Month: February 2015

Rak Sepatu ala Penghuni Rumah Kost Modern – Residence

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang Barisan Alas Kaki di rumah kost modern – residence, yang saya huni. Barisan alas kaki yang entah kenapa hanya bisa ditemui di lantai atas, sementara di lantai bawah, jangankan bentuknya, jejaknya saja pun tidak terlihat.

Saya mencoba untuk mencari alasan yang masuk akal, tapi hingga saya menulis postingan ini, tetap saja tidak berhasil menemukan alasan yang tepat.

Alasan pertama, penghuni lantai bawah kebanyakan orang asing, ternyata tidak juga, komposisi orang asing antara penghuni lantah bawah dan atas sama.  Alasan kedua, penghuni lantai bawah secara status sosial ekonomi lebih ‘tinggi’, juga tidak, wong sewa kamarnya saja sama, bahkan penghuni kamar di lantai atas, ada yang membawa 2 mobil.

Hingga akhirnya saya berkesimpulan,  jika melihat rumah-rumah orang Indonesia pada umumnya,  maka pasti berparadelah para barisan alas kaki  ini adalah semata budaya atau kebiasaan. Orang Indonesia pada umumnya terbiasa menanggalkan sepatunya saat berkunjung ke rumah lain. Saya tidak tahu apa yang mendasari kebiasaan itu, mengingat saya tidak pernah diajari untuk melakukan hal tersebut, tapi mungkin juga alasan utamanya karena keengganan untuk membawa tamu yang tak diundang – kotoran yang melekat di sepatu.

Saya pun akhirnya dengan terpaksa menerima kebiasaan barisan alas kaki yang terjadi di lantai atas dimana saya tinggal. Walaupun kadang rasa iri melanda melihat tingkat keindahan dan kerapian lantai bawah, tapi apa boleh buat, pilihan untuk bertempat-tinggal di lantai atas sudah saya tetapkan.

Apalagi mengingat betapa putus-asanya si empunya pemillik rumah kost modern – residence ini ketika melakukan inspeksi. Saya menyaksikan bagaimana ia bolak-balik menyuruh si pengurus rumah tangganya untuk menegur pemilik alas kaki tersebut agar memasukkan alas kaki mereka ke dalam kamar, tapi tetap saja tidak ada perubahan berarti. Bahkan mereka yang meletakkan alas kakinya di depan pintu semakin bertambah.

Sayangnya ketika saya bisa menerima kebiasaan berderetnya barisan alas kaki di depan pintu kamar, tiba-tiba di suatu hari yang melelahkan, saat saya tiba di lantai dua, mendadak mata saya menangkap benda plastik segi empat, terbagi atas dua tingkatan dan berwarna merah jambu, Benda plastik berwarna ajaib itu dengan manisnya terletak di depan pintu kamar tetangga kamar di seberang kamar saya dan berisikan deretan sepatu si empunya kamar.

Rasanya saat itu ingin berteriak dan menegur si pengurus rumah tangga yang tidak bisa berkutik menegur si empunya kamar. Kesal bercampur-aduk dengan amarah, karena apa yang saya takutkan akhirnya menjadi kenyataan.

Rumah kost aka residence yang saya banggakan sekelas dengan apartemen, mendadak seperti salah satu rumah kost yang kebetulan terletak di seberang rumah kost saya ini. Kumuh, gelap dan nyaris seperti tidak terurus. Padahal mobil-mobil yang parkir di halaman rumah itu bukanlah kelas Avanza.

Saya pun tak habis pikir mengapa tiba-tiba ia mengeluarkan rak sepatu plastik merah jambunya yang bertabrakan dengan warna dan gaya minimalis rumah kost residence. Mungkin karena kamarnya sendiri sudah penuh dengan barang-barang, atau mungkin supaya ia dengan mudah melepas dan mengganti sepatunya atau mungkin karena ia ingin memamerkan brand sepatunya yang lumayan mahal dari sepatu olah raga suaminya – adidas, nike, reebok – hingga sepatunya yang berbagai rupa dari flip-flop, guess, dan disainer ternama – entah saya lupa namanya.

Saya tidak iri dengan deretan sepatunya yang terdiri dari merk ternama – tidak ada merk lokal kecuali sandal jepit – wong selera sepatunya beda 180 derajat dengan saya. Yang membuat saya kesal, karena rak sepatu plastik dengan warna norak itu selalu menjadi pemandangan yang harus saya lihat setiap kali saya membuka dan menutup pintu kamar.

Saya tidak bisa membayangkan penghuni lainnya suatu saat terinspirasi olehnya dan memajang rak sepatu mereka di depan pintu kamar.

Bayangkan jika jalanan di depan kamar kami semua, di pinggirnya berderet rak-rak sepatu berbagai bentuk. Dan karena rak sepatu selalu dianggap bukanlah bagian dari ‘gengsi’, bisa saja rak plastik dengan berbagai warna menjadi pemandangan utama.

Untunglah penghuni lainnya tidak ada yang mengikuti jejak si pemilik kamar. Satu-satunya pemandangan rak sepatu hanya terjadi di depan kamarnya saja.

Mungkin begitulah watak orang Indonesia, ketika mereka mendadak berpunya dan merasa memiliki uang, yang penting saya nyaman, peduli setan dengan orang lain. Mirip dengan para pengendara motor di jalan, yang penting saya bisa lewat dan cepat, peduli setan dengan peraturan lalu lintas.