Month: February 2014

Believe It or Not – Takdir Menyatukan Kita

Dari sekian banyak kebetulan yang ada, tidak ada satupun yang dirancang oleh manusia. Disadari atau tidak, semuanya berada dalam garis rancangan Tuhan.

Boleh percaya atau tidak, tapi inilah yang terjadi saat saya memilih kamar kost tempat saya bertempat-tinggal hingga hari ini.

Bermula dari keinginan untuk melakukan ‘incognito’ suasana kost di siang hari, saya, si sulung dan sepupu saya mendadak memutuskan meninjau rumah kost pilihan hati sekalian menentukan kamar yang akan dihuni selama si bungsu bersekolah.

Seusai menjelaskan keinginan saya melihat kamar, si pengurus rumah tangga berbaik hati menunjukkan kamar-kamar kosong yang kebetulan berada di lantai dua.

Jadilah kami bertiga melakukan tour de kamar – bagi saya tour de kamar ini merupakan tour de kamar yang kedua kalinya, setelah sebelumnya saya melakukan peninjauan sesaat bersama si bungsu.

Saat itu penghuni kost belumlah sebanyak saat saya masuk, penghuninya masih bisa dihitung dengan jari, sehingga kami beritga dengan bebas berkeliaran melihat-lihat kamar yang akan menjadi pilihan.

Entah kenapa saat itu, si pengurus rumah tidak menunjukkan contoh kamar di lantai satu,  dia tetap dengan pilihannya, sibuk menunjukkan beberapa plihan kamar di lantai dua.

Setelah keluar-masuk beberapa kamar, dari kamar di ujung dekat tangga hingga kamar terakhir dekat dapur, pilihan saya akhirnya jatuh di kamar yang letaknya tidak jauh dari tangga.  Alasannya sederhana, supaya tidak terlalu lelah ketika pulang kantor – maklum naik tangga terakhir hanya dilakukan ketika SMA.

Tetapi, bukan saya namanya kalau tidak dilanda keraguan, apalagi suasana kamar di lantai satu dengan teras yang menyatu dengan rerumputan hijau dan tanaman lainnya begitu menggoda.

Jadilah saya terombang-ambing antara pilihan kamar di lantai bawah atau di lantai atas, antara teras yang menyatu dengan taman kecil versus balkon dengan pemandangan gedung-gedung bertingkat dan hijaunya pepohonan (maklum di sebelah Residence ini belum ada bangunannya, sehingga tidak ada penghalangnya – entah nanti).

Setelah menimbang kiri –  kanan, antara tingkat kelelahan versus kecepatan mencapai halaman, antara teras dengan halaman kecil versus balkon dengan pemandangan luas, ahirnya saya memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke pemilik rumah.

Isinya, saya ingin kamar yang dekat dengan router Wifi, alasannya sederhana agar kenikmatan menjelajah dunia maya tidak terganggu – dengan embel-embel urutan kamar kalau bisa berada di urutan tengah, terlepas di lantai satu atau lantai dua.

Terus terang ketika saya mengirimkan pesan tersebut, saya berharap si pemilik rumah menjawab bahwa kamar yang saya inginkan ada di lantai satu – walaupun saya tahu si bungsu berkeras memilih kamar di lantai dua karena jatuh cinta dengan pemandangan tak terbatas dari kamar.

Namun seperti kata pepatah, ‘Manusia berencana, Tuhan yang menentukan’, begitulah yang terjadi dengan pilihan kamar yang tersedia. Menurut si empunya pemilik rumah, kamar yang letaknya dekat dengan router Wifi ada di lantai dua dan kamar itu pun letaknya tidak jauh dari tangga, ada di urutan kedua setelah sampai di puncak anak tangga. Kamar yang ada di lantai satu masih ada, tapi letaknya agak jauh dari router Wifi di samping agak di ujung dekat dapur.

Apa boleh buat, Tuhan yang menentukan, dan si bungsu pun bersorak gembira, kamar yang diidamkannya sesuai dengan pilihannya, dekat dengan router Wifi dengan pemandangan tak terbatas.

Dan ternyata dibalik pilihan Tuhan tadi, ternyata ada hikmahnya tersendiri.

Percaya atau tidak, seperti sudah direncanakan, para penghuni lantai dua hampir semuanya hobby memasak, baik si Perancis – oh ya, penghuni lantai dua ini multi bangsa – si Spanyol maupun si Indonesia.

Dapurnya pun entah kenapa berbeda dengan dapur di lantai satu, dapur di lantai dua seolah-olah sudah dirancang sedemikian rupa agar bau masakan yang beraneka ragam bisa dengan mudah ditiup angin – dengan dua jendela serta pintu yang mengarah ke area terbuka, benar-benar sempurna.

Dapur di lantai dua pun menjadi ajang para penghuninya bercengkerama, saling bertukar-cerita, menyapa, atau berdiskusi tentang apa saja – dari yang ringan dan lucu hingga yang serius.

Kami pun – para penghuni lantai dua – sering membandingkan keberadaan kita semua dengan penghuni lantai satu dan tentu saja menyatakan keheranan yang tidak ada habisnya, ‘koq bisa ya, semua yang hobby memasak bisa disatukan di lantai dua ?’

Believe it or Not ….

Bertemu Rumah Kost Idaman

Seperti lirik lagu Afgan, “Jodoh Pasti Bertemu”, begitulah saya menemukan rumah kost idaman saya.

Pertamakali saya bertemu dengannya persis seperti cerita perjodohan Siti Nurbaya, lewat foto yang terpampang di laman Paman Google. Foto yang menampilkan teras serta hijaunya rumput serta pepohonan langsung membuat saya jatuh hati. Tetapi entah kenapa saat itu saya memutuskan untuk mencoba mencari yang lain, lebih tepatnya tetap berusaha menemukan paviliun idaman.

Namun, mungkin ini yang namanya jodoh, setiap kali saya berkunjung ke laman Paman Google, tetap saja tautan dari foto itu muncul di halaman yang saya buka, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi si pemilik rumah dan membuat janji untuk bertemu.

Di hari libur Pentakosta – Hari raya kenaikan Isa Almasih ke Surga – saya memutuskan berkunjung bersama si kecil dan Ibu saya, maklum restu Ibu tetap saya butuhkan, kebiasaan yang susah saya hilangkan.

Begitu bertemu- persis seperti saat melihat fotonya- rasa cinta saya semakin menebal. Betapa tidak, rumah kost ini baru selesai dibangun dan arsitektur bangunannya benar-benar memperhatikan tingkat kenyamanan, kepraktisan dan kebersihan (kriteria pertama saya).

Bangunan ini terdiri atas 2 lantai, setiap kamar di lantai pertama memiliki teras dan halaman tentunya, sedangkan kamar di lantai dua 9 dari 11 kamar di lantai dua memiliki balkon dan hanya 3 kamar yang tidak memiliki balkon

Kamar yang tidak memiliki balkon memiliki kelebihannya sendiri, dari sisi luas dan tentu saja mungkin harganya  – khusus yang tidak memiliki balkon tidak pernah saya utak-atik dan saya tanyakan, disamping sudah berpenghuni juga tidak masuk dalam kriteria saya.

Masing-masing kamar memiliki kamar mandi dalam, air panas dan air dingin. Interior kamar mandinya seperti layaknya hotel berbintang lima dan bergaya minimalis.

Tidak saja kamar mandi, perlengkapan kamarnya pun tertata selayaknya hotel berbintang lima, dengan tempat tidur ukuran queen, lemari pakaian, buffet dan meja di samping tempat tidurnya, benar-benar didisain dan dikerjakan khusus.

Televisi beserta fasilitas TV Kabel dan Wifi, sudah otomatis menjadi satu paket.

Rumah kost ini memiliki area bersama yaitu dapur, tempat mencuci pakaian dan tempat menjemur baju disamping area parkir tentunya.

Fasilitas dapur yang disediakan buat saya benar-benar nyaman, lemari es, kompor, microwave, air minum  dan peralatan dapur disamping meja makan kecil jika si penghuni ingin makan di luar kamar.

Area mencuci  pun cukup luas dengan mesin cuci yang cukup besar serta perlengkapan menyetrika baju. Area menjemur baju juga tersendiri, luas dan tertata rapi.

Pemilik rumah kost ini pun menyediakan ruang tamu bagi penghuninya, masing-masing lantai memiliki ruang tamunya sendiri-sendiri. Khusus untuk ruang tamu lantai bawah, ukurannya lebih luas dari lantai atas. Wajar saja, karena lantai bawah berperan sebagai lobby – jika disetarakan dengan hotel.

Ibu dan si kecil yang turut menemani saya melihat rumah sementara kami, langsung jatuh cinta, karena bentuk bangunannya mirip rumah kami di pinggiran kota, tanpa pagar, tidak gersang, dan hijau sejauh mata memandang.

Saya benar-benar tidak menyangka bisa bertemu rumah kost idaman saya.

Saya jadi teringat lirik lagu Afghan – Jodoh Pasti Bertemu –  “Jika aku memang ercipta untukmu, ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu.”

Bayangkan semua itu seperti sudah ditakdirkan oleh Yang Empunya Manusia, tiga bulan saya mencari, bolak-balik berkunjung ke laman Paman Google, dan selama itu pula si foto rumah ini selalu muncul di setiap laman yang saya buka.

Bahkan setelah rumah ini masuk dalam list pilihan saya dan perhatian saya teralihkan oleh yang lain, foto dari rumah ini tetap setia menyapa saya.

Dan bukan itu saja, menghubungi si pemilik rumah pun tidak semudah pemilik rumah kost lainnya, saya memerlukan waktu lebih dari 3 kali, hingga akhirnya bisa membuat janji bertemu dan berkunjung.

Pencarian dengan akhir cerita yang memuaskan, rumah kost yang bersih, hijau, fasilitas layaknya hotel bintang lima, memiliki balkon (anak saya lebih memilih tinggal di atas), disamping jam berkunjung yang lumayan ketat – pukul 10 malam batas akhir tamu berkunjung.

Hm …. rumah kost modern aka Residence.

Perburuan Mencari Rumah Kost

Ternyata memilih tempat kost itu mirip seperti memilih pasangan hidup, setidaknya begitulah menurut saya.

Bayangkan, sebelum memilih tempat kost,  setidaknya saya harus menentukan kriteria  tempat kost yang akan saya tinggali nantinya, apalagi tempat kost ini akan saya tinggali dalam waktu cukup lama. Setelah kriteria itu terpenuhi – atau setidaknya 90% terpenuhi – maka dimulailah pendekatan awal dengan si induk semang.

Pendekatan awal yang dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya sebelum akhirnya menandatangani selembar surat kontrak, tetap saja memerlukan unsur cek dan ricek, demi menghindari kekecewaan di kemudian hari.

Proses yang tidak pernah saya bayangkan ketika saya memutuskan untuk menyewa kamar aka kost sebagai pilihan akhir bertempat-tinggal di tengah kota.

Sebelum saya akhirnya menentukan pilihan saya di tempat yang sekarang ini, seperti biasa, saya berkunjung ke paman google, memasukkan kata kunci, dan ‘voila’ keluarlah berbagai macam iklan rumah kost.

Rasanya seperti berada di negara antah berantah saat saya membaca iklan-iklan rumah kost itu, nyaris tidak ada yang bisa saya pahami bahasanya. Kata-kata yang saya pahami hanyalah kamar, tempat tidur, fasilitas, wifi gratis, dapur, hanya itu, selebihnya saya harus meraba-raba makna dibalik kalimat iklan tersebut.

Untungnya paman Google berbaik hati meminjamkan foto-foto dari si pemasang iklan itu, sehingga saya akhirnya menemukan jawabannya.  Penggambaran yang tertulis versus foto adalah dua hal yang harus dicermati ketika pilihan sudah ditetapkan berdasarkan kriteria awal, itulah pengalaman awal saya dalam berburu rumah kost.

Sesudah lokasi, jarak tempuh antara rumah kost dan sekolah si kecil, serta kondisi bebas banjir terpenuhi, barulah saya menetapkan kriteria-kriteria tambahannya.

Sebagai orang yang sangat mencintai kehijauan maka kriteria pertama saya adalah kamar kost saya setidaknya harus memberikan ruang gerak dan beranda tempat saya bisa duduk-duduk menikmati sisa hari yang tersisa, alangkah lebih baik jika mata saya masih bisa menangkap hijaunya rumput dan pepohonan.

Kriteria kedua, karena saya bersama si kecil, tentu saja harus ada jam berkunjung yang jelas, pengiklan yang jelas-jelas menyatakan jam kunjungan bebas, otomatis tereliminasi oleh saya. Bukan apa-apa, saya tidak bisa membayangkan kegaduhan rumah kost tersebut, bisa-bisa si kecil tidak bisa belajar dengan tenang atau saya yang setiap saat terbangun akibat sensitifitas telinga.

Kriteria ketiga, fasilitas yang tersedia di dalam kamar, bagian ini adalah bagian yang tersulit, karena mencakup kamar mandi, tempat tidur, lemari, meja dan tentu saja disain interior kamar. Untuk yang satu ini, saya benar-benar menggantungkan kepercayaan saya kepada Paman Google, karena hanya lewat dialah saya bisa melihat-lihat dan membayangkan bentuk kamar yang akan saya tempati dalam jangka waktu cukup lama.

Kriteria keempat, area parkir, karena saya membawa mobil dan agak sedikit menderita penyakit kebersihan maka tempat parkir dan kesempatan mencuci mobil masuk dalam perhitungan saya. Begitu pula dapur,  kost tidak berarti saya harus membeli makanan siap saji setiap saat, apalagi saya dan si kecil terbiasa membawa bekal ke kantor. Jadi fasilitas dapur yang disediakan si pemilik menjadi catatan tambahan untuk saya.  Di samping tentu saja, fasilitas mencuci baju, saya tidak bisa membayangkan setiap saat harus membawa baju saya ke tempat laundry kiloan atau mengumpulkan baju selama seminggu untuk dicuci di rumah.

Kriteria kelima, yang ini memang agak nyeleneh, siapa tahu saya diperbolehkan membawa kedua anjing tercinta saya. Kriteria yang benar-benar nyeleneh, karena apartemen yang ‘pet friendly’ saja hanya satu di Jakarta, apalagi rumah kost, boro-boro bisa ‘pet friendly’. Makanya saya selalu berharap bisa bertemu dengan iklan yang berbunyi ‘Dikontrakan paviliun 1 kamar, 1 dapur, garasi dan halaman tersendiri.’

Hampir selama tiga bulan – disela-sela mengerjakan pekerjaan rutin di kantor – saya bolak-balik berkunjung ke Paman Google, membandingkan pesan tersirat versus pesan tersurat para pengiklan itu.

Saya pun tidak berharap semua kriteria saya terpenuhi, namun setidaknya 3 dari 5 kriteria bisa terpenuhi saja, bagi saya itu sudah sangat menyenangkan.

Bulan pertama, rasanya tidak ada satupun iklan yang sesuai dengan pilihan saya. Paviliun yang menjadi cita-cita saya ternyata rata-rata disewakan untuk kantoran. Sekalinya ada, itu pun sedang digunakan oleh si empunya rumah.

Bulan kedua, titik terang sudah mulai tampak. Ada beberapa pilihan rumah kost dan apartemen yang menarik hati saya. Tetapi setelah ditelusuri kembali, ternyata lokasi apartemen tersebut harus melalui jalan 3 in 1. Alih-alih menghilangkan bencana ini sih menuai bencana baru. Pagi hari sih sudah pasti saya selamat, tetapi pulang kantor ? Masa sih saya harus duduk manis menunggu jam 7 malam ? Lagipula jalan yang harus saya lewati, setahu saya jika hujan deras, pasti banjir.

Saya pun menemukan iklan rumah kost yang manis, baik dari sisi desain interior, bentuk rumah, halaman dan fasilitas yang cukup menunjang. Tetapi setelah diteliti kembali, ternyata si induk semang lebih memilih penghuninya selain wanita semua, juga harus seiman. Wah, kriteria wanita semua, saya pasti lolos, tapi seiman ?  Saya pasti tidak akan bisa lolos ke tahap berikutnya.

Sebenarnya, mau campur atau tidak, bagi saya tidak menjadi masalah, selama ada aturan jam malam untuk berkunjung bagi saya itu sudah cukup.

Di kunjungan saya yang kesekian puluh kalinya, saya pun menemukan tempat kost yang sesuai dengan 3 dari 5 kriteria saya. Setelah berbasa-basi dengan si induk semang, terungkaplah bahwa jalanan rumah kost ini jika musim hujan selalu kena banjir. Tetapi, kata si induk semang, ‘Anak-anak yang kost disini tidak mau pindah lho Bu, bahkan mereka khusus bikin gerobak untuk menerjang banjir. Untuk mobil jangan khawatir, mobil Ibu bisa diparkir di rumah saya yang area parkirnya sudah saya tinggikan.’ Dengan berat hati saya pun harus merelakan rumah kost tadi untuk hilang dari list saya. Bukan naik gerobaknya tetapi banjirnya yang tidak tertahankan.

Setelah nyaris putus asa, akhirnya saya menemukan rumah kost yang cukup menarik, selain dekat sekolah si kecil dan jarak yang lumayan dekat dengan lokasi kantor, tingkat keamanannya juga patut diacungi jempol. Kunci kamarnya itu lho, menggunakan teknologi terkini, dengan tingkat pengaman yang bisa disetel sendiri. Namun, setelah saya melakukan kunjungan sekilas, sekali lagi rumah kost ini harus saya relakan. Bukan karena tempat parkirnya yang sempit, melainkan karena dana saya tidak mencukupi untuk membayar sewa bulanannya.

Nah, dalam melakukan perburuan tadi, saya pun akhirnya mengerti, ada 2 jenis rumah kost. Rumah kost a la jaman dulu dan rumah kost modern. Membedakan keduanya, lihat saja dari judul si rumah kost itu. Kalau berjudul Residence, berarti fasilitasnya sekelas semi apartemen.

Pada umumnya rumah kost sekelas Residence tadi, tidak memiliki kamar sewa dengan kamar mandi di luar, tempat parkirnya pun lumayan luas, dan memiliki fasilitas lumayan lengkap. Kamarnya pun tertata a la hotel. Lokasinya pun tidak jauh dari daerah perkantoran, seperti Setiabudi atau Kebayoran.

Saya pun mengerti bahwa ternyata tidak ada rumah kost – semodern apa pun – yang bisa memenuhi kelima kriteria rumah  kost idaman saya. Jadi biar bagaimana pun saya harus berkompromi dengan pilihan yang ada.

Dan akhirnya, setelah hampir 3 bulan saya bolak-balik mampir ke laman Paman Google, saya pun menemukan rumah kost idaman saya, kali ini 4 dari 5 kriteria yang saya tetapkan terpenuhi.

Namun tak ada gading yang tak retak, ketika saya dengan teriakan kemenangan bercerita tentang rumah kost idaman saya, rekan-rekan sekantor otomatis berkomentar,”Aduh, mendingan sewa apartemen saja deh, kalau biaya sewa bulanannya sebesar itu.”