat kost saya.

‘Wah, hebat sekali Pak Satpam di tempat kost dia, up to date. Waktu gue anterin kue ke rumah kostnya, Pak Satpamnya langsung kasih laporan pandangan mata. Katanya, maaf Pak, Ibu belum pulang, tetapi anaknya sudah pulang, baru saja. Kuenya dititip di saya saja Pak.’

Kemudian berceritalah saya, kalau barisan Pak Satpam di tempat kost residence saya, benar-benar berdedikasi dan tahu kegiatan penghuninya. Dari siapa yang berangkat paling pagi, siapa yang paling parah menyetir – khusus kemampuan menyetir berdasarkan  pengamatan menyetir berdasarkan cara parkir – sampai siapa yang diduga berpacaran dengan siapa.

Saya sendiri pun terheran-heran dengan kepiawaian mereka dalam melakukan pengamatan, di satu sisi kadang-kadang saya merasa pengamatan mereka terlalu detil – rasanya nyaris tidak ada cerita yang bisa dirahasiakan dari mereka – namun di sisi lainnya, saya merasa berterimakasih karena mereka selalu melaporkan jam pulang sekolah si kecil jika tidak seperti biasanya dan kendaraan yang ditumpanginya.

Laporan mereka pun tidak pernah meleset tingkat keakuratannya, dan selalu disampaikan begitu saya selesai memarkirkan mobil.

‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya agak sore. Biasanya jam 3 sudah sampai rumah, ini jam 5,’lapor si Bapak Satpam 1 atau ‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya naik ojek, biasanya pulangnya naik taxi,’lapor si Bapak Satpam 2

Dan saya pun mengkonfirmasikannya dengan menyampaikan sebab-musabab si kecil pulang terlambat, atau hanya tersenyum-simpul ketika tahu si kecil pulang naik ojek – maklum ojek adalah kendaraan terlarang walaupun masuk dalam kategori praktis dan cepat.

Suatu ketika, saya terpaksa harus terbaring sakit karena diare hebat dan tidak bisa menelan makanan apa pun selain bubur. Terpaksalah saya meminta tolong si pengurus rumah tangga untuk mencarikan restoran yang menjual bubur ayam atau bubur Cina. Saya mewanti-wanti pengurus rumah tangga untuk tidak membelikan bubur yang dijual di pinggir jalan.

Tidak lama kemudian, sepupu saya yang tinggal tidak jauh dari tempat saya kost tiba di tempat kost mengantarkan bubur. Kalimat pertama yang disampaikannya, ‘Wah, Pak Satpam tahu ya kalau lo diare. Soalnya pas gue datang bawa makanan. Pak Satpamnya tanya, itu bubur ayam ya Bu ? Terus kata Pak Satpamnya lagi, Wah syukurlah Ibu bawa bubur, soalnya kita semua lagi bingung mau beli bubur ayam restoran disini dimana ya.’

Bukan itu saja, lanjut sepupu saya, ‘Pak Satpamnya tanya, Ibu beli dimana bubur ayamnya. Setelah gue bilang, gue bikin sendiri, Pak Satpamnya bilang wah kalau begitu memang gak ada ya Bu, restoran yang jual bubur ;ayam.’

Saya yang mendegar cerita sepupu saya hanya tersenyum simpul, sambil membayangkan kegaduhan yang timbul gara-gara permintaan saya minta dibelikan bubur.

Dan tertawa ketika karib saya berkomentar lagi, ‘Gue tahu sih kalo rumah kost residence lo punya CCTV, tapi gue rasa pemiliknya sebaiknya gak pasang CCTV deh. Barisan Pak Satpam lo itu sudah lebih keren dari CCTV, kalau mereka namanya ‘Close Personal Circuit Television’ alias Kepo,’

 

Barisan Alas Kaki

Di rumah kost yang saya huni, ada beberapa peraturan wajib yang harus diikuti para penghuninya, salah satunya tentang meletakkan alas kaki di depan pintu kamar. Alasannya sederhana, agar rumah kost terlihat bersih dan apik, disamping tentu saja mencegah agar penghuni lainnya tidak tersandung alas kaki alias sepatu atau sandal yang diletakkan sembarangan.

Bagi saya, peraturan itu kebetulan sejalan dengan kebiasaan saya yang tidak meletakkan sepatu atau pun sandal di depan pintu rumah saya. Rasanya risih dan menimbulkan kesan berantakan jika barisan sepatu atau sandal digeletakkan begitu saja di depan pintu rumah. Walaupun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sah-sah saja melepas sepatu atau sandal sebelum masuk ke dalam rumah.

Bagi saya,  alih-alih meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu, lebih baik meletakkan kesetan agar debu ataupun bekas tanah bisa dibersihkan di kesetan tersebut, sehingga tidak mengotori lantai di dalam rumah.

Jadi, ketika peraturan tentang alas kaki tersebut disampaikan ke saya pertama kali, dengan senang hati saya menyambutnya.

‘Bukan masalah besar, lagipula siapa yang mau memajang sepatu depan pintu kamar, Lagipula jika tidak ada sepatu atau sandal berserakan, lorong kamar akan terlihat lapang dan resik,’batin saya

Tetapi rupanya saya salah duga, para penghuni kost di lantai yang saya tempati ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda.

Bermula dari si J, lulusan universitas luar negeri. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan pertama kali ke rumah kost residence ini. Saat itu, si Ibu pemilik rumah mengajak saya melihat kamar yang terletak di lantai atas alias lantai dua. Ketika melewati kamar si J, sambil menerangkan si penyewa kamar tersebut, dia memanggil si pengurus rumah tangga, katanya ‘Coba bereskan sepatu-sepatu ini, berantakan sekali. Besok kalau dia sudah kembali dari rumahnya, sampaikan sepatu-sepatu harus diletakkan di dalam kamar.’

Dari J berlanjut ke Bapak B. Kebiasaan Bapak B lain lagi. Bapak B menempatkan alas kakinya dengan sangat rapi dan sesuai urutan keluarganya. Bapak-Ibu dan anak serta pembatu. Bedanya Bapak B menaruh sandal, hanya sesekali berganti dengan sepatu dan itupun bisa dihitung dengan jari. Namun, apapun yang diletakkannya selalu sesuai urutan keluarga. Lucunya, sandalnya pun warnanya senada, hitam. Satu-satunya sandal yang warnanya bukan hitam, milik si asisten rumah tangga harian keluarga itu dan satu-satunya sandal yang memiliki tambahan warna milik si kecil.

Dari Bapak B, beralih ke Mbak X. Sampa seperti Bapak B, bedanya di depan pintu kamar Mbak X hanya terletak satu sandal dan sandal itu pun sandal rumah, karena sandal itu tidak pernah terlihat berjalan-jalan hingga keluar. Sesekali, ada sepatu yang tergeletak disamping si sandal tadi. Bedanya sepatu tidak pernah menetap, berbeda dengan si Sandal yang menetap 24 jam, dari pagi ke pagi.

Seperti halnya para pengendara motor yang kerap melanggar aturan, begitu pula dengan urusan peletakan alas kaki di rumah kost ini. Bermula dari kebiasaan satu orang, kemudian kebiasaan itu menimbulkan ide bagi orang lain yang kebetulan memiliki nilai dan pemikiran yang sama. Kebiasaan nona J, berlanjut ke Bapak B dan Mbak X, menimbulkan ide ke penghuni lain yang kebetulan berkebangsaan Eropa.

Entah kenapa, si C, yang memiliki wajah seperti Justin Bieber kalau habis menggunting rambunya, dan berkewarganegaraan tempat si matador bertanding, mendadak sontak memiliki kebiasaan baru, melepas alas kakinya di depan pintu kamarnya. Diawali dengan sepasang sepatu, kemudian berlanjut dengan sepatu olah raganya yang dekil – mungkin karena habis bermain futsal – dan diakhiri dengan sepasang sandal.  Saya benar-benar terheran-heran ketika mendapati fenomena itu. Jika orang Jepang saya masih bisa paham, atau orang Singapura saya pun lebih paham, tapi ini orang Eropa – rasanya sepengetahuan saya mereka tidak memiliki kebiasaan seperti itu. Tapi mungkin inilah yang disebut orang dengan dirasuki roh kebudayaan Indonesia. Mungkin si C  sebenarnya di masa lalu pernah jadi orang Indonesia, walaupun saat dilahirkan kembali dia menjadi orang Eropa. Sehingga ketika dia tinggal di Indonesia, jiwa masa lalunya mengirimkan sinyal ke sinap-sinap di otaknya, dan jadilah kebiasaan baru meletakkan alas kaki di depan pintu kamar.

Tetapi dibandingkan para penghuni kamar lantai atas yang memiliki kebiasaan sama, tidak ada yang sekonyol dan seatraktif  ulah sepasang suami-istri, sebut saja Bapak A dan istrinya. Tampaknya pasangan tersebut memiliki kegemaran untuk memamerkan merk sepatu dan sandalnya di depan pintu kamarnya. Tinggal pilih, mau merk sepatu apa saja juga tersedia, dari yang berlabel Channel, Nike, Adidas, Dior, hingga merk lokal, sandal bali. Dan bukan itu saja, istrinya pun kerap melepaskan alas kakinya secara serampangan, seperti orang yang terburu-buru harus membuang hajat.

Suatu hari, saya pun terkena dampaknya si istri tadi. Saat itu sehabis memasak di dapur, saya bertemu dengan si Mbak X dan suaminya yang kebetulan hendak bepergian. Seperti biasa, sapaan diawali dengan cerita ringan sambil berjalan menuju kamar. Mungkin karena saya tidak berkoensentrasi melihat ranjau sandal atau juga karena saya berjalan terlalu ke kiri, tersandunglah saya dengan sandal si istri Bapak A. Untung saya masih sempat menjaga keseimbangan, kalau tidak bisa dibayangkan adegan piring melayang dan orang jatuh terjerembab dengan halo burung-burung di atas kepala. Tapi yang tidak bisa dijaga ya rasa malu itu ketika mendengar suami Mbak X berseru, ‘hati-hati mbak’.  Sejak saat itu dendam kesumat pun terhadap sandal si istri Bapak A timbul.

Suatu pagi ketika saya hendak melakukan rutinitas pagi, membuat sarapan dan bekal makan siang saya dan si bungsu, sepatu si istri Bapak A tergeletak melintang di tengah jalan. Tanpa pikir panjang lagi, sepatu tersebut saya singkirkan dengan tendangan ringan hingga berakhir di dinding dekat pintu kamarnya. Rasanya saat itu lega sekali bisa membalas dendam kesumat saya. Dan sejak hari itu, setiap kali saya melihat sepatu atau sandal diletakkan secara sembarangan dan bisa menimbulkan kecelakaan ringan penghuni lainnya, saya pun dengan sukacita menggesernya dengan tendangan ringan.

Saya pun tidak habis pikir kenapa peraturan tersebut bisa dibiarkan begitu saja, sementara saya yang memasang kesetan kecil di depan pintu kamar malah dilarang, dengan alasan mengurangi keindahan, takut penghuni lainnya ikut-ikutan memasang kesetan dengan ukuran yang berbeda dan warna yang ajaib.

Jadi, ketika si pengurus rumah tangga lantai dua, mengeluh, ‘Aduh Bu, saya kena marah lagi sama si Ibu pemilik rumah. Katanya sepatu dan sandal itu lain kali dimasukkan saja ke dalam kamar mereka. Beritahu mereka, tidak boleh menaruh sepatu dan sandal di depan pintu,’ceritanya

Saya pun menimpali, ya sampaikan saja ke para peserta alas kaki, jawabnya, ‘Saya sudah bilang berkali-kali, tapi entah kenapa penghuni di lantai ini bandel-bandel, tidak seperti di lantai bawah, kalau diberitahu nurut.’

Saya pun tersenyum dan membatin, ‘terang saja penghuni di bawah penurut, wong kebanyakan bukan orang Indonesia penghuninya. Walaupun sebagian besar penyewanya orang Jepang, tetapi mereka mengerti bahwa rumah kost harus diikuti demi kebaikan bersama. Bedanya dengan penghuni lantai atas, kebiasaan orang Indonesia menular ke non Indonesia. Entah kenapa orang asing yang menjadi penghuni lantai atas, mendadak u menjadi orang Indonesia.’

Lalu saya pun berkomentar,’Bilang saja ke Ibu pemilik rumah untuk menulis surat kepada para penghuni kamar, kalau tidak boleh meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu kamar.’

Ketika saya menuliskan cerita ini, saya pun jadi berpikir, kenapa kebiasaan ini bisa hilang saat kita tinggal di hotel? Padahal kebiasaan membersihkan kamar di hotel juga berlaku di rumah kost residence ini. Pengurus rumah tangganya dengan setia membersihkan dan mengepel kamar sesuai dengan permintaan si penghuni, mau tiap hari atau dua hari sekali atau seminggu sekali.

Jika tidak ingin kamarnya kotor karena kamarnya hanya ingin dibersihkan tiga hari sekali, ya sebelum masuk ke dalam rumah, apa sih susahnya menggunakan kesetan untuk membersihkan alas kaki yang habis bertandang ke mal, lapangan olah raga, supermarket ataupun jalan raya ? Solusi yang menguntungkan bagi kedua-belah pihak bukan, si penghuni dan si pengurus rumah tangga.

Sehingga langkah penyelamatan diri a la pengurus rumah tangga seperti ini tidak perlu diambil, Demi menyelamatkan dirinya dari teguran si Ibu pemilik rumah. si pengurus rumah tangga ini pun menemukan cara ampuh. Di hari inspeksi si pemilik rumah, maka si pengurus rumah tangga memasukkan semua sepatu dan sandal penghuninya ke dalam kamar.

Jika penjual kaki lima kucing-kucingan dengan petugas tramtib, maka setiap hari Kamis menjadi hari kucing-kucingan si pengurus rumah tangga dengan pemilik rumah kost.

Closed Circuit Television

Dulu, ketika saya masih berkantor di seputaran Sudirman, beberapa rekan sekantor saya juga memilih bertempat-tinggal di tengah kota, lebih tepatnya sedekat mungkin dengan kantor.  Alasan mereka saat itu nyaris sama dengan alasan saya saat ini, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencapai rumah atau sebaliknya mencapai kantor sudah tidak tertahankan lagi.

Ketika mereka sibuk bercerita tentang rumah kost mereka dan membandingkan fasilitas rumah kost mereka dengan yang lainnya, saat itu saya masih setia menghabiskan waktu minimal 1.5 jam untuk berangkat dan 1.5 jam untuk pulang dari kantor. Waktu tempuh yang dalam kondisi abnormal – saat Jakarta ditinggalkan penghuninya atau saat dini hari sekitar pukul 01.00 pagi –  hanya menghabiskan waktu sekitar 15-30 menit.

Di antara sekian banyak kisah, cerita mereka tenttang CCTV di rumah kost yang mereka tempati bagi saya cukup menarik. Bukan apa-apa, bagi saya, apa yang harus diawasi di seputaran rumah kost, apalagi jika jelas-jelas mayoritas penghuninya adalah pekerja kantoran dan peraturan yang diterapkan cukup longgar, memasang CCTV adalah kegiatan yang mengada-ada.

CCTV layaknya dipasang di rumah pribadi atau di perkantoran, dimana si empunya rumah bisa memonitor situasi rumah mereka, mengawasi kinerja asisten rumah tangga, mengawasi bagaimana mereka menjaga si kecil. Atau di kantor, dimana CCTV berguna untuk mencegah kehilangan barang-barang karena kantor tersebut menerapkan ‘open-space’.

Tetapi di rumah kost ? Maka, saat itu kami pun terlibat diskusi yang cukup seru, membahas segala kemungkinan yang mungkin terjadi dari yang kony0l hingga yang cukup serius, dari soal ‘membawa tamu tak diundang’ hingga ‘pencurian yang dilakukan pembantu’.

Diskusi yang kemudian berakhir begitu saja, diskusi yang sebenarnya bagian dari obrolan ringan pengantar makan siang dan kemudian terlupakan.

Hingga suatu hari, ketika saya sendiri sudah menjadi bagian dari barisan peserta kost, ada pengumuman tentang pemasangan CCTV di rumah kost yang saya tempati. Saat itu saya baru saja pulang kantor, ketika tiba-tiba pengurus rumah tangga di lantai dua – tempat dimana saya menetap, menghampiri saya.

‘Bu, nanti sama Ibu yang punya rumah mau dipasang CCTV. Saya bilang ke Ibu yang punya rumah, lebih baik tanya dulu, bisa-bisa orang-orang pada gak mau kost disini lagi bu,’ kata si pengurus rumah tangga tiba-tiba

‘Oh ya, tidak masalah koq, silakan saja. Itu sih terserah Ibu yang punya rumah saja, setidaknya rumah ini jadi aman,’ timpal saya – walaupun dalam hati saya bertanya-tanya kenapa ide CCTV mendadak sontak timbul di benak pemilik rumah.

Saya pun kemudian berlalu meninggalkan si penghuni rumah dan sibuk dengan rutinitas pulang kantor – memasak makan malam.

Hingga di suatu sesi acara memasak, ketika satu per satu penghuni mulai berdatangan dan menyibukkan diri dengan kegiatan ‘dapur’, tiba-tiba bergulirlah cerita tentang asal-muasal CCTV.

‘Bu, tahu tidak kalau kaca mobil si B pecah ? tanya bapak A tetangga kamar saya

‘Oh iya, waktu itu ada yang bercerita ke saya, tetapi dia sendiri belum cerita sih.’jawab saya.

Menurut si Bapak A, sebenarnya kemungkinan  besar karena waktu itu kaca mobil depan si B pecah. B pun mengadukan hal itu ke pimpinan rumah kost – yang mengakomodasi segala kebutuhan dan keluhan para penghuni. Si B pun meminta ganti rugi. Masalahnya tidak ada yang tahu siapa yang memecahkan kaca depan mobil si B itu.

Saya pun mengutarakan keheranan saya, karena kaca depan mobil itu pastinya tidak semudah itu retak, apalagi peristiwa retaknya kaca mobil tersebut terjadi saat mobil sedang di parkir di halaman rumah.

Hingga keesokan harinya saya bertemu dengan si B, bercerita tentang hal yang sama termasuk urusan ganti-rugi. Menurut si B, si pemilik rumah enggan memberikan ganti rugi, padahal retaknya kaca depan mobilnya itu diakibatkan oleh si pengurus rumah tangga di lantai yang kami tempati, saat mencuci mobil si B.

‘Si Mas itu kan orangnya memang seenaknya saja, pasti saat dia mencuci mobil dan membersihkan kaca depan, main dibanting saja wipernya. Tapi ya sudahlah, dengan dipasangnya CCTV pastinya si pemilik rumah secara tidak langsung mengakui keteledoran pengurus rumah tangganya.’lanjut si B

Saya pun seperti biasa hanya mengiyakan – wong saya sendiri pun tidak tahu pasti alasan dipasangnya si CCTV.

Bisa jadi karena pecahnya kaca depan mobil si B atau bisa jadi karena ulah penghuni kost seperti yang digosipkan si pengurus rumah tangga ke saya beberapa waktu sesudahnya.

‘Nah, rasakan deh ulah si J dan si C, mereka tidak bisa berduaan seenaknya sampai malam. Tahu gak Bu, mereka itu bahkan sampai naik ke tempat jemuran malam-malam lho. Coba Bu, ngapain malam-malam di atas sana ?  Mana gelap lagi.’cerita Pak K, pengurus rumah tangga lantai 1

Muka saya entah harus ditaruh dimana, ternyata memang benar kata Bapak A, orang belakang – begitu istilah untuk para satpam dan pengurus rumah tangga – banyak gosipnya.

Believe It or Not – Takdir Menyatukan Kita

Dari sekian banyak kebetulan yang ada, tidak ada satupun yang dirancang oleh manusia. Disadari atau tidak, semuanya berada dalam garis rancangan Tuhan.

Boleh percaya atau tidak, tapi inilah yang terjadi saat saya memilih kamar kost tempat saya bertempat-tinggal hingga hari ini.

Bermula dari keinginan untuk melakukan ‘incognito’ suasana kost di siang hari, saya, si sulung dan sepupu saya mendadak memutuskan meninjau rumah kost pilihan hati sekalian menentukan kamar yang akan dihuni selama si bungsu bersekolah.

Seusai menjelaskan keinginan saya melihat kamar, si pengurus rumah tangga berbaik hati menunjukkan kamar-kamar kosong yang kebetulan berada di lantai dua.

Jadilah kami bertiga melakukan tour de kamar – bagi saya tour de kamar ini merupakan tour de kamar yang kedua kalinya, setelah sebelumnya saya melakukan peninjauan sesaat bersama si bungsu.

Saat itu penghuni kost belumlah sebanyak saat saya masuk, penghuninya masih bisa dihitung dengan jari, sehingga kami beritga dengan bebas berkeliaran melihat-lihat kamar yang akan menjadi pilihan.

Entah kenapa saat itu, si pengurus rumah tidak menunjukkan contoh kamar di lantai satu,  dia tetap dengan pilihannya, sibuk menunjukkan beberapa plihan kamar di lantai dua.

Setelah keluar-masuk beberapa kamar, dari kamar di ujung dekat tangga hingga kamar terakhir dekat dapur, pilihan saya akhirnya jatuh di kamar yang letaknya tidak jauh dari tangga.  Alasannya sederhana, supaya tidak terlalu lelah ketika pulang kantor – maklum naik tangga terakhir hanya dilakukan ketika SMA.

Tetapi, bukan saya namanya kalau tidak dilanda keraguan, apalagi suasana kamar di lantai satu dengan teras yang menyatu dengan rerumputan hijau dan tanaman lainnya begitu menggoda.

Jadilah saya terombang-ambing antara pilihan kamar di lantai bawah atau di lantai atas, antara teras yang menyatu dengan taman kecil versus balkon dengan pemandangan gedung-gedung bertingkat dan hijaunya pepohonan (maklum di sebelah Residence ini belum ada bangunannya, sehingga tidak ada penghalangnya – entah nanti).

Setelah menimbang kiri –  kanan, antara tingkat kelelahan versus kecepatan mencapai halaman, antara teras dengan halaman kecil versus balkon dengan pemandangan luas, ahirnya saya memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke pemilik rumah.

Isinya, saya ingin kamar yang dekat dengan router Wifi, alasannya sederhana agar kenikmatan menjelajah dunia maya tidak terganggu – dengan embel-embel urutan kamar kalau bisa berada di urutan tengah, terlepas di lantai satu atau lantai dua.

Terus terang ketika saya mengirimkan pesan tersebut, saya berharap si pemilik rumah menjawab bahwa kamar yang saya inginkan ada di lantai satu – walaupun saya tahu si bungsu berkeras memilih kamar di lantai dua karena jatuh cinta dengan pemandangan tak terbatas dari kamar.

Namun seperti kata pepatah, ‘Manusia berencana, Tuhan yang menentukan’, begitulah yang terjadi dengan pilihan kamar yang tersedia. Menurut si empunya pemilik rumah, kamar yang letaknya dekat dengan router Wifi ada di lantai dua dan kamar itu pun letaknya tidak jauh dari tangga, ada di urutan kedua setelah sampai di puncak anak tangga. Kamar yang ada di lantai satu masih ada, tapi letaknya agak jauh dari router Wifi di samping agak di ujung dekat dapur.

Apa boleh buat, Tuhan yang menentukan, dan si bungsu pun bersorak gembira, kamar yang diidamkannya sesuai dengan pilihannya, dekat dengan router Wifi dengan pemandangan tak terbatas.

Dan ternyata dibalik pilihan Tuhan tadi, ternyata ada hikmahnya tersendiri.

Percaya atau tidak, seperti sudah direncanakan, para penghuni lantai dua hampir semuanya hobby memasak, baik si Perancis – oh ya, penghuni lantai dua ini multi bangsa – si Spanyol maupun si Indonesia.

Dapurnya pun entah kenapa berbeda dengan dapur di lantai satu, dapur di lantai dua seolah-olah sudah dirancang sedemikian rupa agar bau masakan yang beraneka ragam bisa dengan mudah ditiup angin – dengan dua jendela serta pintu yang mengarah ke area terbuka, benar-benar sempurna.

Dapur di lantai dua pun menjadi ajang para penghuninya bercengkerama, saling bertukar-cerita, menyapa, atau berdiskusi tentang apa saja – dari yang ringan dan lucu hingga yang serius.

Kami pun – para penghuni lantai dua – sering membandingkan keberadaan kita semua dengan penghuni lantai satu dan tentu saja menyatakan keheranan yang tidak ada habisnya, ‘koq bisa ya, semua yang hobby memasak bisa disatukan di lantai dua ?’

Believe it or Not ….