Perburuan Mencari Rumah Kost

Ternyata memilih tempat kost itu mirip seperti memilih pasangan hidup, setidaknya begitulah menurut saya.

Bayangkan, sebelum memilih tempat kost,  setidaknya saya harus menentukan kriteria  tempat kost yang akan saya tinggali nantinya, apalagi tempat kost ini akan saya tinggali dalam waktu cukup lama. Setelah kriteria itu terpenuhi – atau setidaknya 90% terpenuhi – maka dimulailah pendekatan awal dengan si induk semang.

Pendekatan awal yang dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya sebelum akhirnya menandatangani selembar surat kontrak, tetap saja memerlukan unsur cek dan ricek, demi menghindari kekecewaan di kemudian hari.

Proses yang tidak pernah saya bayangkan ketika saya memutuskan untuk menyewa kamar aka kost sebagai pilihan akhir bertempat-tinggal di tengah kota.

Sebelum saya akhirnya menentukan pilihan saya di tempat yang sekarang ini, seperti biasa, saya berkunjung ke paman google, memasukkan kata kunci, dan ‘voila’ keluarlah berbagai macam iklan rumah kost.

Rasanya seperti berada di negara antah berantah saat saya membaca iklan-iklan rumah kost itu, nyaris tidak ada yang bisa saya pahami bahasanya. Kata-kata yang saya pahami hanyalah kamar, tempat tidur, fasilitas, wifi gratis, dapur, hanya itu, selebihnya saya harus meraba-raba makna dibalik kalimat iklan tersebut.

Untungnya paman Google berbaik hati meminjamkan foto-foto dari si pemasang iklan itu, sehingga saya akhirnya menemukan jawabannya.  Penggambaran yang tertulis versus foto adalah dua hal yang harus dicermati ketika pilihan sudah ditetapkan berdasarkan kriteria awal, itulah pengalaman awal saya dalam berburu rumah kost.

Sesudah lokasi, jarak tempuh antara rumah kost dan sekolah si kecil, serta kondisi bebas banjir terpenuhi, barulah saya menetapkan kriteria-kriteria tambahannya.

Sebagai orang yang sangat mencintai kehijauan maka kriteria pertama saya adalah kamar kost saya setidaknya harus memberikan ruang gerak dan beranda tempat saya bisa duduk-duduk menikmati sisa hari yang tersisa, alangkah lebih baik jika mata saya masih bisa menangkap hijaunya rumput dan pepohonan.

Kriteria kedua, karena saya bersama si kecil, tentu saja harus ada jam berkunjung yang jelas, pengiklan yang jelas-jelas menyatakan jam kunjungan bebas, otomatis tereliminasi oleh saya. Bukan apa-apa, saya tidak bisa membayangkan kegaduhan rumah kost tersebut, bisa-bisa si kecil tidak bisa belajar dengan tenang atau saya yang setiap saat terbangun akibat sensitifitas telinga.

Kriteria ketiga, fasilitas yang tersedia di dalam kamar, bagian ini adalah bagian yang tersulit, karena mencakup kamar mandi, tempat tidur, lemari, meja dan tentu saja disain interior kamar. Untuk yang satu ini, saya benar-benar menggantungkan kepercayaan saya kepada Paman Google, karena hanya lewat dialah saya bisa melihat-lihat dan membayangkan bentuk kamar yang akan saya tempati dalam jangka waktu cukup lama.

Kriteria keempat, area parkir, karena saya membawa mobil dan agak sedikit menderita penyakit kebersihan maka tempat parkir dan kesempatan mencuci mobil masuk dalam perhitungan saya. Begitu pula dapur,  kost tidak berarti saya harus membeli makanan siap saji setiap saat, apalagi saya dan si kecil terbiasa membawa bekal ke kantor. Jadi fasilitas dapur yang disediakan si pemilik menjadi catatan tambahan untuk saya.  Di samping tentu saja, fasilitas mencuci baju, saya tidak bisa membayangkan setiap saat harus membawa baju saya ke tempat laundry kiloan atau mengumpulkan baju selama seminggu untuk dicuci di rumah.

Kriteria kelima, yang ini memang agak nyeleneh, siapa tahu saya diperbolehkan membawa kedua anjing tercinta saya. Kriteria yang benar-benar nyeleneh, karena apartemen yang ‘pet friendly’ saja hanya satu di Jakarta, apalagi rumah kost, boro-boro bisa ‘pet friendly’. Makanya saya selalu berharap bisa bertemu dengan iklan yang berbunyi ‘Dikontrakan paviliun 1 kamar, 1 dapur, garasi dan halaman tersendiri.’

Hampir selama tiga bulan – disela-sela mengerjakan pekerjaan rutin di kantor – saya bolak-balik berkunjung ke Paman Google, membandingkan pesan tersirat versus pesan tersurat para pengiklan itu.

Saya pun tidak berharap semua kriteria saya terpenuhi, namun setidaknya 3 dari 5 kriteria bisa terpenuhi saja, bagi saya itu sudah sangat menyenangkan.

Bulan pertama, rasanya tidak ada satupun iklan yang sesuai dengan pilihan saya. Paviliun yang menjadi cita-cita saya ternyata rata-rata disewakan untuk kantoran. Sekalinya ada, itu pun sedang digunakan oleh si empunya rumah.

Bulan kedua, titik terang sudah mulai tampak. Ada beberapa pilihan rumah kost dan apartemen yang menarik hati saya. Tetapi setelah ditelusuri kembali, ternyata lokasi apartemen tersebut harus melalui jalan 3 in 1. Alih-alih menghilangkan bencana ini sih menuai bencana baru. Pagi hari sih sudah pasti saya selamat, tetapi pulang kantor ? Masa sih saya harus duduk manis menunggu jam 7 malam ? Lagipula jalan yang harus saya lewati, setahu saya jika hujan deras, pasti banjir.

Saya pun menemukan iklan rumah kost yang manis, baik dari sisi desain interior, bentuk rumah, halaman dan fasilitas yang cukup menunjang. Tetapi setelah diteliti kembali, ternyata si induk semang lebih memilih penghuninya selain wanita semua, juga harus seiman. Wah, kriteria wanita semua, saya pasti lolos, tapi seiman ?  Saya pasti tidak akan bisa lolos ke tahap berikutnya.

Sebenarnya, mau campur atau tidak, bagi saya tidak menjadi masalah, selama ada aturan jam malam untuk berkunjung bagi saya itu sudah cukup.

Di kunjungan saya yang kesekian puluh kalinya, saya pun menemukan tempat kost yang sesuai dengan 3 dari 5 kriteria saya. Setelah berbasa-basi dengan si induk semang, terungkaplah bahwa jalanan rumah kost ini jika musim hujan selalu kena banjir. Tetapi, kata si induk semang, ‘Anak-anak yang kost disini tidak mau pindah lho Bu, bahkan mereka khusus bikin gerobak untuk menerjang banjir. Untuk mobil jangan khawatir, mobil Ibu bisa diparkir di rumah saya yang area parkirnya sudah saya tinggikan.’ Dengan berat hati saya pun harus merelakan rumah kost tadi untuk hilang dari list saya. Bukan naik gerobaknya tetapi banjirnya yang tidak tertahankan.

Setelah nyaris putus asa, akhirnya saya menemukan rumah kost yang cukup menarik, selain dekat sekolah si kecil dan jarak yang lumayan dekat dengan lokasi kantor, tingkat keamanannya juga patut diacungi jempol. Kunci kamarnya itu lho, menggunakan teknologi terkini, dengan tingkat pengaman yang bisa disetel sendiri. Namun, setelah saya melakukan kunjungan sekilas, sekali lagi rumah kost ini harus saya relakan. Bukan karena tempat parkirnya yang sempit, melainkan karena dana saya tidak mencukupi untuk membayar sewa bulanannya.

Nah, dalam melakukan perburuan tadi, saya pun akhirnya mengerti, ada 2 jenis rumah kost. Rumah kost a la jaman dulu dan rumah kost modern. Membedakan keduanya, lihat saja dari judul si rumah kost itu. Kalau berjudul Residence, berarti fasilitasnya sekelas semi apartemen.

Pada umumnya rumah kost sekelas Residence tadi, tidak memiliki kamar sewa dengan kamar mandi di luar, tempat parkirnya pun lumayan luas, dan memiliki fasilitas lumayan lengkap. Kamarnya pun tertata a la hotel. Lokasinya pun tidak jauh dari daerah perkantoran, seperti Setiabudi atau Kebayoran.

Saya pun mengerti bahwa ternyata tidak ada rumah kost – semodern apa pun – yang bisa memenuhi kelima kriteria rumah  kost idaman saya. Jadi biar bagaimana pun saya harus berkompromi dengan pilihan yang ada.

Dan akhirnya, setelah hampir 3 bulan saya bolak-balik mampir ke laman Paman Google, saya pun menemukan rumah kost idaman saya, kali ini 4 dari 5 kriteria yang saya tetapkan terpenuhi.

Namun tak ada gading yang tak retak, ketika saya dengan teriakan kemenangan bercerita tentang rumah kost idaman saya, rekan-rekan sekantor otomatis berkomentar,”Aduh, mendingan sewa apartemen saja deh, kalau biaya sewa bulanannya sebesar itu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s