Closed Circuit Television

Dulu, ketika saya masih berkantor di seputaran Sudirman, beberapa rekan sekantor saya juga memilih bertempat-tinggal di tengah kota, lebih tepatnya sedekat mungkin dengan kantor.  Alasan mereka saat itu nyaris sama dengan alasan saya saat ini, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencapai rumah atau sebaliknya mencapai kantor sudah tidak tertahankan lagi.

Ketika mereka sibuk bercerita tentang rumah kost mereka dan membandingkan fasilitas rumah kost mereka dengan yang lainnya, saat itu saya masih setia menghabiskan waktu minimal 1.5 jam untuk berangkat dan 1.5 jam untuk pulang dari kantor. Waktu tempuh yang dalam kondisi abnormal – saat Jakarta ditinggalkan penghuninya atau saat dini hari sekitar pukul 01.00 pagi –  hanya menghabiskan waktu sekitar 15-30 menit.

Di antara sekian banyak kisah, cerita mereka tenttang CCTV di rumah kost yang mereka tempati bagi saya cukup menarik. Bukan apa-apa, bagi saya, apa yang harus diawasi di seputaran rumah kost, apalagi jika jelas-jelas mayoritas penghuninya adalah pekerja kantoran dan peraturan yang diterapkan cukup longgar, memasang CCTV adalah kegiatan yang mengada-ada.

CCTV layaknya dipasang di rumah pribadi atau di perkantoran, dimana si empunya rumah bisa memonitor situasi rumah mereka, mengawasi kinerja asisten rumah tangga, mengawasi bagaimana mereka menjaga si kecil. Atau di kantor, dimana CCTV berguna untuk mencegah kehilangan barang-barang karena kantor tersebut menerapkan ‘open-space’.

Tetapi di rumah kost ? Maka, saat itu kami pun terlibat diskusi yang cukup seru, membahas segala kemungkinan yang mungkin terjadi dari yang kony0l hingga yang cukup serius, dari soal ‘membawa tamu tak diundang’ hingga ‘pencurian yang dilakukan pembantu’.

Diskusi yang kemudian berakhir begitu saja, diskusi yang sebenarnya bagian dari obrolan ringan pengantar makan siang dan kemudian terlupakan.

Hingga suatu hari, ketika saya sendiri sudah menjadi bagian dari barisan peserta kost, ada pengumuman tentang pemasangan CCTV di rumah kost yang saya tempati. Saat itu saya baru saja pulang kantor, ketika tiba-tiba pengurus rumah tangga di lantai dua – tempat dimana saya menetap, menghampiri saya.

‘Bu, nanti sama Ibu yang punya rumah mau dipasang CCTV. Saya bilang ke Ibu yang punya rumah, lebih baik tanya dulu, bisa-bisa orang-orang pada gak mau kost disini lagi bu,’ kata si pengurus rumah tangga tiba-tiba

‘Oh ya, tidak masalah koq, silakan saja. Itu sih terserah Ibu yang punya rumah saja, setidaknya rumah ini jadi aman,’ timpal saya – walaupun dalam hati saya bertanya-tanya kenapa ide CCTV mendadak sontak timbul di benak pemilik rumah.

Saya pun kemudian berlalu meninggalkan si penghuni rumah dan sibuk dengan rutinitas pulang kantor – memasak makan malam.

Hingga di suatu sesi acara memasak, ketika satu per satu penghuni mulai berdatangan dan menyibukkan diri dengan kegiatan ‘dapur’, tiba-tiba bergulirlah cerita tentang asal-muasal CCTV.

‘Bu, tahu tidak kalau kaca mobil si B pecah ? tanya bapak A tetangga kamar saya

‘Oh iya, waktu itu ada yang bercerita ke saya, tetapi dia sendiri belum cerita sih.’jawab saya.

Menurut si Bapak A, sebenarnya kemungkinan  besar karena waktu itu kaca mobil depan si B pecah. B pun mengadukan hal itu ke pimpinan rumah kost – yang mengakomodasi segala kebutuhan dan keluhan para penghuni. Si B pun meminta ganti rugi. Masalahnya tidak ada yang tahu siapa yang memecahkan kaca depan mobil si B itu.

Saya pun mengutarakan keheranan saya, karena kaca depan mobil itu pastinya tidak semudah itu retak, apalagi peristiwa retaknya kaca mobil tersebut terjadi saat mobil sedang di parkir di halaman rumah.

Hingga keesokan harinya saya bertemu dengan si B, bercerita tentang hal yang sama termasuk urusan ganti-rugi. Menurut si B, si pemilik rumah enggan memberikan ganti rugi, padahal retaknya kaca depan mobilnya itu diakibatkan oleh si pengurus rumah tangga di lantai yang kami tempati, saat mencuci mobil si B.

‘Si Mas itu kan orangnya memang seenaknya saja, pasti saat dia mencuci mobil dan membersihkan kaca depan, main dibanting saja wipernya. Tapi ya sudahlah, dengan dipasangnya CCTV pastinya si pemilik rumah secara tidak langsung mengakui keteledoran pengurus rumah tangganya.’lanjut si B

Saya pun seperti biasa hanya mengiyakan – wong saya sendiri pun tidak tahu pasti alasan dipasangnya si CCTV.

Bisa jadi karena pecahnya kaca depan mobil si B atau bisa jadi karena ulah penghuni kost seperti yang digosipkan si pengurus rumah tangga ke saya beberapa waktu sesudahnya.

‘Nah, rasakan deh ulah si J dan si C, mereka tidak bisa berduaan seenaknya sampai malam. Tahu gak Bu, mereka itu bahkan sampai naik ke tempat jemuran malam-malam lho. Coba Bu, ngapain malam-malam di atas sana ?  Mana gelap lagi.’cerita Pak K, pengurus rumah tangga lantai 1

Muka saya entah harus ditaruh dimana, ternyata memang benar kata Bapak A, orang belakang – begitu istilah untuk para satpam dan pengurus rumah tangga – banyak gosipnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s