Month: March 2014

Tas Longchamp KW 1

Entah kapan tepatnya, tas dengan merek Longchamp mendadak menduduki peringkat tas yang menjadi panutan kaum perempuan, tapi yang saya tahu, tas tersebut mendadak mengindonesia sejak sekitar 2-3 tahun lalu. Mendadak mengindonesia maksud saya disini mendadak jadi bagian dari tas yang masuk dalam jajaran KW; yang akibatnya tentu saja tas-tas serupa dan sejenis mudah ditemui di semua kalangan.

Kebetulan, saya bukanlah pemburu tas per-kw-an, bagi saya lebih baik memakai tas yang tidak bermerek daripada memakai tas bermerek tapi KW.

Kembali ke tas Longchamp, suatu saat, sepupu saya yang baik hati, mendadak memberikan hadiah tas Longchamp, tidak tanggung-tanggung, dia menghadiahi saya 2 buah tas Longchamp yang mengindonesia dan 2 buah tas make up Longchamp.

Seperti biasa, karena unsur kepraktisan dan unsur banyaknya muatan, maka tas Longchamp itu akhirnya menjadi tas kantor favorit saya, kecuali jika saya harus berangkat menemui calon klien, otomatis tas Longchamp itu terpaksa harus saya parkir sejenak. Bukan karena tas tersebut sudah mengindonesia, tetapi karena tas tersebut lebih terkesan ‘non-formal’ dibandingkan tas-tas saya lainnya.

Mungkin karena terlatih untuk menjadi ‘Close Personal Circuit Television’ maka para satpam di rumah kost residence saya, mendadak menjadi pengamat mode para penghuninya – dari mulai sandal, sepatu, hingga tas yang dipergunakan penghuninya.

Bagaimana tidak menjadi pengamat mode, wong tiap hari – minimal dua kali dalam sehari – mereka berinteraksi dengan para penghuninya dalam hal pengaturan perparkiran mobil-mobil penghuni. Otomatis, mata mereka harus awas dan waspada.

Saya sendiri tidak menyadari hal itu, hingga di suatu hari, sepulangnya saya dari kantor, setelah memarkir mobil saya sesuai dengan petunjuk Pak Satpam yang bertugas, dan mengambil peralatan perang kantor, tiba-tiba Pak Satpam A sambil malu-malu menegur saya.

‘Bu, maaf mengganggu. Begini Bu, boleh saya tahu Ibu beli tas ini dimana Bu ?,’katanya

Saya yang sedang sibuk dengan peralatan perang kantor, langsung terdiam dan mendadak bingung memilih jawabannya. Pertama, takut dibilang sombong kalau tas yang saya punya ini tas asli dan bukan per-kw-an. Kedua, ini kan tas pengasihan bukan tas yang saya beli sendiri. Ketiga, saya pun tidak up-to-date dengan harga-harga tas yang dari awal tidak pernah masuk dalam ‘must-have-list-bag’ saya.

Tetapi melihat tatapan matanya yang mengharapkan jawaban, saya pun tidak tega untuk tidak memberikan jawaban yang jujur kepada beliau. Apalagi para petugas Satpam itu tidak pernah berlaku tidak sopan.

‘Wah, maaf Pak, saya tidak tahu, kebetulan tas ini hadiah dari sepupu saya,’jawab saya

‘Maaf Ibu, bukannya saya lancang, soalnya istri saya minta dibeliin tas seperti yang punya Ibu. Katanya ibu-ibu temennya istri saya pada punya tas seperti itu, jadinya dia minta saya beliin. Saya kepingin tahu harganya berapa, gak usah yang asli Bu, yang KW aja, KW 1 juga boleh Bu,’balasnya

Saya membatin, membayangkan reaksinya jika tahu harga tas Longchamp ini, tas yang ketampakannya murah namun mampu mengindonesia ini.

Tidak tega membayangkan rengekan istrinya, saya pun kemudian berjanji untuk mengecek harga tas Longchamp KW1 atau KW2.

‘Coba nanti saya tanya ya Pak, kebetulan di kantor saya saat ini ada bazar, tadi kebetulan saya lihat tas dengan model seperti ini dipajang,’ujar saya

Pak Satpam pun dengan mata berbinar-binar menyampaikan terima kasihnya dan mempersilakan saya melanjutkan kehebohan saya masuk ke dalam rumah.

Ternyata memang benar kata teman saya, para penjaga keamanan rumah kost residence saya lebih tepat disebut sebagai ‘Close Personal Circuit Television’ – tingkat pengamatan mereka mampu mengalahkan petugas Densus 88.

Advertisements

Balkon dan Tanaman – Sudut Favorit

Jika saya harus memilih sudut yang paling saya sukai di rumah kost residence tempat saya tinggal saat ini, tanpa berpikir-panjang lagi saya akan memilih balkon kamar saya.

Alasannya sederhana, karena akhirnya setelah 6 bulan menimbang-nimbang, bolak-balik mampir ke Ace Hardware, mencoba setiap macam kursi, akhirnya saya berhasil memiliki kursi yang bisa saya letakkan di balkon kamar saya.

Kursi yang berfungsi sebagai kursi goyang tempat saya menuliskan cerita saya tentang rumah kost, atau tempat saya melepaskan penat sambil memandangi lampu-lampu apartemen di kejauhan atau hanya sekedar memejamkan mata ditemani semilir angin malam, dan tanaman rambat yang khusus saya beli agar balkon saya setara dengan para penghuni lantai bawah yang memiliki teras dan halaman kecil di depan kamarnya.

Sepengetahuan saya, di deretan balkon sisi timur lantai dua ini, hanya saya sendiri yang memiliki tanaman dan pot tanaman, sementara penghuni lainnya – berdasarkan hasil pengamatan saya ketika menjemur pakaian – tidak menganggap balkon mereka sebagai tempat istimewa, tempat yang bisa dinikmati untuk melepas lelah.

Saya tidak tahu para penghuni di sisi barat, namun yang saya tahu pasti, salah satu teman saya yang berada di sisi Barat, juga memiliki kebiasaan yang sama dengan saya. Bedanya, teman saya itu, nona A, menaruh sepasang meja dan kursi serta membeli beberapa bunga, untuk menemaninya menikmati sore ataupun matahari pagi.

Ide untuk menaruh kursi dan tanaman sebenarnya sudah lama terbersit di benak saya, namun karena satu dan lain hal, akhirnya ide tersebut saya simpan di sudut paling dalam. Sampai akhirnya, di salah satu perbincangan saya dan nona A saat kami kebetulan sedang berada di jam yang sama di sesi memasak, kami saling melontarkan ide untuk mempercantik balkon.

Berbeda dengan saya, nona A langsung mengutarakan niatnya ke si Pemilik Rumah, dan segera membeli tanaman berbunga untuk mewujudkan idenya.

Sementara saya, setelah berpikir bolak-balik, memutuskan untuk membeli tanaman terlebih dulu, sedangkan pembelian kursi harus saya putuskan matang-matang, bukan apa-apa, kursi itu menentukan apakah balkon itu akhirnya menjadi tempat senikmat yang dibayangkan saat ide awal itu muncul.

Kriteria kursi itu setidaknya harus empuk, tidak panas, dan bahannya pun harus yang tahan-banting terhadap cuaca baik saat diterpa matahari ataupun diterpa air hujan. Maksimal kursi itu harus memiliki 2 seater – pilihan yang kemudian menjadi single seater karena si kecil memutuskan tidak mau mengikuti jejak saya, kecuali kursi yang saya pilih kursi yang berfungsi ganda sebagai ayunan. Dan seperti biasa, dari semua kriteria itu, yang terutama adalah harga, saya tidak ingin membeli kursi yang harganya selangit, rasanya kurang pas saja.

Sehingga tentu saja saya tidak bisa secepat Nona A dalam memilih perabotan balkon, semua harus memiliki pertimbangan matang.

Di hari saya memutuskan membeli kursi balkon ini, saya berkunjung ke Ace Hardware dengan dua lokasi yang berbeda, mencoba kursi yang sama di dua lokasi tersebut, sebelum akhirnya kursi tersebut saya persunting.

Rasanya dunia menjadi milik saya ketika kursi tersebut menjadi penghuni balkon kamar. Saya pun mendadak diserang penyakit aneh, mendadak ingin pulang tepat waktu – bahkan kalau bisa pulang lebih awal – hanya untuk sekedar merasakan nikmatnya duduk di kursi goyang di balkon kamar.

Entah kenapa, sejak memiliki kursi ini, saya seperti mendadak mendapat energi baru untuk menulis dan membaca buku, walaupun tidak semuanya sukses saya jalankan, karena pernah di suatu malam, saya tertidur di kursi dengan laptop yang masih terbuka dan di suatu malam lainnya, saya sempat berkelana di alam mimpi dengan buku terbuka di pangkuan.

Saya pun jadi memiliki kebiasaan baru, mengamati kondisi teras tetangga bawah saat menjemur pakaian, hanya untuk sekedar mengamati apakah ada ide tambahan yang bisa saya ikuti dari penghuni lantai bawah.

Dan saya pun memiliki rencana tambahan, membeli lemari kecil yang bisa saya letakkan di balkon untuk menampung beberapa barang dan juga menaruh pot tanaman berbunga yang akan saya beli nantinya. Tetapi yang pasti, lemari kecil dan tanaman berbunga masih sebatas angan-angan. Perlu saya endapkan terlebih dulu.

Saya jadi teringat apartemen CEO saya di perusahaan terdahulu. Ketika itu kami semua diundang ke apartemennya untuk merayakan hari natal. Di balkon apartemennya, istri sang CEO meletakkan sepasang kursi dan meja, serta membuat taman kecil di sudut balkonnya itu. Saat itu saya mencoba merasakan nikmatnya balkon beliau, sambil membayangkan nikmatnya memandang Jakarta dengan kerlap-kerlip lampunya.

Saya pun membatin, suatu saat kalau saya mendapatkan kesempatan memiliki apartemen dengan balkon seperti beliau, balkon itu akan saya dandani seperti bakon beliau.

Ternyata, tanpa saya sangka, kesempatan itu ada, dan saya pun memiliki balkon idaman yang mirip dengan balkon apartemen beliau.

Jadi, sudut mana yang paling saya rindukan dari kamar kost residence saya ? Balkon kamar sayalah yang paling saya rindukan, tempat dimana saya menghabiskan ‘me time’ saya.

Close Personal Circuit Television

Beberapa waktu lalu, saat saya  sedang menikmati makan malam perpisahan dengan salah satu teman dekat sahabat saya, berceritalah suami sahabat saya tadi tentang pengalamannya mengantarkan kue ke tempat kost saya.

‘Wah, hebat sekali Pak Satpam di tempat kost dia, up to date. Waktu gue anterin kue ke rumah kostnya, Pak Satpamnya langsung kasih laporan pandangan mata. Katanya, maaf Pak, Ibu belum pulang, tetapi anaknya sudah pulang, baru saja. Kuenya dititip di saya saja Pak.’

Kemudian berceritalah saya, kalau barisan Pak Satpam di tempat kost residence saya, benar-benar berdedikasi dan tahu kegiatan penghuninya. Dari siapa yang berangkat paling pagi, siapa yang paling parah menyetir – khusus kemampuan menyetir berdasarkan  pengamatan menyetir berdasarkan cara parkir – sampai siapa yang diduga berpacaran dengan siapa.

Saya sendiri pun terheran-heran dengan kepiawaian mereka dalam melakukan pengamatan, di satu sisi kadang-kadang saya merasa pengamatan mereka terlalu detil – rasanya nyaris tidak ada cerita yang bisa dirahasiakan dari mereka – namun di sisi lainnya, saya merasa berterimakasih karena mereka selalu melaporkan jam pulang sekolah si kecil jika tidak seperti biasanya dan kendaraan yang ditumpanginya.

Laporan mereka pun tidak pernah meleset tingkat keakuratannya, dan selalu disampaikan begitu saya selesai memarkirkan mobil.

‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya agak sore. Biasanya jam 3 sudah sampai rumah, ini jam 5,’lapor si Bapak Satpam 1 atau ‘Bu, tadi putri Ibu pulangnya naik ojek, biasanya pulangnya naik taxi,’lapor si Bapak Satpam 2

Dan saya pun mengkonfirmasikannya dengan menyampaikan sebab-musabab si kecil pulang terlambat, atau hanya tersenyum-simpul ketika tahu si kecil pulang naik ojek – maklum ojek adalah kendaraan terlarang walaupun masuk dalam kategori praktis dan cepat.

Suatu ketika, saya terpaksa harus terbaring sakit karena diare hebat dan tidak bisa menelan makanan apa pun selain bubur. Terpaksalah saya meminta tolong si pengurus rumah tangga untuk mencarikan restoran yang menjual bubur ayam atau bubur Cina. Saya mewanti-wanti pengurus rumah tangga untuk tidak membelikan bubur yang dijual di pinggir jalan.

Tidak lama kemudian, sepupu saya yang tinggal tidak jauh dari tempat saya kost tiba di tempat kost mengantarkan bubur. Kalimat pertama yang disampaikannya, ‘Wah, Pak Satpam tahu ya kalau lo diare. Soalnya pas gue datang bawa makanan. Pak Satpamnya tanya, itu bubur ayam ya Bu ? Terus kata Pak Satpamnya lagi, Wah syukurlah Ibu bawa bubur, soalnya kita semua lagi bingung mau beli bubur ayam restoran disini dimana ya.’

Bukan itu saja, lanjut sepupu saya, ‘Pak Satpamnya tanya, Ibu beli dimana bubur ayamnya. Setelah gue bilang, gue bikin sendiri, Pak Satpamnya bilang wah kalau begitu memang gak ada ya Bu, restoran yang jual bubur ;ayam.’

Saya yang mendegar cerita sepupu saya hanya tersenyum simpul, sambil membayangkan kegaduhan yang timbul gara-gara permintaan saya minta dibelikan bubur.

Dan tertawa ketika karib saya berkomentar lagi, ‘Gue tahu sih kalo rumah kost residence lo punya CCTV, tapi gue rasa pemiliknya sebaiknya gak pasang CCTV deh. Barisan Pak Satpam lo itu sudah lebih keren dari CCTV, kalau mereka namanya ‘Close Personal Circuit Television’ alias Kepo,’

 

Barisan Alas Kaki

Di rumah kost yang saya huni, ada beberapa peraturan wajib yang harus diikuti para penghuninya, salah satunya tentang meletakkan alas kaki di depan pintu kamar. Alasannya sederhana, agar rumah kost terlihat bersih dan apik, disamping tentu saja mencegah agar penghuni lainnya tidak tersandung alas kaki alias sepatu atau sandal yang diletakkan sembarangan.

Bagi saya, peraturan itu kebetulan sejalan dengan kebiasaan saya yang tidak meletakkan sepatu atau pun sandal di depan pintu rumah saya. Rasanya risih dan menimbulkan kesan berantakan jika barisan sepatu atau sandal digeletakkan begitu saja di depan pintu rumah. Walaupun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sah-sah saja melepas sepatu atau sandal sebelum masuk ke dalam rumah.

Bagi saya,  alih-alih meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu, lebih baik meletakkan kesetan agar debu ataupun bekas tanah bisa dibersihkan di kesetan tersebut, sehingga tidak mengotori lantai di dalam rumah.

Jadi, ketika peraturan tentang alas kaki tersebut disampaikan ke saya pertama kali, dengan senang hati saya menyambutnya.

‘Bukan masalah besar, lagipula siapa yang mau memajang sepatu depan pintu kamar, Lagipula jika tidak ada sepatu atau sandal berserakan, lorong kamar akan terlihat lapang dan resik,’batin saya

Tetapi rupanya saya salah duga, para penghuni kost di lantai yang saya tempati ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda.

Bermula dari si J, lulusan universitas luar negeri. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan pertama kali ke rumah kost residence ini. Saat itu, si Ibu pemilik rumah mengajak saya melihat kamar yang terletak di lantai atas alias lantai dua. Ketika melewati kamar si J, sambil menerangkan si penyewa kamar tersebut, dia memanggil si pengurus rumah tangga, katanya ‘Coba bereskan sepatu-sepatu ini, berantakan sekali. Besok kalau dia sudah kembali dari rumahnya, sampaikan sepatu-sepatu harus diletakkan di dalam kamar.’

Dari J berlanjut ke Bapak B. Kebiasaan Bapak B lain lagi. Bapak B menempatkan alas kakinya dengan sangat rapi dan sesuai urutan keluarganya. Bapak-Ibu dan anak serta pembatu. Bedanya Bapak B menaruh sandal, hanya sesekali berganti dengan sepatu dan itupun bisa dihitung dengan jari. Namun, apapun yang diletakkannya selalu sesuai urutan keluarga. Lucunya, sandalnya pun warnanya senada, hitam. Satu-satunya sandal yang warnanya bukan hitam, milik si asisten rumah tangga harian keluarga itu dan satu-satunya sandal yang memiliki tambahan warna milik si kecil.

Dari Bapak B, beralih ke Mbak X. Sampa seperti Bapak B, bedanya di depan pintu kamar Mbak X hanya terletak satu sandal dan sandal itu pun sandal rumah, karena sandal itu tidak pernah terlihat berjalan-jalan hingga keluar. Sesekali, ada sepatu yang tergeletak disamping si sandal tadi. Bedanya sepatu tidak pernah menetap, berbeda dengan si Sandal yang menetap 24 jam, dari pagi ke pagi.

Seperti halnya para pengendara motor yang kerap melanggar aturan, begitu pula dengan urusan peletakan alas kaki di rumah kost ini. Bermula dari kebiasaan satu orang, kemudian kebiasaan itu menimbulkan ide bagi orang lain yang kebetulan memiliki nilai dan pemikiran yang sama. Kebiasaan nona J, berlanjut ke Bapak B dan Mbak X, menimbulkan ide ke penghuni lain yang kebetulan berkebangsaan Eropa.

Entah kenapa, si C, yang memiliki wajah seperti Justin Bieber kalau habis menggunting rambunya, dan berkewarganegaraan tempat si matador bertanding, mendadak sontak memiliki kebiasaan baru, melepas alas kakinya di depan pintu kamarnya. Diawali dengan sepasang sepatu, kemudian berlanjut dengan sepatu olah raganya yang dekil – mungkin karena habis bermain futsal – dan diakhiri dengan sepasang sandal.  Saya benar-benar terheran-heran ketika mendapati fenomena itu. Jika orang Jepang saya masih bisa paham, atau orang Singapura saya pun lebih paham, tapi ini orang Eropa – rasanya sepengetahuan saya mereka tidak memiliki kebiasaan seperti itu. Tapi mungkin inilah yang disebut orang dengan dirasuki roh kebudayaan Indonesia. Mungkin si C  sebenarnya di masa lalu pernah jadi orang Indonesia, walaupun saat dilahirkan kembali dia menjadi orang Eropa. Sehingga ketika dia tinggal di Indonesia, jiwa masa lalunya mengirimkan sinyal ke sinap-sinap di otaknya, dan jadilah kebiasaan baru meletakkan alas kaki di depan pintu kamar.

Tetapi dibandingkan para penghuni kamar lantai atas yang memiliki kebiasaan sama, tidak ada yang sekonyol dan seatraktif  ulah sepasang suami-istri, sebut saja Bapak A dan istrinya. Tampaknya pasangan tersebut memiliki kegemaran untuk memamerkan merk sepatu dan sandalnya di depan pintu kamarnya. Tinggal pilih, mau merk sepatu apa saja juga tersedia, dari yang berlabel Channel, Nike, Adidas, Dior, hingga merk lokal, sandal bali. Dan bukan itu saja, istrinya pun kerap melepaskan alas kakinya secara serampangan, seperti orang yang terburu-buru harus membuang hajat.

Suatu hari, saya pun terkena dampaknya si istri tadi. Saat itu sehabis memasak di dapur, saya bertemu dengan si Mbak X dan suaminya yang kebetulan hendak bepergian. Seperti biasa, sapaan diawali dengan cerita ringan sambil berjalan menuju kamar. Mungkin karena saya tidak berkoensentrasi melihat ranjau sandal atau juga karena saya berjalan terlalu ke kiri, tersandunglah saya dengan sandal si istri Bapak A. Untung saya masih sempat menjaga keseimbangan, kalau tidak bisa dibayangkan adegan piring melayang dan orang jatuh terjerembab dengan halo burung-burung di atas kepala. Tapi yang tidak bisa dijaga ya rasa malu itu ketika mendengar suami Mbak X berseru, ‘hati-hati mbak’.  Sejak saat itu dendam kesumat pun terhadap sandal si istri Bapak A timbul.

Suatu pagi ketika saya hendak melakukan rutinitas pagi, membuat sarapan dan bekal makan siang saya dan si bungsu, sepatu si istri Bapak A tergeletak melintang di tengah jalan. Tanpa pikir panjang lagi, sepatu tersebut saya singkirkan dengan tendangan ringan hingga berakhir di dinding dekat pintu kamarnya. Rasanya saat itu lega sekali bisa membalas dendam kesumat saya. Dan sejak hari itu, setiap kali saya melihat sepatu atau sandal diletakkan secara sembarangan dan bisa menimbulkan kecelakaan ringan penghuni lainnya, saya pun dengan sukacita menggesernya dengan tendangan ringan.

Saya pun tidak habis pikir kenapa peraturan tersebut bisa dibiarkan begitu saja, sementara saya yang memasang kesetan kecil di depan pintu kamar malah dilarang, dengan alasan mengurangi keindahan, takut penghuni lainnya ikut-ikutan memasang kesetan dengan ukuran yang berbeda dan warna yang ajaib.

Jadi, ketika si pengurus rumah tangga lantai dua, mengeluh, ‘Aduh Bu, saya kena marah lagi sama si Ibu pemilik rumah. Katanya sepatu dan sandal itu lain kali dimasukkan saja ke dalam kamar mereka. Beritahu mereka, tidak boleh menaruh sepatu dan sandal di depan pintu,’ceritanya

Saya pun menimpali, ya sampaikan saja ke para peserta alas kaki, jawabnya, ‘Saya sudah bilang berkali-kali, tapi entah kenapa penghuni di lantai ini bandel-bandel, tidak seperti di lantai bawah, kalau diberitahu nurut.’

Saya pun tersenyum dan membatin, ‘terang saja penghuni di bawah penurut, wong kebanyakan bukan orang Indonesia penghuninya. Walaupun sebagian besar penyewanya orang Jepang, tetapi mereka mengerti bahwa rumah kost harus diikuti demi kebaikan bersama. Bedanya dengan penghuni lantai atas, kebiasaan orang Indonesia menular ke non Indonesia. Entah kenapa orang asing yang menjadi penghuni lantai atas, mendadak u menjadi orang Indonesia.’

Lalu saya pun berkomentar,’Bilang saja ke Ibu pemilik rumah untuk menulis surat kepada para penghuni kamar, kalau tidak boleh meletakkan sepatu atau sandal di depan pintu kamar.’

Ketika saya menuliskan cerita ini, saya pun jadi berpikir, kenapa kebiasaan ini bisa hilang saat kita tinggal di hotel? Padahal kebiasaan membersihkan kamar di hotel juga berlaku di rumah kost residence ini. Pengurus rumah tangganya dengan setia membersihkan dan mengepel kamar sesuai dengan permintaan si penghuni, mau tiap hari atau dua hari sekali atau seminggu sekali.

Jika tidak ingin kamarnya kotor karena kamarnya hanya ingin dibersihkan tiga hari sekali, ya sebelum masuk ke dalam rumah, apa sih susahnya menggunakan kesetan untuk membersihkan alas kaki yang habis bertandang ke mal, lapangan olah raga, supermarket ataupun jalan raya ? Solusi yang menguntungkan bagi kedua-belah pihak bukan, si penghuni dan si pengurus rumah tangga.

Sehingga langkah penyelamatan diri a la pengurus rumah tangga seperti ini tidak perlu diambil, Demi menyelamatkan dirinya dari teguran si Ibu pemilik rumah. si pengurus rumah tangga ini pun menemukan cara ampuh. Di hari inspeksi si pemilik rumah, maka si pengurus rumah tangga memasukkan semua sepatu dan sandal penghuninya ke dalam kamar.

Jika penjual kaki lima kucing-kucingan dengan petugas tramtib, maka setiap hari Kamis menjadi hari kucing-kucingan si pengurus rumah tangga dengan pemilik rumah kost.

Closed Circuit Television

Dulu, ketika saya masih berkantor di seputaran Sudirman, beberapa rekan sekantor saya juga memilih bertempat-tinggal di tengah kota, lebih tepatnya sedekat mungkin dengan kantor.  Alasan mereka saat itu nyaris sama dengan alasan saya saat ini, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencapai rumah atau sebaliknya mencapai kantor sudah tidak tertahankan lagi.

Ketika mereka sibuk bercerita tentang rumah kost mereka dan membandingkan fasilitas rumah kost mereka dengan yang lainnya, saat itu saya masih setia menghabiskan waktu minimal 1.5 jam untuk berangkat dan 1.5 jam untuk pulang dari kantor. Waktu tempuh yang dalam kondisi abnormal – saat Jakarta ditinggalkan penghuninya atau saat dini hari sekitar pukul 01.00 pagi –  hanya menghabiskan waktu sekitar 15-30 menit.

Di antara sekian banyak kisah, cerita mereka tenttang CCTV di rumah kost yang mereka tempati bagi saya cukup menarik. Bukan apa-apa, bagi saya, apa yang harus diawasi di seputaran rumah kost, apalagi jika jelas-jelas mayoritas penghuninya adalah pekerja kantoran dan peraturan yang diterapkan cukup longgar, memasang CCTV adalah kegiatan yang mengada-ada.

CCTV layaknya dipasang di rumah pribadi atau di perkantoran, dimana si empunya rumah bisa memonitor situasi rumah mereka, mengawasi kinerja asisten rumah tangga, mengawasi bagaimana mereka menjaga si kecil. Atau di kantor, dimana CCTV berguna untuk mencegah kehilangan barang-barang karena kantor tersebut menerapkan ‘open-space’.

Tetapi di rumah kost ? Maka, saat itu kami pun terlibat diskusi yang cukup seru, membahas segala kemungkinan yang mungkin terjadi dari yang kony0l hingga yang cukup serius, dari soal ‘membawa tamu tak diundang’ hingga ‘pencurian yang dilakukan pembantu’.

Diskusi yang kemudian berakhir begitu saja, diskusi yang sebenarnya bagian dari obrolan ringan pengantar makan siang dan kemudian terlupakan.

Hingga suatu hari, ketika saya sendiri sudah menjadi bagian dari barisan peserta kost, ada pengumuman tentang pemasangan CCTV di rumah kost yang saya tempati. Saat itu saya baru saja pulang kantor, ketika tiba-tiba pengurus rumah tangga di lantai dua – tempat dimana saya menetap, menghampiri saya.

‘Bu, nanti sama Ibu yang punya rumah mau dipasang CCTV. Saya bilang ke Ibu yang punya rumah, lebih baik tanya dulu, bisa-bisa orang-orang pada gak mau kost disini lagi bu,’ kata si pengurus rumah tangga tiba-tiba

‘Oh ya, tidak masalah koq, silakan saja. Itu sih terserah Ibu yang punya rumah saja, setidaknya rumah ini jadi aman,’ timpal saya – walaupun dalam hati saya bertanya-tanya kenapa ide CCTV mendadak sontak timbul di benak pemilik rumah.

Saya pun kemudian berlalu meninggalkan si penghuni rumah dan sibuk dengan rutinitas pulang kantor – memasak makan malam.

Hingga di suatu sesi acara memasak, ketika satu per satu penghuni mulai berdatangan dan menyibukkan diri dengan kegiatan ‘dapur’, tiba-tiba bergulirlah cerita tentang asal-muasal CCTV.

‘Bu, tahu tidak kalau kaca mobil si B pecah ? tanya bapak A tetangga kamar saya

‘Oh iya, waktu itu ada yang bercerita ke saya, tetapi dia sendiri belum cerita sih.’jawab saya.

Menurut si Bapak A, sebenarnya kemungkinan  besar karena waktu itu kaca mobil depan si B pecah. B pun mengadukan hal itu ke pimpinan rumah kost – yang mengakomodasi segala kebutuhan dan keluhan para penghuni. Si B pun meminta ganti rugi. Masalahnya tidak ada yang tahu siapa yang memecahkan kaca depan mobil si B itu.

Saya pun mengutarakan keheranan saya, karena kaca depan mobil itu pastinya tidak semudah itu retak, apalagi peristiwa retaknya kaca mobil tersebut terjadi saat mobil sedang di parkir di halaman rumah.

Hingga keesokan harinya saya bertemu dengan si B, bercerita tentang hal yang sama termasuk urusan ganti-rugi. Menurut si B, si pemilik rumah enggan memberikan ganti rugi, padahal retaknya kaca depan mobilnya itu diakibatkan oleh si pengurus rumah tangga di lantai yang kami tempati, saat mencuci mobil si B.

‘Si Mas itu kan orangnya memang seenaknya saja, pasti saat dia mencuci mobil dan membersihkan kaca depan, main dibanting saja wipernya. Tapi ya sudahlah, dengan dipasangnya CCTV pastinya si pemilik rumah secara tidak langsung mengakui keteledoran pengurus rumah tangganya.’lanjut si B

Saya pun seperti biasa hanya mengiyakan – wong saya sendiri pun tidak tahu pasti alasan dipasangnya si CCTV.

Bisa jadi karena pecahnya kaca depan mobil si B atau bisa jadi karena ulah penghuni kost seperti yang digosipkan si pengurus rumah tangga ke saya beberapa waktu sesudahnya.

‘Nah, rasakan deh ulah si J dan si C, mereka tidak bisa berduaan seenaknya sampai malam. Tahu gak Bu, mereka itu bahkan sampai naik ke tempat jemuran malam-malam lho. Coba Bu, ngapain malam-malam di atas sana ?  Mana gelap lagi.’cerita Pak K, pengurus rumah tangga lantai 1

Muka saya entah harus ditaruh dimana, ternyata memang benar kata Bapak A, orang belakang – begitu istilah untuk para satpam dan pengurus rumah tangga – banyak gosipnya.